Keterangan gambar: Beberapa waktu lalu, setelah tertahan di Negara transit selama beberapa hari, sekitar 1.200 pengungsi lantaran rasa keputusasaannya, memutuskan untuk menempuh jarak 170 km dengan berjalan kaki menuju perbatasan Austria. (AFP PHOTO / FERENC ISZA)

Oleh: He Qinglian

Gelombang pengungsi dari Suriah membanjiri negara-negara Uni Eropa dengan jumlah jauh melampaui beban yang dapat ditampung negara-negara itu. Kematian seorang bocah Suriah mengundang simpati, ibarat sekuntum bunga yang mekar di tengah gumpalan permasalahan rumit. Hari minggu lalu sikap pemerintah Jerman langsung berbalik arah, pemeriksaan di perbatasan diaktifkan kembali, dan menyatakan pengungsi tidak dapat memilih bebas negara tujuan pengungsian. Kemudian menyusul Austria, Belanda, Ceko, Hongaria, dan lain-lain juga mulai mengaktifkan kembali pemeriksaan di perbatasan, “Europe without border” yang merupakan ciri khas dari impian “Uni Eropa bersatu” akhirnya hancur berkeping-keping. Di saat manusia memasuki era “Global Village” sekarang ini, angin yang dikepakkan sayap kupu-kupu raksasa para pengungsi Suriah ini ditakdirkan akan menggulung RRT ke dalam pusarannya.

Sikap Dingin RRT Dikritik

Pada 10 September 2015 lalu, surat kabar “New York Post” memuat berita berjudul “RRT Pangku Tangan Terhadap Krisis Pengungsi, Sebut Barat Tuai Akibat Buruk”, yang mengecam sikap dingin dan berpangku tangannya RRT terhadap para pengungsi Suriah, dengan menitik beratkan pada dua hal.

Pertama, RRT tidak mau mengeluarkan uang, jika dibandingkan dengan negara lain, sejak tahun 2012 RRT hanya membantu Suriah yang mengalami “pergolakan internal” sebesar USD 14 juta (), sekitar 0,1% dari total sumbangan dunia yang berjumlah USD 14 milyar (). Dan hanya menduduki posisi ke-32, jauh di bawah Jepang (posisi ke-9 dengan nilai sumbangan sebesar USD 445 juta dan berjanji akan menambahkan USD 2,4 juta lagi).

Kedua, kritikan terhadap sikap banyak warga RRT yang menentang menerima pengungsi Suriah. Juga mengutip berita surat kabar “Hongkong Free Press”, bahwa hingga saat ini warga Tiongkok “rata-rata menentangnya karena merasa RRT tidak ikut bertanggung jawab atas pergolakan di Timur Tengah, masih banyak rakyat Tiongkok yang hidup menderita, apalagi para pengungsi juga tidak berniat datang ke RRT.”

Saya bisa memahami kritik seperti ini, karena kebanyakan masyarakat internasional hanya mengetahui RRT sebagai negara ekonomi kedua terbesar dunia, yang memiliki cadangan devisa senilai lebih dari USD 3 trilyun, namun mereka tidak tahu menahu bahwa kondisi rakyat kalangan bawah di RRT bahkan hidup jauh lebih menyedihkan dibandingkan para pengungsi. Namun menurut saya kritik tersebut hanya benar dalam 1 hal saja.

Satu hal yang benar itu adalah kritik akan sedikitnya bantuan ekonomi dari RRT, pemerintah RRT seharusnya mempertimbangkan memberikan lebih banyak sumbangan. Meskipun kondisi ekonomi RRT tahun ini merosot, keuangan daerah sedang kesulitan, uang untuk kehidupan rakyat sangat terbatas, tapi jika anggaran militer bisa disisihkan beberapa juta dolar AS sebagai wujud simpati terhadap krisis kemanusiaan sudah sepantasnya.

Satu hal yang tidak tepat adalah membuat RRT menerima pengungsi Suriah. Sebagai negara berpenduduk terbanyak dunia, sejak tahun 2005 telah terdapat 180 juta jiwa pengungsi ekologi di Tiongkok, dan 1,5 juta jiwa diantaranya tidak ada tempat relokasi (angka yang diungkap oleh mantan Wakil Menteri Lingkungan Hidup yakni Pan Yue saat diwawancara pada tahun 2005), konflik dengan suku Uyghur di Xinjiang yang menyebabkan konflik ekonomi, diskriminasi pekerjaan, konflik agama, telah menyebabkan kondisi di Xinjiang sangat tegang. Seandainya pemerintah RRT bersedia menerima para pengungsi, jika diberitahu tentang perlakuan yang bakal didapat, para pengungsi pun tidak akan bersedia mengungsi ke RRT. Diterapkannya kebijakan satu anak, jika pada pengungsi diberlakukan kebijakan kelonggaran bagi suku minoritas, mengijinkan mereka mempunyai 2-3 anak, dan diberikan tunjangan (sesuai standar tertinggi di Beijing, Tianjin dan Shanghai sebesar RMB 700 Yuan per bulan, setara USD 110), para pengungsi pun akan berpendapat mengungsi ke RRT justru makin menderita, karena kehidupan dan kondisi HAM mereka sebelumnya di negara asal jauh lebih baik daripada perlakuan khusus di RRT: anak-anak adalah berkat dari Yang Maha Kuasa, tidak perlu indeks KB; PDB Suriah meskipun tidak setinggi RRT, tapi para pengungsi itu merupakan masyarakat tingkat menengah di Suriah yang biaya hidupnya lebih dari USD 110 per bulan.

Oleh karena itu, agar tidak timbul konflik antara pengungsi dengan pemerintah RRT dan demi kesejahteraan para pengungsi, menakar kemampuan RRT, cukup memberi sedikit sumbangan. Meskipun ada juga warga RRT mengatakan “uang kita juga tidak seberapa banyak”, tapi RRT adalah negara besar, sudah sepantasnya berkewajiban membantu, menghadapi bencana kemanusiaan seperti ini, saya yakin rakyat Tiongkok akan sangat memaklumi pemerintah agak banyak menyumbangkan uang.

Bayangan Dunia Terkait Pengungsi Tiongkok

Bayangan dunia tentang gelombang pengungsi, tidak sedikit menjadikan RRT sebagai sosok pemeran utama, buku karya Wang Lixiong berjudul “Bencana Kuning” adalah karya representatifnya. Buku itu menjelaskan: begitu terjadi konflik gejolak dalam negeri di RRT, warga Tiongkok akan mengalir kemana-mana, berbagai negara merasa terganggu, “tim pembasmi” pun dibentuk untuk mengatasinya. Penduduk RRT mencakup 1/5 dari populasi dunia, imigran legal maupun ilegal dari RRT tersebar di seluruh dunia, selama ini dikenal dengan slogan “dimana ada sinar matahari, disitu ada keringat orang Tionghoa, dimana ada sinar rembulan, disitu ada air mata orang Tionghoa”. Negara Kanada dan Australia yang selama 2 tahun terakhir ini juga telah mulai memperketat aturan bagi imigran dari RRT.

AS selalu meminta agar RRT menjadi sebuah “negara besar yang bertanggung jawab”, makna ini sangat mendalam. Harapannya adalah pemerintah RRT terus memperbaiki HAM, menghilangkan ketegangan di tengah masyarakat, jangan memicu warga RRT melarikan diri ke luar negeri dan menciptakan tekanan bagi dunia, inilah yang dimaksud dengan salah satu dari “tanggung jawab” tersebut.

Di kalangan etnis Tionghoa beredar suatu anekdot yang sulit membuat tertawa: Saat berkunjung ke AS, Presiden AS waktu itu Jimmy Carter mengkritik Deng Xiaoping dengan program satu anak yang tidak sesuai HAM. Deng menjawab, bagaimana kalau setiap tahun kami memberikan puluhan juta jiwa untuk Anda? Mendengar pernyataan itu Presiden AS terdiam.

Bagaimanapun juga, kata-kata Deng ini mengungkapkan, ia tahu kebanyakan negara tidak akan menyambut baik banyak warga Tiongkok masuk ke negaranya, ini mungkin merupakan peringatan yang dilontarkan oleh kerap terjadinya peristiwa anti-Tionghoa di negara-negara Asia Tenggara. Sebisa mungkin menghindari warga Tiongkok pergi ke luar negeri dan mendatangkan kesulitan, hal ini disetujui setiap negara di dunia, dalam hal ini pemerintah RRT telah menjalankan tugasnya sebisa mungkin mengendalikan warganya pergi ke luar negeri. Tapi kali ini gelombang pengungsi asal Suriah didahului oleh negara dunia Arab, yang menimbulkan dampak tidak kecil terhadap dunia termasuk juga RRT.

Reaksi Pemerintah dan Warga RRT

Hikmah bagi Tiongkok dari krisis pengungsi Suriah ini dapat terbagi menjadi hikmah bagi pemerintah dan bagi rakyat. Artikel pada surat kabar “People’s Daily” edisi luar negeri berjudul “AS dan Eropa Seharusnya Pikirkan Akar Penyebab Arus Pengungsi” telah mengungkap sikap pemerintah RRT.

Artikel itu memaparkan Libya dan Suriah yang mengalami “kehancuran” karena “Arab Spring”, dan berpendapat “terjadinya tragedi seperti ini sebagian adalah karena sejumlah ‘kaum demokrat’ di negara-negara tersebut bertekad menggulingkan kekuasaan otoriter yang tadinya relatif stabil; alasan utamanya adalah karena AS dan Eropa dalam kesempatan itu menerapkan ‘pergantian kekuasaan politik’ di negara tersebut”, adanya konspirasi kekuatan dalam dan luar negeri yang telah menyebabkan negara tersebut hancur, masyarakat tingkat menengah terlantar menjadi pengungsi.

Penulis memperingatkan, “Begitu negara itu terperosok dalam pergolakan, sepintar atau sehebat apapun seseorang, tetap akan menjadi pengungsi, arus pengungsi ini memperingatkan AS dan Eropa, agar merenungkan kebijakan luar negerinya, belajar untuk ‘tidak melakukan apa yang tidak diinginkannya terhadap orang lain’. Bagi negara berkembang termasuk RRT, seharusnya lebih memahami makna mendalam dari ‘stabilitas adalah di atas segalanya’, benar-benar memahami prinsip fundamental bahwa ‘hanya dengan negara yang kuat, seseorang baru dapat mencapai kebahagiaan’.”

Pernyataan ini mengandung peringatan ganda, pesan yang disampaikan pada rakyat Tiongkok adalah: meskipun kekuasaan otoriter memiliki kekurangan, namun jika terlalu menuntut demokrasi, kemungkinan terbesar adalah menyebabkan pergolakan negara, rakyat akan menjadi pengungsi. Pesan bagi pemerintah AS dan Eropa adalah: jika ingin meruntuhkan RRT, maka akan terjadi arus pengungsi yang lebih besar lagi, yang akan membuat AS maupun Eropa kewalahan mengatasinya.

Kata-kata ini menyatakan bahwa pemerintah Tiongkok tidak akan pernah menyerahkan kekuasaan pada rakyat dan menjalankan politik demokrasi, serta mencapai stabilitas sosial lewat cara otonomi daerah. Jika rakyat menuntut demokrasi, maka kedua belah pihak akan hancur bersamaan.

Pandangan masyarakat representatif dengan artikel “Pelajaran dari Kalangan Menengah Suriah”, artikel itu terlebih dahulu mendefinisikan status pengungsi, menyebutkan sejak Januari hingga Juni 2015, diantara 137.000 orang pengungsi yang berupaya mencapai Eropa lewat Laut Tengah, sebanyak 1/3 di antaranya berasal dari Suriah. Para pengungsi Suriah tersebut dulunya adalah pengawai negeri, insinyur, dokter, pemilik usaha, pebisnis dan lain-lain bahkan dari kalangan atas. Uraian berikut merefleksi kalangan menengah di RRT, seperti halnya kalangan menengah Suriah “yang selalu menganggap dirinya sebagai kelompok yang terletak diantara pusat kekuasaan di bagian atasnya dan kalangan miskin di bagian bawahnya, sebagai penopang untuk menjaga keamanan dan stabilitas negara dan masyarakat, sebagai harapan masa depan bangsa dan kaum elit masyarakat. Mereka tidak peduli akan penderitaan dan tuntutan kalangan bawah”, serta bagaimana kalangan menengah mengabdi pada kekuasaan otoriter, menjadi pengikut Assad, menikmati dekat dengan kekuasaan, tidak memikirkan perubahan, akhirnya setelah “Arab Spring”, mendapati dirinya “sebenarnya bukan siapa-siapa”, tidak diterima di pihak manapun, dan terjerumus dalam kesulitan dan menjadi pengungsi.

Karena refleksi dari artikel ini melukiskan perbandingan yang begitu kontras, saya tidak tahu seberapa banyak gambaran nyata kaum menengah Suriah di artikel ini, menempatkan artikel ini sebagai cambuk dan sindiran terhadap kalangan menengah di RRT seharusnya malah sangat tepat. Inti dari artikel tersebut menyimpulkan satu hal bahwa kalangan menengah di Tiongkok, jika tidak bangkit untuk melawan, maka akan mengalami nasib seperti kalangan menengah Suriah yang hanya akan terlantar menjadi pengungsi.

Di tengah peringatan pemerintah, kalangan menengah menjadi sasaran utama; di tengah peringatan rakyat, kalangan menengah menjadi sasaran utama sindiran. Namun kalangan menengah di RRT terlalu lemah, tidak mampu mengemban tanggung jawab ini, di tengah himpitan pemerintah otoriter dan kaum proletar (kalangan tidak mampu) baru, memilih diam dan imigrasi menjadi pilihan nyata bagi sebagian besar kalangan menengah ini. Tahun ini modal dari RRT yang mengalir ke luar negeri sangat banyak, timbulnya arus pengungsi Suriah, hanya akan membuat kalangan menengah RRT yang lebih mampu melarikan diri lebih cepat.(sud/whs/rmat)

Share

Video Popular