Situs resmi Daratan Tiongkok pada 26 Juli 2015 memberitakan, seorang wanita warga Ningbo beberapa waktu lalu melahirkan anak keduanya yang kembar 4 putri. Disebutkan bahwa bayi-bayi itu mungkin akan celaka bila mereka dilahirkan 25 tahun yang lalu. Jangankan bayi putri, bayi lelaki pun tidak akan diijinkan lahir karena adanya ‘kebijakan 1 anak’.

Mereka sudah pasti akan diaborsi paksa oleh petugas dari Dinas Keluarga Berencana. Meskipun pemerintah Tiongkok secara resmi belum pernah mengumumkan soal kematian bayi yang berkaitan dengan ‘kebijakan 1 anak’.

Tetapi seorang imigran asal Tiongkok yang kini tinggal di Denmark, Mr. Yang Guang melalui jalur teman baiknya memperoleh informasi tentang jumlah kematian janin dan bayi yang dihimpun pada 3 tahun lalu. Lebih 400 juta jiwa melayang selama 10 – 20 tahun ‘kebijakan 1 anak’ itu berlaku.

Media resmi pada 10 Juli lalu melaporkan bahwa Ketua Dinas Kesehatan Nasional dan Komisi Keluarga Berencana Tiongkok, Yang Wenzhuang dalam menanggapi isu-isu anak kedua berkaitan dengan liberalisasi penuh kebijakan ‘Keluarga Berencana’ mengatakan bahwa pemerintah berencana untuk menyesuaikan kebijakan agar perkembangan populasi lebih seimbang.

Sejak paruh kedua 1979, seluruh daerah perkotaan dan pedesaan Tiongkok diharuskan untuk menerapkan ‘kebijakan 1 anak’. Beberapa daerah sampai menggunakan aborsi paksa, sterilisasi paksa, dan membunuh bayi dengan cara lain adalah hal yang biasa.

Seorang aktivis wanita Shanghai bernama Mao Hengfeng yang pernah mengalami aborsi paksa menceriterakan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa saat itu ia sedang mengandung janin kembar yang sudah berusia 7,5 bulan, dibawa paksa oleh petugas ke lokasi untuk menjalani aborsi. Berikut rekamannya.

“Mereka secara paksa membawa saya ke lokasi aborsi, saat itu saya mengalami pendarahan hebat. Sesaat bayi dikeluarkan dari rahim, saya masih mendengar tangisannya lalu saya melihat ia dibawa oleh petugas ke ember yang berisi air, kepalanya lalu dicelupkan ke dalam air. Sangat tragis! janin hidup yang sudah berusia 7.5 bulan bagaimanapun juga sudah bisa meronta ketika kepalanya dicelupkan dalam air, saya melihat dokter mengambil kain kasar di tangan untuk membungkus tubuh bayi dan mengangkatnya dari air, kemudian ia mencelupkan kembali kepala bayi saya ke dalam air. Begitulah ! Selama kebijakan itu tidak dirubah, maka korban bisa mencapai ratusan juta, ada yang terungkap tetapi sebagian besarnya tidak. Ada keluarga yang anak bersama orangtuanya menemui ajal hanya karena kebijakan pemerintah. Sunggug tragis !”

Situasi seperti ini sering terjadi pada masa itu. Mr. Yang Guang beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa ia melalui kenalannya yang sekarang menjadi dokter rumah sakit Kepala Bagian Kesehatan Ibu dan Anak, juga bertanggung jawab atas penghimpunan data kematian janin dan bayi akibat aborsi di seluruh wilayah Daratan Tiongkok. Melalui temannya itu ia memperoleh angka kematian yang disebutkan di atas. Jumlahnya yang besar sungguh memprihatinkan. Berikut rekamannya.

“Petugas dari Rumah Sakit Kesehatan Ibu dan Anak langsung melakukan aborsi paksa terhadap wanita hamil tangkapan petugas Dinas KB. Ada janin yang berusia kandungan di atas 8 bulan, akhirnya yang mati adalah bayi dan ibunya. Kematian dalam kasus seperti ini besar sekali jumlahnya. Dokter wanita Rumah Sakit Kesehatan Ibu dan Anak yang bertanggung jawab atas pendataan mengatakan bahwa angka tindak aborsi yang tercatat baik dari rumah sakit maupun klinik di seluruh negeri sudah melebihi 400 juta. Angka yang mereka miliki itu adalah angka himpunan 3 tahun lalu lho ! Belum termasuk yang belakangan.”

Di samping itu, plasenta bayi dibuat untuk ekstrak plasenta yang dijual dengan harga mahal untuk konsumsi para pejabat senior PKT. Berikut rekamannya.

Dokter wanita itu mengatakan bahwa janin yang digugurkan itu kemudian diproses untuk dijadikan ekstrak plasenta dan digembar gemborkan bermanfaat demi kesehatan ibu dan janin, untuk meningkatkan stamina pria dewasa yang khusus dijual dengan harga tinggi kepada para pejabat senior PKT, termasuk cairan injeksi plasenta, ‘Pil Bayi Sehat’ dan sebagainya.

Selama 66 tahun negeri Tiongkok dikuasai oleh rezim komunis, mereka mengukir sejarah selain dengan pertumpahan darah juga pembohongan publik. Berapa banyak darah rakyat Tiongkok yang mengalir secara sia-sia selama Partai Komunis Tiongkok berkuasa? (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular