Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dalam rapat khusus di kantor Dewan Negara pada Jumat (28/8/2015) mengakui bahwa perekonomian Tiongkok sedang menghadapi suatu tekanan baru. Karena rapat khusus ini baru pertama kali diadakan semenjak Li memangku jabatan PM, beberapa komentator percaya bahwa Tiongkok memang sedang menghadapi krisis pertumbuhan ekonomi yang cukup serius.

Dari foto dan laporan media resmi terlihat bahwa rapat dipimpin langsung oleh PM. Li Keqiang dan dihadiri oleh keempat orang wakilnya, 3 orang anggota dari dewan negara dan Gubernur Bank Sentral Tiongkok Zhou Xiaochuan, Menteri Keuangan Lou Jiwei, Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Xu Shaoshi, Ketua Badan Pengawas Regulator Sekuritas (China Securities Regulatory Commission) Xiao Gang dan lainnya. Dari segi skop rapat, pertemuan ini setara dengan pertemuan antar para eksekutif Dewan Negara. Karena itu beberapa pakar keuangan beranggapan bahwa pertemuan yang khusus diadakan untuk membahas topik sampai masalah pertumbuhan, situasi ekonomi dan keuangan internasional jangka pendek memang sangat langkah terjadi.

Li dalam rapat mengakui bahwa ekonomi Tiongkok sedang menghadapi tekanan baru. Ia juga menyebutkan perlunya dukungan semua pihak agar stablilitas ekonomi makro, stabilitas moneter dan mengupayakan agar depresiasi nilai tukar Renminbi tidak terjadi terus menerus.

Dalam tanggapannya, Ketua Peneliti Makro Mingsheng Sekuritas, Guan Qingyou juga anggota senior peneliti ekonomi makro Zhu Zhenxin beranggapan bahwa sangat besar kemungkinannya tren ekonomi sudah semakin sulit diprediksi, banyak faktor ketidak-pastian membuat siapa saja sulit untuk memprediksi secara sempurna. Ketika tahun lalu semua orang mempermasalahkan penurunan standar cadangan dan PSL (surat promes penambahan dana pinjaman). Tak satupun orang yang mengira Bank Sentral akan mengambil kebijakan untuk menurunkan standar ukuran cadangan dana bagi perbankan serta penurunan suku bunga RMB. Ketika awal tahun pemerintah Pusat sedang ‘bergelut’ dengan masalah besarnya utang pemerintah daerah, pun tak ada orang yang mengira bahwa jumlah kerugian nilai tukar ekuitas tahun ini sudah mencapai RMB. 3.2 triliun.

Laporan Wall Street Journal pada 30 Agustus 2015 mengatakan, seperti apa yang disampaikan oleh Guan Qingyou dan Zhu Zhenxin bahwa ekonomi Tiongkok mengandung terlalu banyak faktor ketidak-pastian, dan jika memaksakan kesimpulan terhadap kebijakannya, maka satu-satunya yang lebih pasti ialah : Apapun kebijakan yang diterapkan oleh rezim, akhirnya juga akan berbasis pada tujuan yang ‘menahan resiko sistemik daerah agar krisis tidak meledak’. Ambil contoh, jika tekanan terhadap hutang daerah sampai menyebabkan terjadinya krisis, maka kerugian pada nilai tukar ekuitas akan semakin besar. bila saja kredit macet perbankan sudah mengancam sistem keuangan negara, maka kita akan melihat lagi versi baru dari QE Tiongkok (Bank sentral secara langsung atau tidak mengambil langkah penyelesaian terhadap hutang macet menempuh cara pada 1998).

Ekonomi Tiongkok sedang menyusut

Akhir-akhir ini pasar saham Tiongkok jatuh, indeks turun dari angka 5.100 poin pada Mei sampai 2.900 poin sekarang. Meskipun pemerintah Tiongkok sudah menghamburkan triliunan Renminbi untuk menolong pasar, namun belum efektif. Belakangan ini, pemerintah berencana untuk mengucurkan lagi dana sekitar 1.4 triliun ke pasar. Untuk merangsang ekspor, Bank Sentral Tiongkok mendevaluasikan RMB sebanyak 3 % pada 11 Agustus lalu.

Untuk menjaga nilai tukar yang lebih stabil (karena pasar domestik Tiongkok sudah memperkirakan devaluasi RMB akan berlanjut menjadi USD.1,- = RMB. 6.5) pemerintahan Xi Jinping terpaksa menguangkan US Treasury Bond bernilai miliaran Dollar AS pada awal Agustus. Sementara itu, ada lembaga keuangan internasional yang memperkirakan bahwa pemerintah Tiongkok setiap bulannya perlu melego cadangan devisanya paling tidak senilai 40 miliar Dollar AS untuk mengintervensi nilai tukar. Dan gara-gara itu, cadangan devisa Tiongkok akan terkuras lagi sebanyak USD. 200 miliar sampai akhir tahun ini.

Ekspor Tiongkok menurun sebesar 8 % pada Juli, jauh lebih tinggi dari perkiraan terdahulu yang cuma 0.3 %. Sementara indeks manufaktur (PMI) Tiongkok bulan Agustus sudah menurun sampai angka 47.1 yang merupakan terendah sejak 6 tahun terakhir. Output pabrik jatuh ke titik terendah, PHK karyawan terus bertambah dan permintaan domestik dan ekspor anjlok lebih parah dari bulan Juli.

Investrasi infrastruktur akan ‘dimainkan’ kembali oleh pemerintah Tiongkok untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi

Jumlah investasi pada infrastruktur akan diperbesar demi pertumbuhan. Menurut laporan ‘National Business Daily’ pada 29 Agustus bahwa “Bidang moneter diandalkan pemerintah komunis untuk menunjang pertumbuhan ekonomi di semester pertama tahun ini, dan hanya bidang infrastruktur yang bisa diandalkan untuk pertumbuhan semester kedua”.

Menurut Guan Qingyou, pertumbuhan ekonomi (PDB) semester kedua mengandung resiko tidak mencapai target yang 7 %. Formula pertumbuhan yang selama ini diandalkan pemerintah, yaitu pertumbuhan ‘real estate + manufaktur + ekspor’ sudah tidak lagi bisa dipertahankan. Upaya untuk mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi hanyalah menambah beban berat. Rupanya nilai tukar, sistem keuangan dan investasi infrastruktur masih saja diandalkan.

Tugas pertumbuhan ekonomi masih dibebankan pada investasi infrastruktur. Nah, bila demikian maka untuk paruh kedua tahun ini dibutuhkan dana investasi sebesar RMB. 534.87 miliar, berarti setiap harinya RMB. 2.93 miliar.

Kepala ekonom UBS Sekuritas Wang Tao menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi kwartal ketiga Tiongkok besar kemungkinannya tidak bisa mencapai 7 %.

“Kami masih bertahan dengan prakiraan kami yang 6.8 % untuk pertumbuhan PDB Tiongkok tahun ini,” kata Wang Tao. (Liu Yi/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular