Oleh: Liu Chengyin

Menurut laporan AFP pada 11 September 2015, sebuah tim medis yang terdiri dari para dokter ahli dari Tiongkok dan Italia akan melakukan transplantasi pertama kepala manusia yang rencananya akan berlangsung di rumah sakit Tiongkok. Namun, salah seorang dokter spesialis menyatakan keprihatinannya terhadap etika kedokteran ahli medis Tiongkok.

Politisi Tiongkok Ren Xiaoping bersama dokter Italia Sergio Canavero berharap persiapan dapat diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Tetapi kata Ren bahwa hanya studi persiapan dan pengujiannya yang dapat dilakukan sesuai rencana.

“Banyak media melaporkan bahwa kami akan melakukan operasi itu pada 2017, tetapi setiap langkah persiapan perlu dipertimbangkan secara saksama sebelum operasi dilakukan”, demikian Ren Xiaoping menyampaikan kepada AFP.

Dokter Sergio adalah penanggung jawab Neurology Study Group yang berlokasi di kota Turin, Italia. Ia pertama kali mengumumkan proyek penelitian ini pada 2013, dan mengatakan bahwa banyak pekerjaan persiapan yang perlu dilakukan sebelum operasi, jadi transplantasi itu paling cepat juga baru bisa dilakukan pada 2016.

Namun, untuk memecahkan begitu banyak masalah teknis dan hambatan dalam waktu yang sangat pendek ini tampaknya tidak memungkinkan. Relawan yang bersedia menerima operasi transplantasi ini adalah Valery Spiridonov, pria warga Rusia yang kini berusia 30 tahun itu menderita penyakit otak yang disebut Werdnig-Hoffimann. Salah satu penyakit yang secara bertahap akan menjadi makin serius dan belum ada obatnya.

Ren menyampaikan bahwa operasi transplantasi kemungkinan besar akan dilakukan di Harbin Medical University yang berlokasi di propinsi Heilongjiang, Tiongkok. Ia menolak mengungkapkan identitas pendonor, termasuk tidak bisa memastikan apakah pendonor itu adalah warga Tiongkok.

Di Tiongkok, donatur organ tubuh jauh lebih sedikit daripada permintaan rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa para tahanan besar kemungkinan masih akan dijadikan sumber utama persediaan organ keperluan mereka. Misteri itu belum terungkap dan terus menjadi perdebatan sengit masyarakat.

Pemerintah Tiongkok berjanji tidak akan menggunakan lagi organ tubuh para tahanan yang dieksekusi mati, tetapi para ahli masih bersikap skeptis terhadap pernyataan tersebut, dan percaya bahwa pengambilan organ tubuh para tahanan masih akan berlangsung dengan cara menggolongkan sebagai organ ‘sumbangan donatur’.

Tiongkok pernah mengeluarkan larangan penjualan organ tubuh manusia pada 2007, tetapi jumlah permintaan transplantasi jauh lebih tinggi dari jumlah donatur. Sehingga sejumlah permintaan pasar diatasi dengan cara memaksa orang mendonorkan organ dan atau melalui transaksi ilegal.

Warga Tiongkok hanya sedikit yang mau menyumbangkan organ tubuhnya setelah kematian. Karena mereka percaya bahwa manusia akan berinkarnasi sehingga demi kesempurnaan keutuhan tubuh perlu dijaga. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular