Melansir laporan media luar negeri, bahwa teori penelitian terbaru ilmuwan sekarang menunjukkan, saat lubang hitam menemui ajalnya mungkin akan menjadi “lubang putih”, dan secara teori perilakunya sama sekali tidak sama dengan lubang hitam, lubang putih tidak menyerap semua materi di dekatnya, tapi justru memuntahkan semua materi yang pernah dilahap lubang hitam sebelumnya.

Teori ini didasarkan pada teori kuantum gravitasi spekulatif, dimana menurut ilmuwan, teori terkait mungkin dapat membantu memastikan apakah lubang hitam menghancurkan semua materi yang pernah dilahapnya yang sejak lama dipenuhi dengan perdebatan sengit tentangnya.

Menurut teori terkait, lubang putih akan memuntahkan semua materi yang ditelan lubang hitam. Para peneliti berspekulasi bahwa transisi lubang hitam bagi pergantian lubang putih telah muncul sejak tahap pembentukan lubang hitam, tetapi karena ruang ekspansi gravitasi, lubang hitam bagian luar yang diamati akan terus berlangsung selama miliaran atau triliunan tahun.

Jika para peneliti itu benar, lubang hitam mini yang terbentuk dalam tahap sejarah awal alam semesta, maka saat ini mereka akan menyemburkan materi secara bertubi-tubi seperti petasan, dimana para peneliti dapat mendeteksi sinar kosmik energi tinggi atau radiasi lainnya.

Dengan menggunakan teleskop NuStar milik NASA dan detector XMM-Newton dari European Space Agency, sebuah tim peneliti internasional mengamati lubang hitam supermasif di sekitar pusat galaksi melepaskan sinar-X energi tinggi.

Astronom Christopher Reynolds dari University of Maryland, AS menuturkan, bahwa perhitungan menunjukkan kecepatan putar lubang hitam hampir 1.78 miliar km/jam kecepatan cahaya, dan ini merupakan pertama kalinya secara samar-samar berhasil mengukur kecepatan putar lubang hitam supermasif.

Massa super lubang hitam adalah jutaan bahkan miliaran kali lipatnya massa matahari,  sehingga dianggap tersembunyi di setiap pusat galaksi. Massa mereka sangat padat, memiliki gaya tarik gravitasi yang kuat, bahkan cahaya sekali pun tidak dapat lolos darinya. Saat ini, studi terbaru terkait dipublikasikan di majalah “Nature” edisi terbaru. (tech.qq/jon/ran)

Share

Video Popular