Madu telah dikenal sebagai pemanis alami jauh sebelum gula tersedia secara meluas di abad ke-16. Produksi madu berkembang di peradaban Yunani kuno dan Sisilia. Selain manusia, hewan pun juga menyukai madu, misalnya beruang madu, mereka sama-sama mempertaruhkan diri dari sengatan lebah demi cairan emas yang manis ini.

5 fakta madu yang perlu diketahui

Madu, khususnya dalam bentuk mentah (raw honey), menawarkan manfaat kesehatan yang unik yang mungkin tidak kita sadari. Diantaranya:

1. Madu sangat baik untuk “obat” batuk

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan madu sebagai peringan sakit, yakni substansi yang mengurangi iritasi di mulut atau tenggorokan dengan membentuk sebuah lapisan pelindung.

Penelitian menunjukkan madu bekerja seperti dekstrometorfan, suatu bahan umum dalam obat batuk di pasaran, untuk menenangkan batuk dan masalah sulit tidur akibat infeksi saluran pernapasan bagian atas pada anak-anak.

2. Madu bisa mengobati luka

Madu adalah terapi konvensional untuk memerangi infeksi sampai awal abad ke- 20, saat itu penggunaannya mulai menghilang secara perlahan digantikan dengan penisilin. Kini penggunaan madu untuk perawatan luka mendapatkan kembali popularitasnya, seiring peneliti menyatakan dengan tepat bagaimana madu dapat membantu melawan infeksi kulit yang serius.

Madu memiliki khasiat antibakteri, antijamur, dan antioksidan yang membuatnya ideal untuk mengobati luka. Di AS, Derma Science menggunakan madu manuka untuk perban luka dan luka bakar medihoney.

Madu manuka dibuat dari serbuk sari yang dikumpulkan dari bunga tumbuhan semak manuka (sejenis tanaman obat di negara 4 musim), dan uji klinis telah menemukan jenis madu ini dapat secara efektif membasmi lebih dari 250 bakteri klinis, termasuk varietas tahan seperti:

  • MRSA (methicillin-resis-tan Staphylococcus aureus)
  • MSSA (methicillin-sensi-tif Staphylococcus aureus)
  • VRE (vancomycin-resis-tan enterococci)

Dibandingkan dengan jenis madu lain, manuka memiliki bahan tambahan dengan kualitas antimikroba, disebut Faktor Unik Manuka (FUM). Disebut demikian karena belum seorang pun yang mampu menemukan substansi unik yang memberikan khasiat antibakteri yang luar biasa.

Madu melepaskan hidrogen peroksida melalui proses enzimatik, yang menjelaskan kualitas antiseptik umum, tetapi madu manuka aktif mengandung “sesuatu yang lain” yang membuatnya jauh lebih unggul dibanding jenis madu lain ketika membunuh bakteri.

Dikatakan, dalam penelitian menunjukkan bahwa jenis madu yang belum diproses (madu mentah) bisa membantu menyembuhkan luka dan bisul. Dalam sebuah penelitian, 58 dari 59 luka menunjukkan “peningkatan yang luar biasa dari penggunaan madu”.

3. Madu menyehatkan kulit kepala

Madu yang diencerkan dengan sedikit air hangat terbukti secara signifikan bisa mengatasi dermatitis seboroik, suatu kondisi kulit kepala yang menyebabkan ketombe dan gatal-gatal. Setelah menerapkan perawatan tersebut setiap hari selama empat minggu, “semua pasien merespon berefek nyata”. Menurut para peneliti: “Gatalnya mereda dan kerak menghilang dalam waktu seminggu. Kulit yang luka menjadi sembuh dan hilang sama sekali dalam waktu 2 minggu. Selain itu, pasien menunjukkan perbaikan yang subjektif terhadap rambut rontok.”

4. Membantu meningkatkan energi

Makanan utuh (whole food) yang menyehatkan dan tidur yang tepat adalah resep terbaik untuk mendapatkan energi tak terbatas, tetapi jika Anda mencari dorongan energi yang cepat, seperti sebelum atau setelah berolahraga, maka madu dapat mencukupinya. Hal ini terutama berlaku bagi atlet yang mencari “bahan bakar” untuk menyediakan energi yang berdurasi lebih lama.

5. Meringankan gejala alergi

Madu yang diproduksi secara lokal, mengandung spora serbuk sari yang diambil oleh lebah dari tanaman lokal, sehingga akan memperkenalkan sejumlah kecil alergen ke dalam sistem tubuh Anda. Secara teoritis, ini dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan dari waktu ke waktu dapat membangun kekebalan alami.

Rekomendasi resepnya, konsumsi sekitar satu sendok teh penuh madu yang diproduksi secara lokal per hari, mulai beberapa bulan sebelum musim serbuk sari, untuk memungkinkan sistem tubuh Anda untuk membangun kekebalan. Dan kunci di sini adalah produk lokal.

Cara ini dapat bekerja karena mengandung serbuk sari dari tanaman lokal yang mungkin Anda alergi terhadapnya. Madu dari negara (daerah) lain tidak akan berfungsi. Penelitian ini telah menghasilkan hal yang bertentangan, satu studi menemukan, selama musim serbuk sari tanaman birch, apabila dibandingkan dengan kelompok yang dikontrol, para pasien yang menggunakan madu alami dari serbuk sari tanaman birch:

  • Terjadi pengurangan gejala sebesar 60 persen
  • Dua kali lebih banyak hari tanpa gejala
  • 70 persen lebih sedikit hari dengan gejala berat
  • 50 persen penurunan penggunaan antihistamin

Yang cukup menarik, ada beberapa perbedaan di antara kedua kelompok yang mengonsumsi madu (kelompok yang mengonsumsi madu biasa, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi madu yang mengandung serbuk sari tanaman birch.) Namun, kelompok madu serbuk sari tanaman birch mengonsumsi histamin lebih sedikit dari mereka yang mengonsumsi madu biasa.

Para penulis menyimpulkan: “Pasien yang sebelum musim (semi) mengonsumsi madu serbuk sari tanaman birch, memiliki kontrol yang secara signifikan lebih baik dari gejala mereka, daripada yang menjalani pengobatan konvensional saja, dan mereka memiliki kontrol sedikit lebih baik dibandingkan dengan kelompok madu biasa. Hasil tersebut seharusnya dianggap sebagai awal, tetapi mereka telah menunjukkan bahwa madu dari serbuk sari tanaman birch bisa berfungsi sebagai terapi komplementer untuk penderita alergi serbuk sari birch”. (Ajg/Yant)
Bersambung

Share

Video Popular