Bagaimanapun sabar dan rasionalnya orantua, ada kalanya tetap tak terelakkan akan marah jika merasa kenakalan anak-anak itu sudah diluar batas kepatutan. Dan jika menjatuhkan hukuman secara membabi buta juga bukan cara yang bijak. Mendisiplinkan anak perlu cara yang tepat, coba renungkan sejenak, apakah anda sendiri telah melakukan suatu kesalahan.

3. Mendisiplinkan anak-anak disertai pujian

Jika Anda menjatuhkan hukuman untuk mendisiplinkan anak-anak, maka Anda akan kehilangan banyak kesempatan untuk memberikan bimbingan yang tepat pada mereka.

Misalnya, ketika anak-anak mengambil mainan, Anda bisa mengingatkannya dengan menghadiahinya sepotong makanan kecil, dan apa yang Anda ingin ia lakukan, maka hasilnya justru akan lebih baik.

Mengapa harus demikian ?

Mungkin Anda sulit untuk percaya, tetapi memang harus berpikir ulang seperti ini : Dia ingin menjadi anak yang baik. Tapi, ia juga ingin mendapat perhatian dari orang lain, misalnya jika hanya pada saat ia melemparkan mainan pada anak-anak, baru bisa menarik perhatian Anda ……,saya pikir Anda bisa mengerti apa yang saya maksud.

Ketika ia melakukan sesuatu dengan baik, cobalah berikan lebih banyak dorongan dan pujian, ini akan mendorongnya berbuat lebih baik lagi di lain kesempatan.

Jika ada orang lain yang memberikan pujian atas perilaku baik anak-anak, disarankan pada orangtua agar menyampaikan pujian-pujian itu pada mereka, ini akan membuat mereka merasa bangga, dan pujian-puijian itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam dalam benak mereka dibanding pujan pujian dari orangtua anak itu sendiri.

Anda tidak perlu memuji hanya karena anak itu mengatakan “silakan atau tolong”, tapi, sebaiknya lebih spesifik ketika memujinya, jangan hanya sekadar mengatakan : “hebat, kamu melakukannya dengan bagus”.

Tapi seyogyanya memuji seperti ini : “Pakaianmu hari ini tampak rapi, bersih, bagus sekali”.

Dengan begitu, anak itu akan tahu tindakan dan faktor seperti apa yang akan membuat Anda memujnya.

Pujian tetaplah pujian, hindari kata-kata tambahan apa pun dalam bentuk pujian terkait, misalnya : “Kamar yang kamu bersihkan ini sangat rapi, tapi mengapa tidak bisa seperti itu setiap hari ?”

Kata-kata bernada kritik yang seolah-olah memuji itu tidak ada manfaat apa pun.

4. Kendalikan diri Anda untuk tidak berteriak, dan bersikap kasar

Tidak hanya anak-anak yang akan membuat kesalahan, jarang sekali ada orangtua yang bermulut besar mengatakan bahwa dirinya tidak pernah kehilangan kendali saat mendisiplinkan anak-anak, sebagian besar dari kita akan menyesal atas tindakan kita setelah itu.

Kemarahan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi upaya keras Anda dalam mendisiplinkan anak-anak. Jika Anda selalu berteriak, tidak ada sesuatu apa pun yang bisa dipetik anak-anak.

Sebaliknya, begitu ia terbiasa dengan cara Anda seperti itu, ia akan menganggap kata-kata Anda itu bagaikan angin lalu, sehingga lama kelamaan kritik atau pujian Anda itu tidak akan diindahkannya lagi.

Terapkan disiplin dengan kepala dingin, akan membuat anak-anak merasakan bimbingan Anda itu obyektif dan adil, dan ia juga akan bersedia melakukannya dengan minat yang besar atas permintaan Anda.

Pikirkan dulu bagaimana cara menenangkan diri sejenak ketika emosi Anda akan meledak.

Namun, jika cara-cara ini tidak berhasil, hingga akhirnya Anda kehilangan kendali dan marah pada anak-anak, camkan, Anda harus dengan tulus meminta maaf pada anak-anak setelah itu, katakan padanya bahwa Anda juga manusia yang tak luput dari kesalahan, tetapi Anda harus mengakui dan memperbaiki kesalahan tersebut. Ini adalah pendekatan yang sangat rasional.

5. Jelaskan konsekuensinya

Anak-anak kerap tumbuh besar dalam kesalahpahaman yang menganggap “konsekuensi” itu adalah sinonim dari “hukuman”, kata “konsekuensi” ini dipahami sebagai sesuatu hal buruk yang akan terjadi jika terus melakukannya. Sampaikan pada anak-anak, “konsekuensi : adalah hasil dari segala bentuk perbuatan—yang akan berakibat hukuman atau penghargaan/hadiah.

Perdalam konsep dari “sebab dan akibat” ini pada anak-anak :

Apa pun yang akan dilakukan itu ditentukan oleh mereka sendiri, dengan demikian akan mengajarkan anak-anak suatu rasa tanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Tumbuhkan suatu kebiasaan, jelaskan sejenak alasannya pada anak-anak setelah mengajukan permintaan padanya, dan sesekali berikan hadiah atas perbuatannya.

Ketika diperlukan untuk mengambil langkah-langkah hukuman, kaitkan hal itu dengan tindakannya yang menyebabkan hukuman itu, misalnya, anak anda menindas orang lain, maka anda bisa menghukumnya dengan membatalkan haknya untuk menonton film animasi kesukaannya, sehingga dengan begitu, ia akan tahu, apa konsekuensinya jika ia kembali melakukan penyerangan terhadap orang lain.

6. Jelaskan nilai-nilai pandangan Anda

Dalam mengoreksi perilaku yang salah pada anak-anak, tugas Anda yang paling penting adalah membesarkan seorang anak yang baik untuk menjadi sesosok anak yang berguna. Meskipun kita semua setuju bahwa sesosok orang yang baik itu harus memiliki kualitas seperti ini :

Jujur, menghormati orang lain, toleran, murah hati, namun pada kenyataannya titik berat setiap keluarga itu berbeda.

Yang paling penting bagi Anda perlu mempertimbangkan, nilai pandanga apa yang Anda harapkan dari pembelajaran anak Anda itu, dan ini juga merupakan sebagian dari pendidikan anak.

Anak-anak sekarang dipengaruhi oleh sejumlah besar informasi yang buruk dari dunia luar. Oleh karena itu, kita harus selalu mengirimkan pesan yang tepat pada anak-anak, agar arah mereka tidak tersesat di dalam lingkungan masyarakat yang majemuk. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular