Erabaru.net. Anak-anak sembarangan menghabiskan uang, tidak mengerti bagaimana mangelola keuangannya, semua ini disebabkan oleh orangtua yang terlalu “memanjakan” mereka ?

Tidak peduli apakah Anda sebagai orangtua pemula, belajar dan mendidik itu merupakan hal yang harus terus berkelanjutan, perlu diketahui, bahwa ajaran lisan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari itu tanpa sadar memengaruhi anak-anak Anda.

Dalam setiap tahapan, anak-anak harus belajar bisa terkait kemampuan intinya, jika orangtua selalu turut campur secara berlebihan, hal itu malah mencabut kesempatan mereka untuk belajar kemampuan ini.

Dalam konsep mengenai uang, jangan segala sesuatunya itu selalu “disediakan” oleh orangtua, lalu bagaimana caranya agar sejak kecil anak Anda itu memiliki konsep yang benar tentang uang ?

Pahami tiga masalah berikut yang paling umum, tanamkan konsep yang benar tentang uang kepada anak-anak :

Anak-anak menghabiskan uang secara sembarangan, apakah harus mengatur dan mengontrol pengeluarannya?

Jika berlebihan mengontrol uang saku anak-anak, malah justru tidak bisa belajar konsep tentang uang !

Banyak orangtua yang khawatir anak-anak akan menghamburkan uangnya jika terlalu banyak diberikan uang saku, lalu mereka pun langsung mengontrol bagaimana anak-anak itu menghabiskan uangnya.

Padahal itu adalah cara yang keliru ! Jika demikian, hal itu hanya akan membuat anak-anak sedikit menghabiskan uangnya, tapi tidak memahami konsep yang benar tentang uang!

Pengeluaran biaya anak-anak sebaiknya ditentukan oleh anak itu sendiri. Perlu membiarkannya merasakan sendiri pengalaman bahwa jika “menginginkan sesuatu tapi tidak punya uang, sementara orangtua juga tidak bersedia membantu membelikannya !

Sebagai contoh : Dr. John Townsend, seorang psikolog dan penulis buku terlaris Amerika, ia akan secara tetap memberikan uang saku pada anaknya dan mengatakan kepadanya, bahwa uang itu harus digunakan (belanja) untuk sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Saat awal putranya hanya menganggap angin lalu pesan ayahnya, ia langsung membeli apa saja yang diinginkannya, sampai uang sakunya itu habis.

Suatu hari, putranya melihat buku komik yang sudah lama ingin dibelinya itu sekarang dijual dengan harga spesial, tetapi ia tidak punya uang sama sekali, kemudian ia minta ayahnya membelikan untuknya, tapi ditolak, sehingga ia baru merasakan “pahitnya akibat menghamburkan uang sembarangan”.

Sejak pengalaman pahit itu, sikap anaknya itu tampak jauh berbeda setiap kali hendak menggunakan uang. Ia mulai bisa berencana berapa banyak uang yang perlu dibelanjakan, dan berapa banyak uang yang harus ditabung sebagai persiapan bila dibutuhkan pada suatu waktu!

Banyak anak-anak yang menghabiskan uangnya sembarangan, karena belum pernah merasakan pahitnya “saat-saat tidak punya uang”. Namun, jika orangtua selalu membantu, maka hal itu tidak bisa dikatakan “benar-benar tidak punya uang”. Selama anak itu merasakan sekali pahitnya tidak punya uang, maka ia akan tahu bahwa sembarangan menghamburkan uang itu salah, sehingga dengan demikian ia akan belajar mengelola keuangannya secara tepat!

Bolehkah “memberikan uang jika mendapatkan nilai 100” sebagai pemicu semangat anak-anak ?

Membujuk atau memikat anak-anak dengan materi untuk melakukan sesuatu bisa mengembangkan kebiasaan anak itu yang “baru akan melakukannya bila ada manfaat baginya!

Banyak orangtua menggunakan cara disiplin malas ini, dengan demikian, tidak perlu lagi banyak bicara tentang prinsip kebenaran, juga tidak perlu buang-buang energi menjatuhkan hukuman fisik, asalkan ada manfaatnya, maka anak-anak akan melakukannya dengan baik.

Namun, cara ini akan membuat anak-anak tidak bisa merasakan daya tarik mencapai tujuan dari usaha kerasnya, dan secara perlahan-lahan mengembangkan kebiasaan anak itu yang baru bersedia melaksanakannya jika ada keuntungan buat dirinya.

Sebaiknya biarkan anak-anak menikmati kerja kerasnya untuk mendapatkan kepuasan, bukan kepuasan secara materi!

Sebagai contoh : Warren Buffett acapkali menutup diri sepanjang hari di dalam ruang kerjanya untuk berkonsentrasi meneliti data laporan keuangan. Ketika ia berjalan keluar dari ruang kerjanya, tidak tampak sedikitpun rasa lelah, justru sebaliknya penuh dengan sukacita, berseri-seri, di mata anaknya, Peter Buffett secara alami bisa merasakannya sejak kecil, bahwa proses dari kerja keras itu akan mendapatkan sukacita, dan konsep ini memberi pengaruh pada Peter, sehingga ia memutuskan meninggalkan jalur akademi musiknya dari Stanford University saat semester kedua, dan selama lebih dari tiga puluh tahun ia selalu bersuka cita dari hasil kerja kerasnya atas hal yang diminatinya itu.

Meminta anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bolehkah memberinya imbalan (uang) ?

Tujuan dari memberi uang : untuk mendidik anak-anak bahwa dengan bekerja baru bisa makan !

Banyak orangtua yang memberikan imbalan sebagai uang saku setelah mengajarkan anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga. Anak-anak mendapatkan imbalan untuk sesuatu yang dikerjakannya, sekaligus juga mengajarkan mereka untuk menghargai diri sendiri, agar mereka tahu, bahwa mendapatkan imbalan seusai kerja itu adalah hal yang wajar dan semestinya. Setelah kita mengorbankan tenaga dan waktu, kita harus berjuang untuk mendapatkan imbalan yang memang layak kita dapatkan, dan mendapatkan sesuai dengan pengorbanan (pekerjaan) kita, tidak boleh lebih! (Jhn/Yant)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular