Bagaimanapun sabar dan rasionalnya orangtua, ada kalanya tetap tak terelakkan akan marah jika merasa kenakalan anak-anak itu sudah diluar batas kepatutan. Dan jika menjatuhkan hukuman secara membabi buta juga bukan cara yang bijak. Mendisiplinkan anak perlu cara yang tepat, coba renungkan sejenak, apakah anda sendiri telah melakukan suatu kesalahan.

Sama seperti kebanyakan orangtua lainnya, kita semua ingin disiplin yang kita terapkan bisa membuat anak-anak yang pernah melakukan suatu kesalahan tidak akan melakukan kesalahan lagi dilain waktu. Bahkan sangat berharap, mereka tidak melakukan itu, bukan karena merasa takut akan kemarahan orangtua, tapi karena kesadaran diri sendiri bahwa perbuatan yang tidak baik itu merupakan kesalahan besar.

Namun, ada kalanya, mungkin saja hari ini kita bisa mencegah perilaku buruknya, tapi bagaimana dengan keesokannya atau hari berikutnya, rasanya tidak membantu apa pun terhadap tindakan mereka yang lebih buruk pada kesempatan lainnya.

Lalu bagaimana agar mereka bisa belajar menjadi sesosok anak yang baik (tingkah laku) ?

Menurut penuturan pakar parenting, anak-anak bisa belajar taat, tahu mana yang benar atau sebaliknya, tapi, proses ini membutuhkan metode dan cara tertentu.

Meskipun cara ini tidak bisa mencegah seorang anak yang nakal itu sesekali membuat kesalahan, tetapi setidaknya bisa membantu Anda mengubah perilaku dari seorang anak yang nakal dan merepotkan itu dengan kasih sayang dan kesabaran.

Berikut beberapa 6 rekomendasik atau cara yang sangat efektif untuk mendisiplinkan anak.

1. Melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan

Ahli parenting menyebutkan :

Jika Anda sudah mengatakan sesuatu, tapi tidak dilakukan sesuai dengan perkataan Anda, atau perkataan Anda itu tidak sama dengan perbuatan, maka hal ini akan membuat anak-anak menjadi sosok opportunist (orang yang selalu mencari kesempatan dari situasi tertentu untuk keuntungannya sendiri). Karena mereka tahu bisa terhindar dari hukuman, dan mereka akan mencoba sebisa mungkin untuk melakukan hal itu.

Namun, ketika mereka tahu apa yang akan Anda lakukan, atau akan terjadi sesuatu ketika melakukan kesalahan, maka mereka dapat memperkirakan konsekuensi atas perbuatan dari pilihan mereka, dan hal ini akan membuat mereka belajar (bisa) mengendalikan diri.

Bagaimana agar hal itu bisa terwujud ?

Bagian paling penting terkait “melakukan sesuatu sesuai dengan perkataan” adalah harus tegas dan konsekuen, tidak kompromi hanya karena alasan “sekali ini saja”.

Anda tata dan simpulkan aturan yang Anda anggap paling penting dan akan ada konsekuensinya kapan saja jika mereka merusak aturan-aturan ini. Kemudian, sampaikan semua ini pada anak Anda.

Bagi sebagian besar orangtua, adalah hal yang cukup sulit dalam mengendalikan diri untuk tidak mengkritik anak-anak, karena itu, pertimbangkan dulu sebelum Anda mengucapkan sesuatu, nada bicara dan perbedaan susunan kata yang Anda gunakan, efeknya akan sangat berbeda.

”Contoh misalnya : “Ayah/ibu sayang padamu, tapi perbuatanmu itu tidak bisa ayah/ibu terima.”

Kata-kata ini awalnya terdengar cukup menusuk (keras), tapi setelah beberapa saat, dengan sendirinya anak-anak akan mengerti apa yang Anda maksud.

Dalam beberapa situasi lain, jelaskan pada anak-anak apa yang Anda harapkan itu sebagai persyaratan yang harus bisa mereka lakukan.

Misalnya, ketika Anda akan membawa serta mereka ke supermarket, beritahu mereka untuk tidak sembarangan mengutak-atik dan mengambil barang dagangan, peringatkan mereka apa konsekuensinya jika melanggarnya.

Melakukan sesuai dengan perkataan, meminta Anda untuk bisa melakukan sepenuhnya, dan tidak perlu mengancam dengan nada keras.

2. Jangan meremehkan anak-anak

Berteriak memanggil nama anak-anak atau mendefinitifkan sesuatu seperti “kamu sangat ceroboh” adalah dua metode yang paling tidak efektif. Hal ini hanya akan melukai harga diri anak-anak.

Jadi, cobalah sebisa mungkin untuk tidak terlalu mengkritik/mencela perilaku anak-anak.

Mengapa harus demikian ?

Ahli parenting mengatakan : Bukan dikarenakan Anda telah menjatuhkan hukuman pada anak-anak, lantas dengan serta merta mereka akan terbebas dari perasaan buruk mereka sendiri.

Perasaan seperti itu mungkin akan berlalu, tapi kriktik atau kecaman yang diulang, misalnya “Mengapa kamu selalu bersikap tidak baik kepada orang lain”, mungkin akan memicu perasaan negatif yang membuat perasaannya tertekan. (Jhn/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular