Susan Greenfield, seorang neuroscientist top (ahli ilmu saraf) dari Oxford University telah lama fokus pada penelitian yang mendalam mengenai bahaya yang disebabkan komputer dan internet terhadap otak manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, ia pernah mengingatkan orang-orang agar meningkatkan kesadaran terhadap potensi ancaman tersebut di media setempat atau ketika mengadakan seminar.

Menurut Greenfield, meningkatnya penggunaan ponsel pintar dan jejaring sosial akan membuat orang-orang terjerumus ke dalam suatu “realita digital yang tidak pernah memuaskan mereka”, selain itu,  fenomena ini juga akan membuat daya ingat orang-orang mengalami penurunan, menyusutkan ketrampilan sosial masyarakat, bahkan pada akhirnya menyebabkan daya kerja otak mulai menyusut.

“Sebenarnya, beberapa aspek yang kami kemukakan di atas merupakan kekhawatiran rata-rata para orang tua terhadap perangkat pintar yang digunakan anak-anak mereka,” ungkapnya.

Sebagai seorang ahli saraf terkemuka, pernyataan Greenfield di atas jelas akan diakui oleh banyak tokoh dari kalangan internal. Saat ini, ada banyak pemilik blog yang terkenal dan tokoh peneliti lainnya rata-rata menyebutkan, bahwa peringatan yang dikemukakan Greenfield memiliki bukti yang cukup mendukung.

Dalam buku baru karangan Greenfield yang berjudul “Mind Change”, ia mencoba untuk menjelaskan teorinya secara komprehensif, dan telah melakukan penjelasan rinci dari perspektif psikologi dan neurology.

Misalnya, Greenfield lebih dulu menjelaskan dalam bukunya tentang modus kerja konkret otak manusia, dan otak juga memiliki kemampuan beradaptasi berdasarkan rangsangan eksternal. Selain itu, penggunaan internet dalam jangka waktu yang panjang kemungkinan juga akan mengubah struktur fisik otak manusia.

Greenfield menyebutkan, video game kemungkinan akan menyebabkan sang pemain menjadi kasar secara perilaku (berpotensi bertindak kekerasan), jejaring sosial juga mungkin akan membuat penggunanya menjauhi orang lain dan bertindak ganjil, serta penyalahgunaan mesin pencari akan membuat orang-orang mulai terbiasa “berpikir dangkal”, dan secara bertahap kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam.

Selain itu, dalam bukunya, Greenfield mengambil contoh dua negara Asia Korea Selatan dan Jepang yang paling tinggi rasionya dalam penggunaan internet. Ia mengatakan, bahwa tingkat kelahiran generasi muda di ke dua negara ini rata-rata sangat rendah, karena itu, kami memiliki alasan yang cukup untuk menduga bahwa Internet telah menyebabkan dampak tertentu terhadap kehidupan seks masyarakat. (jon/ran)

Share

Video Popular