Oleh: Xu Ru

9 September 2015 adalah peringatan 39 tahun meninggalnya mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Mao Zedong. Media massa RRT memberitakan peringatan oleh para anak cucunya yang berdatangan ke “makam”-nya di Lapangan Tiananmen sekaligus foto bersama. Mungkin bagi mereka, dibangunnya “makam” Mao di posisi pusat kota Beijing dan dipamerkan secara terbuka selama hampir 40 tahun agar disaksikan oleh masyarakat, adalah suatu hal yang sangat terhormat. Akan tetapi dilihat dari sisi budaya dan tradisi Tiongkok, makam ini tidak hanya telah merusak Fengshui kota Beijing, terlebih lagi dieksposnya makam Mao seperti ini sebenarnya adalah semacam hukuman.

Zaman dahulu kala di Tiongkok, masyarakat beranggapan setelah meninggal jasad harus “beristirahat dengan tenang di dalam tanah”, karena masyarakat kuno percaya adanya arwah, dan jika tidak dimakamkan akan menjadi arwah gentayangan yang akan berakibat fatal. Oleh karena itu, masyarakat zaman dulu sangat memperhatikan hal terkait kehidupan, kematian, pemakaman, dan penanganan jasad, bagi yang mampu akan membuat mekanisme perlindungan untuk mencegah penjarahan dan pengrusakan makam. Pada zaman dulu, baik keluarga miskin maupun kaya, akan berusaha memakamkan jasad secara layak.

Namun di zaman dulu juga ada kejadian jasad terekspos, dan pada masa itu dianggap sebagai semacam hukuman yang paling berat, yaitu untuk menghukum kejahatan yang dilakukan oleh si mendiang itu selama hidupnya, jasadnya diekspos di tempat umum, dan tidak bisa dimakamkan tanpa ijin. Di zaman Tiga Kerajaan (di Indonesia terkenal dengan Samkok, 220-280), pejabat bernama Dong Zhuo (*) yang suka membunuh lawannya juga pernah diekspos jasadnya. Melihat jasad Mao, walau dipajang dalam peti mati kristal, namun sesungguhnya tidak ada bedanya dengan diekspos, apalagi telah “dipamerkan” selama hampir 40 tahun. Ini tentunya merupakan cara PKT yang “atheis” membodohi rakyat, tapi bukankah itu juga merupakan takdir? Yang Maha Kuasa menghukum Mao yang telah melakukan banyak kejahatan dengan cara seperti ini.

Menurut penulis buku “The Black Book of Communism” yakni Stephen Cordova, korban tewas akibat paham komunis di seluruh dunia adalah antara 85 juta hingga 100 juta jiwa. Jumlah ini adalah lebih dari setengah dari jumlah korban PD-I dan PD-II yang dijumlahkan, dan korban di Tiongkok jauh lebih banyak daripada negara lain. Sebagai wakil paham komunis di Tiongkok, setelah berkuasa Mao melakukan gerakan demi gerakan yang membunuh puluhan juta jiwa rakyat Tiongkok, melalui penghancuran kebudayaan tradisional Tiongkok. Paham sesat PKT pun didoktrinkan, dan meracuni sebagian besar jiwa orang Tiongkok. Berbagai kerusakan yang diciptakannya sampai sekarang tidak bisa dihilangkan. Bagaimana mungkin Mao yang seperti ini dapat lolos dari hukuman?

Pada 2014 pernah ada media asing memberitakan sebagai berikut: Mural (lukisan dinding) di Gereja Kebangkitan (Resurrection Cathedral) yang baru dibangun di ibukota Republik Montenegro (dulu bagian dari Yugoslavia), kota Podgorica, menggambarkan pendiri paham komunis Marx dan Engels, serta mantan pemimpin Yugoslavia Tito, disiksa di neraka. Kritikus berpendapat gereja tidak seharusnya intervensi dalam politik, namun seorang biarawan gereja tersebut mengatakan, meskipun dirinya tidak dapat mengatasnamakan gereja untuk menentukan seseorang akan masuk surga atau neraka, namun Marx dan Tito melambangkan sesatnya paham komunis. Jika menurut pandangan agama Kristen, Katolik, maupun Buddha dan lain-lain, kejahatan membohongi dan menindas masyarakat oleh pencipta paham komunis yakni Marx dan Engels serta para pengikutnya, memang pantas untuk menderita di neraka.

Mengenai keberadaan surga dan neraka, ada atau tidaknya Tuhan, tergantung pada masing-masing pribadi apakah mau menghormati fakta. Tidak hanya di berbagai buku dari dalam maupun luar negeri, dan berbagai kejadian telah membuktikan adanya surga dan neraka, juga adanya Tuhan, padahal ilmu pengetahuan yang dipercaya oleh kaum atheis juga sejak lama telah membuktikan adanya surga dan neraka, hanya saja dengan sengaja diabaikan oleh PKT.

Mao yang tidak hanya telah diekspos jasadnya selama lebih dari 30 tahun, tidak akan tenang arwahnya setelah meninggal. Konon menurut seorang paranormal di Chengdu beberapa tahun lalu, setelah meninggal Mao dan Zhou Enlai masuk neraka dan disekap di neraka tingkat ke-18. Kejahatan mereka begitu berat sehingga sampai sekarang belum lunas terbayar, dan masih terus mendapat siksaan. Ini mungkin juga akan dialami dan ditakuti oleh Jiang Zemin dan Zeng Qinghong yang juga telah melakukan banyak kejahatan.

*dari redaksi: copas dari Wikipedia: Dong Zhuo (董卓) (139192), negarawan pada penghujung zaman Dinasti Han. Ia menguasai Luoyang pada tahun 189 setelah ibukota jatuh ke dalam kekacauan karena tewasnya Kaisar Ling dan perselisihan berdarah antara faksi kasim dengan pejabat negeri. Setelah itu, Dong Zhuo mengambil alih tahta dan memasang Kaisar Xian sebagai boneka. Namun, kekejamannya menimbulkan kemarahan. Pemimpin perang di seluruh negara segera membentuk koalisi melawannya, sehingga Dong Zhuo memindahkan ibukota ke Chang’an. Ia akhirnya dibunuh oleh anak adopsinya, Lü Bu, sebagai bagian dari rencana yang dibuat oleh Wang Yun pada tahun 192. (sud/whs/rmat))

Share

Video Popular