Ketidakharmonisan di antara sesama anggota keluarga, timbulnya konflik, suasana keluarga yang tertekan, perselisihan dan ketidaharmonisan satu sama lain dalam keluarga. Keluarga tipe ini lebih banyak kesedihan daripada keceriaan, lebih banyak tersekak jarak daripada keakraban antar sesama keluarga, lebih banyak terpisah daripada bersama dalam kebersamaan keluarga.

Anak-anak kerap mengeluh mereka tidak dapat atau tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan permintaan yang paling dasar pada orangtua mereka. Sehingga perlahan-lahan mereka pun tidak peduli lagi atas hubungan dingin diantara orangtua atau pengabaian terhadap mereka! Lama kelamaan, kasih sayang terhadap orangtua itu pun dikekang dan kebaikan hati juga ditiadakan!

Kebencian (keluhan) antar orangtua dan ketidakpedulian dengan anak-anak tanpa sadar menyebar ke segenap keluarga. Saat demikian, anak-anak tidak akan condong berpihak pada siapapun, akibatnya terjadi penyimpangan pada masing-masing anak dan kabur dari rumah, bahkan akan terperosok lebih dalam. Sehingga hancurnya sebuah keluarga yang seyogyanya bahagia itu akhirnya menjadi kenyataan.

Keluarga seperti ini bukan hanya tidak secara konsisten menerapkan konsep dan pola yang tepat terhadap pendidikan anak-anak, bahkan penerapan ajaran pada umumnya saja juga tidak terealisasikan. Akibatnya, anak-anak mau tidak mau harus menerima efek negatif dari orangtua mereka, masing-masing menyerap apa yang mereka butuhkan.

Sebagaimana kita ketahui, efek dari orangtua terhadap anak-anak itu terletak pada kata dan perbuatan mereka. Kata-kata yang diutarakan itu termasuk pemahaman dari bahasa yang disampaikan, pandangan dunia, pandangan hidup, nilai-nilai kehidupan, budaya bahasa dan sejenisnya. Sementara itu, terkait tindakan atau perbuatan itu meliputi kemampuan interpersonal (sikap dalam pergaulan), dan sikap dalam proses pergaulan itu, apakah tuntutan tanggungjawab atas diri sendiri, orang lain, masalah dan sebagainya itu sesuai dengan norma-norma sosial masyarakat atau masyarakat yang beradab, dan mematuhi prinsip interaksi komunikatif antar sesama.

Banyak orangtua, terutama orangtua yang tidak kompeten tidak segera secara ekstra memberi pengaruh baik di saat mental anak-anak dalam kondisi paling lemah atau saat jiwa mereka paling mudah untuk dikendalikan, bahkan kerap membiarkan semaunya terhadap kesalahan anak-anak, sehingga perlahan-lahan membuat watak hakiki anak-anak itu menjadi rusak. Dan tanpa disadari, hal itu ibarat sumber air mata anak-anak itu telah ditaburi racun oleh orangtua mereka yang tidak harmonis, dan mereka (orang tua) menjadi tidak berdaya ketika merasakan kegetiran itu sendiri di kemudian hari.

Seiring dengan berlalunya waktu, perlahan-lahan anak-anak tumbuh dewasa, dan kualitas (perangai) yang buruk dari anak-anak itu pun berjalan seiring dengan pertumbuhannya. Jika sudah demikian, bukankah hal ini dikarenakan orangtua yang dingin itu telah menanamkan keburukan pada anak-anak mereka sendiri ?

Orangtua yang dingin tidak pernah memberikan pujian atau kecaman terhadap perilaku maupun moral anak-anak, sehingga membuat anak-anak dalam masa perjalanan hidupnya yang panjang itu kurang atau tidak menghargai nama baik dan juga tidak peduli tentang rasa malu. Di saat nalar anak-anak pada usia yang belum cukup untuk bisa membedakan antara kehormatan dan aib, ada baiknya orangtua bersangkutan mendidik mereka dengan sungguh-sungguh. Penelitian psikologis menyebutkan, bahwa umumnya pada usia 5 tahun prinsip dan norma dalam jarak kehormatan dan aib secara emosional anak-anak itu paling dekat, orangtua harus menanamkan pendidikan tentang harga diri dan rasa malu kepada anak-anak, agar anak-anak bisa membedakan. Bagi orangtua bersangkutan sebaiknya tidak menganggap kehormatan dan aib itu sebagai hal sepele, acuh tak acuh. Jika tidak, begitu kepribadian atau karakter cacat (negatif) anak-anak ini terbentuk akan sangat sulit untuk diperbaiki lagi.

Terlalu memanjakan atau memperlakukan dengan kasar juga merupakan masalah yang serius bagi sejumlah orangtua. Anak-anak yang dimanja pasti akan belajar memaki, memukul, tidak menghargai orang lain. Sementara anak-anak yang dianiaya pasti akan belajar memandang dunia itu dengan dingin dan belajar membenci. Kedua cerminan ini akan mencapai tujuan yang sama dengan jalan yang berlainan, dan mereka jarang akan menjadi pribadi yang baik setelah tumbuh dewasa di kemudian hari. Jiwa mereka kerap melebihi semangat, kehilangan ketekunan dan vitalitas, bahkan akan mengembangkan perilaku yang bebas tak terkendali. Boleh dikata, orangtua mereka mengajarkan tentang kejahatan (keburukan) pada anak-anak, merusak jiwa anak-anak, hal ini sama dengan membentuk mereka sampai pada usia tertentu menggunakan kekerasan dan kekejaman dalam memperlakukan orang lain.

Yang disebut dengan keluarga harmoni, pertama-tama adalah pendidikan anak-anak harus di bawah prasyarat “keluarga harmonis”, baru bisa melangkah ke jalan yang benar, tidak akan mengarah ke jalan yang berkelok-kelok. Anak-anak dapat tumbuh sehat, ini merupakan hasil dan simbol dari “keharmonisan”. Dan ini merupakan modal bagi setiap orangtua dalam mendidik anak-anak mereka, adalah sebuah “modal” yang mendatangkan selaksa manfaat positif yang berguna bagi anak-anak di kemudian hari.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular