- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Memberi Manfaat Apakah Pengungsi Timteng di Jerman?

Keterangan gambar: Pada 16 September 2015, pengungsi menyeberang ke kota Freilassing, Jerman, dari Salzburg, Austria, lewat sebuah jembatan. (Christof Stache/AFP/Getty Images)

Oleh: Wen Jing

Tahun ini total sebanyak 800.000 orang pengungsi, entah berapa banyak akan tiba tahun depan. Dana yang dihabiskan untuk pengungsi sebesar milyaran Euro setahun, tahun depan entah berapa banyak lagi akan digelontorkan?

Namun sebagian besar warga Jerman tidak mengeluh, melainkan menganalisa dengan kepala dingin, berusaha untuk mencari jalan keluar. Mari kita lihat analisa oleh media massa Jerman terhadap perubahan yang timbul akibat adanya pengungsi terhadap berbagai aspek di Jerman.

Sekolah Dasar dan Menengah: 250.000 Pelajar Baru Perlu Berasimilasi

Diperkirakan tahun ini Jerman menampung sebanyak 800.000 orang pengungsi, dan sekitar 250.000 orang diantaranya belum cukup umur. Banyak sekolah dasar dan menengah di Jerman telah mulai membuka atau bersiap-siap membuka “kelas persiapan”, atau “kelas transisi”, atau “kelas persiapan internasional”, istilahnya berbeda-beda, namun tujuannya sama: menyediakan pelajaran bahasa bagi anak-anak pengungsi yang hampir tidak bisa berbahasa Jerman sepatah kata pun, agar mereka mendapat peluang untuk mengenyam pendidikan yang wajar.

Saat ini di seluruh sekolah dasar dan menengah serta sekolah kejuruan di Jerman menampung sekitar 11 juta anak didik, sekolah negeri bebas biaya, dan pemerintah Jerman setiap tahunnya mengeluarkan biaya 6.500 Euro bagi setiap orang pelajar. Datangnya 250.000 orang anak pengungsi ini tidak hanya menjadi masalah dalam hal membantu mereka berasimilasi, dalam hal keuangan juga merupakan tantangan yang cukup berat.

Taraf pendidikan anak pengungsi sangat berbeda, seorang guru Bavaria menyatakan pada surat kabar “Süddeutsche Zeitung”, ada anak yang belum bisa baca tulis, yang dulunya hanya pernah menjadi penggembala kambing atau pekerjaan lain, ada juga yang mencapai taraf tata bahasa sekolah menengah dan menguasai 2-3 bahasa, tapi justru tidak menguasai bahasa Jerman.

Bagi pengungsi yang telah kuliah, sikap perguruan tinggi di Jerman sangat dermawan, ketika banyak pengungsi belum mendapat status kewarganegaraan, perguruan tinggi telah setuju untuk menerima mereka sebagai mahasiswa tamu untuk mengikuti pelajaran, bahkan juga menyediakan beasiswa, juga disediakan konsultasi khusus. Selain itu, jika ijazah sekolah menengah mereka hilang ketika mengungsi, universitas di Jerman mengatasinya dengan fleksibel.

Tempat Tinggal: Perpustakaan Universitas Pun Dimanfaatkan

Pengungsi sebanyak 800.000 orang, dimanakah mereka tinggal?

Berlin dengan cara tercepat membangun tidak sedikit “rumah peti kemas”, setiap rumah disusun seperti peti kemas, diproduksi masal di pabrik, lalu ditumpuk satu persatu di lokasi, sebuah bangunan kecil beberapa lantai pun seketika itu berdiri tegak. Saat ini musim panas, sejumlah pengungsi masih berdiam di tenda. Beberapa tahun terakhir banyak toko jaringan bahan bangunan yang tutup, rumah-rumah yang kosong terbengkalai tanpa penghuni, kini menjadi bermanfaat sebagai tempat tinggal para pengungsi.

Hampir semua wilayah di Jerman menerima pengungsi, memesan “rumah peti kemas” butuh waktu 5 bulan, sehingga gedung olahraga pun sering menjadi pilihan darurat. Di sana sudah ada toilet, kamar mandi, tak perlu lagi membangun apa-apa.

Gedung olahraga di Jerman tidak dibuka hanya untuk pertandingan, hampir setiap hari ada berbagai klub olahraga yang berlatih disana, dengan ditempati para pengungsi, tentu saja latihan menjadi tidak bisa dilakukan. Di kota pelajar Freiburg, tempat berdiamnya pengungsi adalah perpustakaan. Meskipun mendatangkan sejumlah kesulitan, namun walikota Ulrich Von Kirchbach mendukung penuh kebijakan ini, kepada surat kabar “Süddeutsche Zeitung” Kirchbach mengatakan, “Kita harus mempertimbangkan dari aspek makro.”

Dana: Setahun Habiskan Milyaran Euro

800.000 orang pengungsi, menurut kalkulasi pemerintah Jerman, setiap tahun pemerintah harus menghabiskan dana sebsar 12.500 Euro (202 juta rupiah) untuk setiap orang pengungsi. Pada 2015 dana yang dikeluarkan sebesar 10 milyar Euro (162 triliun rupiah). Ini hanya perkiraan, karena tidak ada yang tahu pengungsi akan pergi ke negara lain, atau membutuhkan bantuan apa, apakah dukungan masyarakat dapat meringankan beban negara. Tapi meski demikian, menerima begitu banyak pengungsi, membuat warga Jerman harus menanggung beban sangat besar.

Tenaga Kerja: Pabrik Mencari Pekerja Baru Diantara Pengungsi

Fenomena semakin menuanya usia masyarakat Jerman semakin parah, mulai dari pekerjaan perawat sampai pekerjaan pabrik, bahkan ahli komputer, banyak pekerjaan yang mengandung unsur teknis sangat kekurangan tenaga kerja. Sekarang dengan datangnya pengungsi, orang-orang yang berkompeten diantara pengungsi dengan sendirinya menjadi sasaran bagi perusahaan Jerman.

Membiarkan pengungsi lebih mudah memasuki pasar lapangan kerja di Jerman, adalah harapan bersama Serikat Buruh di Jerman dan juga Aliansi Pengusaha. September tahun lalu, Jerman merevisi undang-undang, pemohon status pengungsi dan orang yang mendapat toleransi tinggal setelah 3 bulan berdiam di Jerman boleh bekerja atau mendapat pelatihan kerja, syaratnya adalah jika di Jerman atau di negara Eropa lainnya tidak bisa ditemukan orang yang sesuai. Aturan sebelumnya adalah 9 bulan.

Beberapa bulan lalu, perusahaan Daimler – Benz AG menghimbau agar tenggang waktu ini diperpendek, pengungsi dijinkan untuk bekerja atau mendapat pelatihan setelah satu bulan menetap. Beberapa waktu lalu, gubernur negara bagian Schleswig-Holstein bahkan mengusulkan, agar pengungsi diijinkan bekerja begitu tiba di Jerman, hal ini tidak hanya akan memberi kemudahan bagi pengungsi, melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat.

Sebuah kelas pelatihan pekerja bangunan khusus bagi pengungsi di Berlin telah mulai beroperasi. Beberapa orang pria muda pengungsi terpilih untuk belajar menjadi tukang kayu, tukang semen, dan tukang cor, setiap 2 hari berganti jenis pekerjaan. Meskipun kebanyakan dari mereka tidak bisa bahasa Jerman, tapi mereka bisa memahami instruksi dari petugas pembina, dan mereka sangat teliti saat bekerja.

Seorang pemuda asal Nigeria berkata pada media Jerman, “Jika Jerman membutuhkan orang-orang bertalenta, kami berdiri di depan pintu, mengapa tidak membiarkan kami masuk?”

Memang, pekerja Jerman yang mengajarkan mereka menyusun bata membangun tembok berkata, “Jika boleh, kami ingin segera mempekerjakan dia.”

Perlu diketahui, pabrik itu sedang sangat kesulitan mencari tenaga kerja. Tapi pakar juga menunjukkan, sebanyak 11% pengungsi adalah buta huruf, dan yang dibutuhkan Jerman adalah orang yang menguasai keterampilan, jangan mengira setiap pengungsi dapat menutupi kekurangan tenaga kerja di Jerman. (sud/whs/rmat)