Oleh: Huang Jinyuan (Konsultan masalah anak-anak)

Dari sebuah artikel yang sempat saya baca di rubrik Taman Pendidikan The Epochtimes, seorang penulis merangkap pendidik itu mengatakan bahwa ia ingin membuat murid-muridnya agar bisa lebih maju, sehingga kerap memuji siswanya, boleh dikata guru itu mencurahkan segenap perhatiannya pada anak didiknya. Dalam artikel tersebut juga disinggung tentang dirinya yang kerap mengalami kekecewaan ketika dengan tulus ia memuji anak didiknya. Misalnya ketika ia memuji pengucapan siswanya itu sekarang jauh lebih baik dibanding sebelumnya, tulisan yang lebih rapi dan enak dipandang, waktu menyerahkan tugas sekolah dan sebagainya. Namun, selalu ada saja siswa lain yang berkata dengan nada dingin “Ah, masa sih! Biasa-biasa saja!” dan sebagainya.

Menurut penuturan penulis, bahwa bagi para siswa yang suka berlawanan, sengaja menyerang orang lain (menyinggung dengan kata-kata), hal itu dikarenakan mereka ingin menarik perhatian orang lain. Oleh sebab itu, sebaiknya diabaikan dulu ketika mereka bersikap seperti itu, tapi mereka perlu dibimbing secara pribadi. Dan ini juga merupakan bentuk curahan perhatian terhadap mereka.

Menurut saya pribadi, mereka yang suka dengan sengaja berlawanan dan mematahkan semangat orang ketika orang lain dipuji, selain karena kenakalan secara psikologis atau dipicu oleh rasa iri, besar kemungkinan juga berhubungan dengan efek negatif dari pujian tersebut. Karena pujian juga mengandung eksklusivitas (sifat menyendiri atau memisahkan diri (terhadap orang lain)). Ketika seorang guru memberikan pujian kepada salah satu siswa saat menjawab dengan tepat pertanyaannya, besar kemungkinan di saat bersamaan dengan itu juga telah melukai perasaan siswa yang salah menjawab.

Ada gambaran lelucon sangat menarik yang menjelaskan efek sebaliknya dari pujian evaluatif ini :

Seorang kakak memberikan tips kencan kepada adiknya yang akan berkencan dengan pacarnya, sang kakak mengatakan : “Dek, perlu kamu ketahui, perempuan itu paling suka mendengar orang memujinya, jadi, saat kencan nanti jangan lupa untuk memujinya.” Adiknya lalu bertanya : “Bagaimana cara memujinya ?” Sang kakak bilang : “Kamu puji saja bahwa dia sangat cantik.” Adiknya kemudian bertanya lagi : “Tapi dia biasa-biasa saja, tidak begitu cantik!” Sang kakak lalu mengatakan : “Kalau begitu kamu puji saja bahwa dia sangat pintar.” Adiknya lalu mengatakan : “Tapi ia juga biasa-biasa saja, tidak pintar.” Sang kakak kemudian merenung sejenak lalu mengatakan : “Kalau begitu kamu puji saja kebaikan hatinya.” Mendengar itu, dengan gembira adiknya mengingat pesan kakaknya dan mengatakan : “Kak, kamu benar-benar baik hati!” Namun akibatnya, justru membuat sang kakak marah!

Pujian yang salah seperti gambaran tersebut di atas adalah “pujian evaluatif”. “Pujian evaluatif” dan “pujian Apresiatif” adalah pandangan yang unik dari psikolog Francesca Gino. Lantas apakah pujian evaluatif itu ? Yang dimaksud pujian evaluatif adalah penilaian yang didasarkan pada perilaku anak-anak, yang diperluas sebagai penilaian terhadap segenap kepribadian bersangkutan. Umumnya pujian dari orangtua itu sebagian besar adalah pujian evaluatif, misalnya : kamu anak yang baik (patuh, penurut), kamu pintar sekali, kamu hebat, kamu sangat cantik, kamu benar-benar keren, dan kamu benar-benar anak yang baik, kamu sangat cerdik.

Pujian evaluatif

Kelemahan utama dari pujian evaluatif adalah terlalu membesar-besarkan, bahkan berlebihan, sehingga membuat orang yang dipuji itu merasa berada di atas awang-awang. Selamanya harus memanifestasikan tekanan dari ketrampilan, kecerdasan yang sama atas dirinya, misalnya:

Seorang pelatih panahan memuji muridnya karena berhasil memanah secara tepat di titik merah saat latihan : “Kamu benar-benar pemanah jitu,” pujian seperti ini akan memberi tekanan pada anak didiknya karena “setiap kali memanah harus selalu tepat mengenai titik merah”.

Sementara itu, hanya karena bisa menjawab secara tepat atas pertanyaan yang diajukan, seorang guru di suatu sekolah memuji siswanya adalah sesosok orang yang “cerdas”, akibat pujian ini sang siswa selalu harus memikul beban berat “pertanyaan guru, harus selalu dapat menjawab dengan benar”. Terutama ketika sesuatu yang dipuji itu berhubungan dengan kemampuannya, maka tekanan yang diakibatkannya akan lebih fatal. Misalnya sang “penembak jitu” seperti yang disebutkan di atas, dan “siswa yang pintar” ini bukan hanya karena mengandalkan usaha/kerja keras semata baru bisa mencapainya.

Selain itu, pujian evaluatif juga akan membuat orang yang dipuji itu merasa luar biasa senangnya bercampur rasa gelisah, bahkan tak percaya. Pujian evaluatif tidak lebih hanya berupa pujian dangkal dan umum atas kepribadian, tidak secara spesifik menunjukkan hal apa yang layak untuk dipuji atau diapresiasi. Orang yang dipuji itu sendiri akan merasa sebagai sanjungan yang berlebihan, dan terkadang akan merasa orang yang memuji itu palsu, tidak tulus, hanya untuk menyenangkan hati yang dipuji misalnya:

Ketika Anda diundang untuk jamuan makan, Anda memuji masakan tuan rumah sangat enak, namun, pihak tuan rumah akan merasa pujian Anda itu hanya sekadar basa basi, bukan pujian tulus. Tapi, jika Anda bisa menunjukkan keistimewaan salah satu menu hidangan itu, misalnya “tumisan sayuran hijau itu begitu hijau menggoda selera!” “Aroma ikan kukus itu begitu harum dan enak sekali!” Maka pujian seperti ini bukan lagi sekadar pujian semu, tapi pujian yang terarah, yang akan membuat orang yang dipuji itu merasakan pujian tulus yang mengesankan.

Pujian apresiatif

Pujian apresiatif, adalah pujian yang berlawanan dengan pujian evaluatif. Pujian apresiatif adalah pujian / kekaguman terhadap perilaku, seperti : “Ibu senang kamu bisa membantu mencuci piring,” “bagus sekali, kamu bisa menyerahkan kepada guru jam tangan yang kamu temukan, orang yang kehilangan jam tangannya itu pasti akan sangat berterima kasih padamu,” “tulisanmu sangat rapi”, “kamu sangat teliti melakukan sesuatu, karena itu saya tidak khawatir,” “saya kagum sekali, meski usiamu sudah lebih dari 40 tahun, tapi bentuk badanmu tetap terjaga dengan baik.”(Jhn/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular