Zhuang Zhengming

Menyusul pemecatan Xu Caihou, mantan Wakil Ketua Komisi Militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tahun lalu, baru-baru ini terhadap pengganti Xu, Jenderal Guo Boxiong juga mengalami nasib serupa. Media Jepang dalam artikelnya menyebutkan bahwa pemecatan mereka berdua mencerminkan tekad Xi Jinping untuk memutus kendali Jiang Zemin atas penguasaan militer Tiongkok.

“Semua hanya merupakan langkah awal,” kata ulasan itu.

Jiang Zemin melalui tangan kedua jenderal itu telah mengendalikan militer Tiongkok selama belasan tahun, juga telah menjadi halangan dalam kepemimpinan Hu Jintao.

Menurut berita yang dirilis media PKT pada 30 Juli 2015 malam, Guo Boxiong dipecat dari PKT akibat terlibat dalam masalah penyuapan serius dan kasusnya kini sedang diproses di pengadilan tinggi Tiongkok. Pemecatan Guo menarik perhatian sejumlah media asing.

Artikel dalam media Jepang ‘The Diplomat’ pada 3 Agustus 2015 menyebutkan bahwa pemecatan Guo dan almarhum Xu Caihou dari PKT sudah cukup mewakili terputusnya penguasaan Jiang Zemin atas militer Tiongkok selama 13 tahun.

Laporan itu menyebutkan, Xi Jinping memang bertekad untuk mencopot kedua orang tersebut setelah mereka pensiun. Mencerminkan keinginan kuat Xi untuk memutus tali kendali Jiang Zemin atas militer Tiongkok. Namun kalau ditilik dari masalah pembasmian korupsi dalam tubuh militer, maka ini hanyalah sebuah langkah awal. Selama 16 tahun terakhir, mereka berdua menjadi pejabat tinggi militer yang paling korup.

Baik Guo maupun Xu adalah perwakilan Jiang Zemin di militer. Jiang Zemin selaku Ketua PKT pada September 1999 memasukkan mereka ke Komisi Militer. Sidang Paripurna ke 16 PKT yang diselenggarakan pada November 2002 menghasilkan keputusan berupa Jiang Zemin tetap sebagai Ketua Komisi Militer, Xu Caihou diangkat sebagai Ketua Politburo, dan Guo Boxiong sebagai Wakil Ketua Dua Komisi Militer (setelah Hu Jintao). Setelah Hu Jintao mengambil alih jabatan Ketua Komisi Militer pada September 2004, Guo dinaikkan menjadi Wakil Ketua Satu, begitu pula Xu Caihou. Mereka berdua sama telah dilengserkan melalui Sidang Paripurna ke 18 PKT yang diselenggarakan pada November 2012.

Militer Tiongkok dalam kurun waktu yang cukup lama terus dikendalikan oleh orang-orang dari kelompok Jiang Zemin, terutama di masa Xu dan Guo berkuasa kejadian makin menonjol, sampai-sampai mampu membuat rezim Hu Jintao menjadi lumpuh. Korupsi, jual-beli jabatan dalam pemerintahan merajalela. Orang-orang pilihan mereka didudukkan di posisi penting dalam instansi militer.

Dalam siaran TV Phoenix Hongkong program wawancara pada 9 Maret, mantan Mayor Jenderal Yang Chunzhang mengatakan bahwa jual-beli jabatan sangat populer terjadi di masa Xu berkuasa. Mereka memberlakukan tarif sampai jutaan Yuan untuk suatu posisi baik di instansi militer, termasuk kepolisian, Tentara Pembebasan Rakyat. Berapa tarifnya untuk masuk anggota PKT, berapa tarif untuk jabatan di tingkat perusahaan, berapa tarifnya untuk jabatan kader tingkat grup, tingkat divisi dan seterusnya.

Yang Chunzhang kemudian menjelaskan, bahwa militer sudah menjadi seperti milik mereka, sampai-sampai mereka bisa melemahkan kekuasaan Ketua Komisi (Hu), masalahnya itu memang rumit. Setelah Xu terkena masalah, orang-orang sekeliling berkomentar bahwa kekuasaan mereka memang terlampau absolut. Menurut sistem promosi pejabat tinggi militer diperlukan persetujuaan dari 2 orang Wakil Ketua Komisi Militer.

2 hari setelah Guo dipecat yakni 31 Juli, Xi Jinping selaku Ketua Komisi Militer hadir dalam acara pengangkatan sejumlah perwira militer yang diselenggarakan di Wisma 81, Beijing dan berpidato.

Di hari yang sama, pihak militer Tiongkok juga mengumumkan tentang hasil pemeriksaan terhadap sejumlah kasus yang melibatkan perwira militer dan memberikan gambaran bahwa berbagai kasus kejahatan memaksa rezim untuk memecat lebih dari 40 pejabat tinggi militer yang diangkat melalui Siidang Paripurna ke 18 PKT.

Komentator politik Zhou Xiaohui mengatakan, Xi Jinping melalui pemecatan Xu dan Guo untuk menciptakan efek ancaman kepada para perwira lainnya, juga dimanfaatkan untuk menempatkan orang-orang kepercayaan demi mempercepat progres penataan negara, melenyapkan pengaruh Jiang Zemin sekaligus melemahkan ancaman yang mungkin datang dari militer.

Di samping itu, tindakan juga membawa efek peringatan kepada orang-orang dari kelompok Jiang yang didatangkan ke Beidaihe untuk berulah. Menjelang pertemuan Beidaihe, kasus Zhou Yongkang divonis, Sekretaris Komite Propinsi Hebei Zhou Benshun dicopot, ‘Harimau mati’ Guo Boxiong dipecat guna memuluskan jalan yang mungkin akan menelurkan keputusan penting melalui pertemuan Beidaihe, demikian penjelasan Zhou Xiaohui. Ada isu yang beredar bahwa pertemuan Beidaihe dimulai pada 3 Agustus 2015. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular