Madu telah dikenal sebagai pemanis alami jauh sebelum gula tersedia secara meluas di abad ke-16. Produksi madu berkembang di peradaban Yunani kuno dan Sisilia. Selain manusia, hewan pun juga menyukai madu, misalnya beruang madu, mereka sama-sama mempertaruhkan diri dari sengatan lebah demi cairan emas yang manis ini.

Madu benar-benar adalah zat yang luar biasa, bahkan proses pembuatannya juga lebih luar biasa lagi. Cairan ini terdiri dari gula, jejak enzim, mineral, vitamin, dan asam amino yang tidak bisa ditiru oleh pemanis lain di planet ini.

Madu mengandung fruktosa tinggi, memiliki banyak manfaat kesehatan bila digunakan secara tidak berlebihan (dengan asumsi Anda sehat). Sebelum membahasnya lebih lanjut, berikut perkenalan singkat tentang bagaimana madu dibuat.

Bagaimana madu dibuat

Dibutuhkan sekitar 60.000 ekor lebah, yang secara kolektif bepergian hingga 55.000 mil dan mengunjungi lebih dari 2 juta bunga, mengumpulkan nektar yang cukup untuk menghasilkan setengah kilogram madu.

Setelah nektar dikumpulkan, lebah menyimpannya dalam perut ekstra di mana bercampur dengan beragam enzim, dan kemudian memberikan (melalui regurgitasi) ke mulut lebah lain. Proses ini diulang sampai nektar berhasil dicerna sebagian dan kemudian disimpan ke dalam sarang madu.

Sesampai di sana, lebah madu mengipasi nektar cair tersebut dengan sayapnya, agar kandungan air di dalam nektar menguap dan membuatnya mengental, inilah yang disebut sebagai “madu”. Sarang lebah ini kemudian disegel dengan sekresi cairan dari perut lebah, yang mengeras menjadi lilin lebah. Seperti yang dilaporkan Live Science:

“Kedap dari udara dan air, madu dapat disimpan tanpa batas waktu, memberikan lebah sumber makanan yang sempurna selama bulan-bulan musim dingin.”

Terdapat ratusan jenis madu dipasaran, masing-masing dengan warna dan rasa yang unik, tergantung dari sumber nektarnya. Madu yang berwarna lebih terang, seperti yang terbuat dari bunga jeruk, cenderung lebih ringan dalam rasa sementara madu berwarna lebih gelap, seperti yang terbuat dari bunga-bunga liar, cenderung memiliki rasa yang lebih kuat. (Ajg/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular