Jakarta- Pemerintahan Joko Widodo yang justru membuka lebar kerjasama dengan Tiongkok diingatkan untuk berhat-hati apalagi berbagai proyek-proyek sebelumnya tidak sesuai dengan harapan. Apalagi pemerintah mengambil pinjaman dari Tiongkok hingga mencapai Rp 647 Triliun.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan pemerintah semestinya harus melihat berbagai sudut pandang dengan teliti ketika membangun kerjasama dengan suatu negara termasuk Tiongkok. Rekam jejak berbagai kerjasama yang sudah dilakukan dengan Tiongkok semestinya pemerintah sudah dapat melihat dengan jelas terhadap fakta kerjasama yang terjadi.

Menurut Eny, jika dilihat dari realisasi investasi maka Tiongkok merupakan negara yang paling rendah dalam perwujudan investasi dibandingkan Jepang. Hal demikian sudah terang benderang diketahui dari berbagai proyek yang sudah dilakukan yakni Pembangkit listrik “Fast Track Program” (FTP) dengan mutu rendah. Bahkan beberapa proyek tersebut terhenti di tengah pekerjaan dan tidak sesuai dengan rencana semula.

Eny mencontohkan dengan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt,  awalnya yang direncanakan untuk gas namun ternyata pengerjaannya alat-alatnya tidak baik bahkan dalam pengoperasiannya harus menggunakan bahan bakar minyak. Sehingga menyebabkan kerugian besar bagi PLN.

Contoh lainnya bagi Eny adalah kerjasama dengan Tiongkok seperti import bus Transjakarta walaupun dengan  harga murah.  Namun bus-bus tersebut ternyata tidak berumur lama seperti yang terjadi sekarang ini.  “Semua itu harus menjadi referensi kita bagaimana track record Tiongkok selama ini,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (9/5/2015).

Ketika membangun kerjasama dengan suatu negara, lanjut Eny, pemerintah semestinya memperhatikan dari segi spesialisasi keunggulan yang dimiliki oleh negara terkait seperti ketika bermaksud membangun kerjasama untuk industri otomotif. Keunggulan dan rekam jejak negara-negara itu semestinya menjadi referensi pemerintah.

Menurut Eny, pemerintah juga harus melihat dari segi kepentingan nasional dalam perkembangan ekonomi domestik. Ketika menjalin suatu negara, tambah dia, faktanya juga akan berdampak terhadap Indonesia dari perkembangan ekonomi global. Secara sederhana, imbuh Eny, masyarakat awam sebenarnya sudah mampu menimbang tentang Tiongkok seperti produk-produk yang dihasilkan Tiongkok dan ternyata berkualitas rendah.

Sementara beberapa waktu lalu, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ecky Awal Mucharam juga mengingatkan kepada Presiden Jokowi tentang berhati-hati menjalin kerjasama ekonomi dengan Tiongkok. “Pemerintah RI harus berhati-hati melakukan kerjasama, apalagi bersifat pinjaman kepada Tiongkok,” katanya.

Senada dengan INDEF, Ecky mengingatkan  pengalaman buruk dari kerjasama yang sudah dilakukan dengan Tiongkok seperti proyek pembangunan pembangkit listrik Fast Track Program (FTP) 10.000 MW. Bahkan, tambah Ecky,  faktor kapasitas dari proyek tersebut sangat rendah, hanya 35-50 persen, seperti yang dilaporkan Bappenas.

Ecky menuturkan pemerintah semestinya memastikan kualitas dan ketepatan waktu proyek tersebut. Faktor lainnya adalah memastikan penyerapan tenaga kerja dan tingkat kandungan dalam negeri termasuk memastikan transfer teknologi dan pengetahuan.

Menurut dia, nyatanya pinjaman dari Tiongkok tetap adalah utang yang harus dibayar oleh anak cucu Indonesia. Sedangkan Tiongkok tidak mau memberi utang tanpa dapat keuntungan melalui proyek-proyek. Celakanya, tambah dia, jika Indonesia berutang tapi barang yang diberikan memiliki kualitas yang buruk.

Belum lama ini, Pemerintah sudah menyepakati kerjasama dengan Tiongkok dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Proyek-proyek yang dimaksud meliputi pembangunan 24 pelabuhan, 15 pelabuhan udara, pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer (km), pembangunan jalan kereta sepanjang 8.700 km, dan pembangunan pembangkit listrik  berkapasitas 35 ribu megawatt

– See more at: http://www.erabaru.net/detailpost/pemerintah-diimbau-berhatihati-kerjasama-dengan-tiongkok#sthash.jir9qClc.dpuf

Share

Video Popular