- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Ratusan Warga Keturunan Tionghoa Ditangkap dan Sebagian Dibunuh oleh Pemerintah Korut

Keterangan gambar; Warga keturunan Tionghoa di Pyongyang akhir-akhir ini dijadikan target razia oleh pihak berweang Korea Utara. Mereka ditangkap dengan tuduhan melakukan kegiatan spionase dan dijebloskan ke tahanan, bahkan sebagian dieksekusi mati. Gambar yang diambil pada 23 Agustus ini menunjukkan orang-orang media Korea Selatan sedang berkumpul di dekat Jembatan Persatuan yang berjarak sekitar 1 km dari Panmunjom. (Ed Jones/AFP//Getty Images)

Oleh: Luo Ya

Ratusan warga keturunan Tionghoa baru-baru ini menjadi target razia pemerintahan Korea Utara/ Korut. Mereka ditangkap dengan tuduhan melakukan spionase dan dihukum penjara seumur hidup bahkan sebagian dari mereka langsung dieksekusi mati. Berita yang beredar melalui internet menggemparkan masyarakat. Banyak orang yang menyesalkan perlakukan pemerintahan Korea Utara yang meskipun telah banyak menerima bantuan dari Tiongkok berupa bahan makanan dan dana tetapi masih memperlakukan warga keturunan Tionghoa secara biadab.

Publik menggambarkan pemerintah Korea Utara sebagai ‘serigala bermata putih’ (manusia yang tidak mengenal balas budi),juga merasa tidak puas terhadap media Tiongkok yang membantu menutup-tutupi kejadian tersebut. Ada orang mengatakan, “Kalau media memberitakan, maka wartawannya yang akan dipecat”.

Asia Week baru-baru ini melaporkan bahwa sejak awal tahun ini petugas Departemen Keamanan Nasional Korea Utara terus melancarkan razia terhadap warga keturunan Tionghoa yang hidup di Korea Utara. Ratusan orang sudah ditangkap dengan tuduhan melakukan kegiatan spionase di Korea Utara. Sebagian besar telah dijatuhi hukuman penjara di atas 8 tahun, dan sebagiannya bahkan sudah dieksekusi mati dan dipenjara seumur hidup.

Dari ungkapan seorang warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Korea Utara kepada majalah Asia Week diketahui bahwa, orang-orang yang ditangkap itu semua dituduh telah melakukan tindak spionase, membocorkan rahasia negara kepada pemerintah Tiongkok. Tuduhan itu bisa berupa menyebarkan rekaman video kepada warga asli Korea Utara tentang kehidupan masyarakat Korea Selatan, atau berupa menyebarkan kondisi sosial Korea Utara ke luar negeri. Mereka itu umumnya dianggap sebagai mediator yang mengurusi pengiriman uang kepada para pembelot Korut, juga sebagai penyebar agama sesat.

Laporan mengutip sumber terpercaya menyebutkan bahwa para famili dari warga keturunan itu kebanyakan tinggal di Dandong, Liaoning, Shenyang, Jilin dan daerah tenggara Tiongkok yang berdekatan dengan perbatasan Korea Utara. Semenjak paman Kim Jong-un yang memiliki hubungan dekat dengan pehabat Beijing dieksekusi mati pada 2013, hubungan Tiongkok – Korea Utara menjadi terganggu.

Departemen Keamanan Nasional Korea Utara sewaktu-waktu melakukan pemantauan terhadap warga keturunan, selain juga melakukan penyidikan terhadap mereka yang berkunjung ke Tiongkok, menanyakan kepada mereka apa saja yang dilakukan di Tiongkok. Departemen pun melarang warga asli Korea Utara untuk berhubungan dekat dengan warga keturunan dan mendorong warga asli setempat untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang temuan ucapan atau tindakan para warga keturunan yang ‘membahayakan negara’. Departemen juga mengeluarkan peraturan yang melarang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Korea Utara untuk menggunakan ponsel buatan Tiongkok. Bagi mereka yang melanggar akan dikenakan sanksi berat atau deportasi.

Pejabat resmi Korea Utara memiliki catatan yang berbeda tentang jumlah warga keturunan Tionghoa di Korea Utara. Ada yang mencatat 5.000 dan ada yang mengaku 8.000 jiwa. Namun Deplu Tiongkok mencatat jumlah warga tersebut berkisar 3.000 jiwa yang umumnya bertempat tinggal di Pyongyang, Sinuiju, Chongjin, daerah Pyongan-bukdo dan Hamgyong.

Pihak berwenang Korea Utara melakukan tindakan sewenang-wenang jelas akan menimbulkan kecaman keras dari masyarakat keturunan Tionghoa. (sinatra/rmat)