Menurut laporan media asing, ilmuwan dari University of Abertay Dundee sedang mengembangbiakkan jantung mini manusia di laboratorium, diameter jantung mini dari hasil pengembangbiakkan sel induk ini tidak lebih dari 1 cm, dapat berdenyut sekitar 30 kali per menit. Mereka mengembangbiakkan jantung mini ini untuk menemukan cara pengobatan hipertrofi jantung, yang dapat menyebabkan penebalan otot jantung, menjadi keras, sehingga sulit bagi jantung untuk memompa darah, bahkan dapat menyebabkan kematian pasien.

Hipertrofi jantung dapat diturunkan, dapat dipicu oleh penyakit diabetes dan penyakit lainnya, terlalu banyak olahraga berat juga dapat menyebabkan penyakit tersebut. Di antara sebagian penderita hipertrofi jantung dapat membentuk denyut jantng abnormal yang mengancam jiwa, dan kondisi seperti ini merupakan penyebab kematian yang paling umum ditemui di antara kalangan anak muda.

Meskipun dapat memberikan terapi pada hipertrofi jantung, tetapi terapi ini hanya dapat membantu mengontrol gejala penyakit, dan hingga saat ini belum ada contoh kasus penyakit terkait yang berhasil diobati.

Namun, jantung mini yang dikembangbiakkan di laboratorium professor Zhelev bisa mengubah semua itu. Profesor Zhelev memberi label pada molekeul specific di dalam jantung mini dengan micro-biosensor, untuk mengetahui cara pengujian. Dengan mengidentifikasi molekul yang menyebabkan hipertrofi jantung, ia akan dapat mengembangkan obat dengan molekul-molekul itu sebagai target, dan mencegah pembesaran jantung.

Profesor Zhelev mengatakan, “Kami telah banyak menguji senyawa yang berbeda, beberapa di antaranya benar-benar baru bagi manusia. Dan ini juga merupakan alasan kami menguji jantung yang dikembangbiakkan di labratorium.”

Beberapa senyawa di antaranya menghasilkan efek yang tidak baik, seperti misalnya meningkatnya jumlah denyut jantung per menit dan membuat mereka berhenti berdetak.

Profesor Zhelev menambahkan, “Kami akan terus menggunakan sistem ini untuk menguji obat baru, untuk menemukan hasil yang lebih baik dan senyawa baru yang lebih sedikit efek sampingnya. Begitu kami secara pasti mengetahui senyawa mana yang efektif dan sebaliknya, kami akan segera mengembangkan obat baru, dan melakukan uji coba lebih lanjut sebelmu diujicobakan pada fisik manusia.”

Meski masih harus menempuh perjalanan yang panjang baru bisa mewujudkan penggunaan obat secara nyata, namun, mereka sangat berharap suatu hari nanti dapat mencegah risiko penyakit akibat hipertrofi jantung. (jon/ran)

Share

Video Popular