Oleh: Huang Jinyuan (Konsultan masalah anak-anak)

Dari sebuah artikel yang sempat saya baca di rubrik Taman Pendidikan The Epochtimes, seorang penulis merangkap pendidik itu mengatakan bahwa ia ingin membuat murid-muridnya agar bisa lebih maju, sehingga kerap memuji siswanya, boleh dikata guru itu mencurahkan segenap perhatiannya pada anak didiknya. Dalam artikel tersebut juga disinggung tentang dirinya yang kerap mengalami kekecewaan ketika dengan tulus ia memuji anak didiknya. Misalnya ketika ia memuji pengucapan siswanya itu sekarang jauh lebih baik dibanding sebelumnya, tulisan yang lebih rapi dan enak dipandang, waktu menyerahkan tugas sekolah dan sebagainya. Namun, selalu ada saja siswa lain yang berkata dengan nada dingin “Ah, masa sih! Biasa-biasa saja!” dan sebagainya.

Pujian apresiatif dapat membangkitkan (semangat) orang lain

Pujian apresiatif itu hanya berupa pernyataan atas rasa kagum terhadap perilaku seseorang, di satu sisi memastikan perilaku baiknya, sehingga orang itu tahu bahwa perilaku tersebut adalah sikap yang baik, Di sisi lain pujian apresiatif, yaitu mempertimbangkan suatu hal sebagaimana adanya, tidak ada yang dilebih-lebihkan, tidak akan menimbulkan tekanan pada pihak terkait. Saat “latihan memanah” sebagaimana contoh yang digambarkan sebelumnya, kata-kata pujian dari sang pelatih yang mengatakan “kamu benar-benar seorang pemanah jitu” itu sebaiknya diganti dengan kata-kata pujian seperti ini : “Wow! Hebat sekali! Bidikan panahmu ini tepat mengenai titik merah.” Ketika seorang siswa menjawab dengan benar pertanyaan guru, sang guru sebaiknya tidak serta merta memujinya seperti ini : “Kamu benar-benar pintar Andy,” tapi sebaiknya cukup mengatakan “benar, jawaban yang bagus Andy!” Pujian yang apresiatif ini dapat membuat orang yang dipuji itu merasakan kesenangan tanpa beban.

Selain itu, pujian apresiatif juga ada manfaat lain yakni kekaguman dan kepastian yang langsung diarahkan pada perilaku tertentu. Orang yang dipuji itu tahu bahwa perilaku tersebut disukai oleh guru dan orangtua (ayah/ibu), dan di lain kesempatan akan lebih berupaya menunjukkan perilaku baik seperti itu, untuk mendapatkan lebih banyak pembenaran. Di sisi lain, siswa maupun anak-anak lain tahu bahwa hal seperti itu disukai, dikagumi, dan dibenarkan oleh guru maupun orangtua mereka, sehingga dengan sendirinya mereka akan berusaha meneladani perilaku seperti itu. Dan pujian seperti itu dapat menginspirasi atau membangkitkan semangat semua orang.

Sebelumnya juga sempat membaca sebuah artikel yang membahas tentang tata cara pujian itu harus diarahkan atau ditujukan pada sesuatu hal yang dilakukan bukan pada orang bersangkutan. Konsep ini pada dasarnya memang benar, tetapi untuk menentukan batas (kebenaran atas sesuatu hal yang dilakukan) itu secara tepat juga tidak mudah. Misalnya ketika seorang guru memuji artikulasi atau pengucapan kata dari salah satu siswanya : “Artikulasinya jauh lebih jelas sekarang, sudah banyak kemajuan!” “Bentuk huruf / tulisan sekarang sudah banyak kemajuan (rapi), dulu sering terlambat menyerahkan PR, tapi sekarang selalu tepat waktu,” “kecepatan membaca visual sekarang sudah banyak kemajuan, gaya kaligrafi juga jauh lebih rapi sekarang”dan sebagainya. Meskipun secara permukaan, pujian-pujian ini ditujukan atas suatu hal ihwal, tetapi kata-kata pujian ini mengarahkan kemajuan pada nilai kepribadian bukan terhadap sesuatu yang dilakukan.

Menurut definisi psikologi, kepribadian itu ditujukan pada karakteristik perilaku seseorang yang unik dan kekal. Berusaha keras untuk mencapai kemajuan adalah kepribadian seseorang. Seseorang yang mengenakan pakaian kotor dan tidak rapi atau anggun dan parlente itu sekilas memang tampak merupakan suatu hal, tetapi itu adalah kepribadian, karena ia merupakan rite perilaku yang kekal sifatnya.

Jadi, secara pribadi saya rasa menggunakan pujian riteria e dan apresiatif itu sebagai pembeda, agar tidak campur aduk dan bingung. Penilaian terhadap seseorang atau sesuatu diberikan berdasarkan riteria tertentu, dan ini berkaitan dengan masalah yang berbeda atas riteria penilaian tersebut. Di dalam kelas, guru yang menggunakan pujian riteria e, acapkali akan memicu suara penolakan karena berbeda dengan kriteria penilaian siswa lainnya. Misalnya, seorang guru memberikan pengakuan atas “kemajuan” yang dicapai siswa tertentu, namun, siswa lainnya mengatakan “Ah, biasa-biasa saja!” Seperti contoh misalnya, guru sepenuhnya percaya bahwa siswa itu “sangat hebat”, tapi siswa lain menyambutnya dengan mengatakan “Ah, masa sih!?”, jadi sebenarnya hal ini disebabkan oleh kriteria penilaian yang tidak sama.

Sementara itu, pujian apresiatif hanya berupa pernyataan atas rasa kagum terhadap perilaku seseorang, jika tidak ada penilaian, maka otomatis tidak akan ada “pendapat yang berbeda atas kriteria penilaian tersebut”, sehingga dengan demikian, orang lain juga tidak akan menyiramkan air dingin pada seseorang yang memberikan pujian, dan menyerang orang lain (menyinggung dengan kata-kata berlawanan). (Jhn/Yant)

Share

Video Popular