Keterangan foto: Sejak tahun 2013, Li Ka-shing (di sebelah kirinya adalah sang putra) terus menarik modalnya dari RRT dan mengalihkannya ke Eropa. (Epoch Times)

Oleh: Liu Yi

Belum lama ini, ditariknya investasi taipan Hong Kong Li Ka-shing dari Tiongkok kembali menjadi topik pembicaraan hangat di media massa RRT. Komentator menyatakan, hengkangnya modal Li Ka-shing dari RRT bukan lantaran penyebab tunggal saja, empat ancaman yang sedang dihadapi PKT saat inilah kemungkinan merupakan alasan utama hengkangnya taipan tersebut.

Media massa PKT beberapa waktu lalu telah melontarkan seruan “Jangan Biarkan Li Ka-shing Melarikan Diri”, membuat ditariknya investasi Li Ka-shing kembali menjadi topik pembicaraan hangat. Pada 19 September lalu, Phoenix Network menayangkan analisa seorang komentator sekaligus pengamat internasional bernama Qiu Zhenhai. Menurut Qiu, satu dari empat ancaman yakni anjloknya ekonomi secara drastis yang dialami oleh PKT saat ini mungkin merupakan alasan divestasi oleh Li Ka-shing saat ini.

Menurut penulis, yang dibicarakan masyarakat soal anjloknya ekonomi hanya menitik beratkan pada “tiga lokomotif” yang menarik gerbong pertumbuhan ekonomi, yakni ekspor, investasi dan konsumsi yang melemah. Dengan kata lain permintaan mengalami penurunan. Sangat jarang orang memperhatikan tantangan berat yang dihadapi ekonomi Tiongkok dalam hal pasokan.

Menurunnya keunggulan Tiongkok dalam hal “tenaga kerja yang melimpah” sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan, apalagi dampak negatifnya akan terus meluas hingga 20 tahun ke depan. Oleh karena itu, bagaimana PKT akan terus mencari sumber dan tenaga pendorong bagi pertumbuhan ekonomi cepat untuk 20 tahun ke depan dalam kondisi tidak ada lagi keunggulan dalam hal “tenaga kerja”, satu-satunya jalan adalah meningkatkan Faktor Produktivitas Total (TFP), terutama meningkatkan daya saing yang berpusat pada inovasi. Tapi di dalam sistem pendidikan konvensional yang tidak mendorong terciptanya inovasi, dengan atmosfir pada masyarakatnya yang tidak mendorong keterbukaan pemikiran, mendadak harus berinovasi, adalah suatu hal yang sangat mustahil.

Selain itu, PKT menghadapi ancaman krisis moneter yang sistematis, yakni terjadi “efek domino” merosotnya bidang keuangan. Bisa terdapat banyak jalur masuk dalam hal ini, tapi pada dasarnya tidak terlepas dari sumber utama krisis hutang saat ini. Debt Leverage Rasio (rasio hutang pengungkit) RRT telah mencapai 200% dari PDB nya, dan hutang daerah melonjak secara mengejutkan. Dalam satu dekade saja, hutang daerah mencapai 5-6 kali lipat, dan masih terus menunjukkan tren meningkat. Pemerintah daerah berani untuk terus menambah hutang, adalah karena yakin bahwa di bawah pemerintahan PKT saat ini, pemerintah pusat akan menjamin segala hutang pemerintah daerah.

Namun kredit macet maupun bermasalah di bank tetap harus dibersihkan. Suatu hari, pemerintah pusat akan tak berdaya menjamin seluruh hutang oleh pemerintah daerah. Dan pada saat hal itu terjadi, mungkin akan menjadi hari meletusnya krisis moneter sistematis di RRT. Pada saat itu terjadi, maka arus hengkangnya modal keluar akan mencapai puncaknya, juga akan menjadi momen dimana harga aset akan anjlok drastis, seluruh “efek domino” itu akan meletus seketika. Selain itu, PKT juga menghadapi krisis stabilitas sosial serta ancaman konflik militer dari luar negeri.

Pada 12 September, kantor berita Xinhua mempublikasi artikel yang ditulis seorang peneliti dari Business Technology Quality Center RRT bernama Luo Tianhao berjudul “Jangan Biarkan Li Ka-shing Melarikan Diri” . Menurut artikel itu, karakteristik Li Ka-shing selama hampir 20 tahun untuk meraih kekayaan di RRT tidaklah sesederhana soal perdagangan semata. Artikel itu menunjukkan, Li Ka-shing tidak mempedulikan dukungan kuat dari pemerintah pada dirinya dalam bidang infrastruktur, pelabuhan dan properti, begitu masa sensitif saat terjadi krisis ekonomi tak hentinya menjual di bawah harga pasar, ini menimbulkan meluasnya sikap pesimis di sejumlah kalangan, dan hilangnya etika. Artikel itu juga menyebutkan, berkat “payung perlindungan” dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang menjadikan clan Li Ka-shing menggurita.

Pada 13 September malam hari, juru bicara Chang He Enterprise menanggapi komentar di atas dengan mengatakan, kelompok bisnis itu tidak menarik modalnya, dan itu adalah perilaku bisnis yang wajar. Wakil CEO Chang He Enterprise Victor Li dalam konferensi pers Cheung Kong Infrastructure sebelumnya telah meluruskan, tidak terjadi penarikan investasi pada Cheung Kong Group, adanya transaksi jual dan beli adalah perilaku bisnis yang wajar.

Deng Yunqing, seorang manager dari suatu perusahaan media digital di Shenzhen mengomentari pernyataan ini, “Seorang pebisnis, pasti akan mencari keuntungan dan menghindari kerugian, memaksimalkan keuntungan adalah hal wajar. Dulu Anda pernah memberikan kemudahan bagi orang lain, masalahnya adalah orang lain juga telah memberikan banyak kemudahan bagi Anda. Jika tidak ada Li Ka-shing yang menjadi pionir investasi di daratan Tiongkok, dari mana bisa didapat dana segar yang sangat dibutuhkan RRT pada saat itu? Kedua belah pihak saling membutuhkan dan menguntungkan, dalam hal ini tidak bisa dikatakan habis manis sepah dibuang.”

Menurut berita di situs www.cngold.com.cn, sejak 2013 hingga sekarang, Li Ka-shing telah menjual propertinya antara lain: Pacific Century menjual Beijing Pacific Century seharga HKD 7,2 milyar (13 615 053 774 798 Rupiah); Hutchison dan Cheung Kong Enterprise menjual Shanghai Lujiazui Oriental and Economic Center seharga RMB 7,1 milyar (16 303 561 334 170 Rupiah); Hutchison dan Cheung Kong Enterprise menjual proyek di Guangzhou senilai RMB 2,6 milyar (5 970 318 235 048 Rupiah); Cheung Kong ARA Fund menjual Nanjing International Financial Center senilai RMB 3 milyar (6 888 828 732 747 Rupiah). (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular