Keterangan foto: Selesai sidang Dewan PBB pada 28 September, Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bertemu Presiden AS Barack Obama untuk membahas masalah yang tanpa mencapai hasil. (Spencer Platt/Getty Images)

Oleh Liu Fang

Militer Rusia pada Rabu (30/9/2015) melakukan serangan udara untuk pertama kalinya ke wilayah Suriah yang diklaim sebagai upaya untuk melumpuhkan kekuatan kelompok ekstremis Islamic State (IS) di sana. Hal ini telah dilaporkan oleh pihak Rusia kepada AS.

Namun pihak berwenang AS kemudian memperingatkan bahwa serangan udara Rusia yang diarahkan ke daerah yang tidak ada pasukan IS hanya menambah resiko baru ke situasi Suriah yang penuh ketidakpastian. Selain itu, pihak AS juga menyebutkan bahwa ini tidak akan mempengaruhi strategi pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS dalam perang melawan kelompok IS.

Militer Rusia melancaran serangan udara ke wilayah yang tidak berpasukan IS

CNN memberitakan bahwa Menteri Pertahanan AS Robert Carter pada Rabu (30/9/2015) mengatakan, “Ada indikasi yang menunjukkan bahwa militer Rusia melancarkan serangan terhadap daerah yang sangat mungkin tidak berpasukan kelompok Islam ekstremis. tindakan tersebut akan menimbulkan konsekuensi berupa memicu perang saudara terus berkobar di Suriah”.

Seorang pejabat senior AS kepada CNN mengatakan bahwa serangan udara militer Rusia ke kota Homs di Suriah dilakukan ‘tanpa sasaran strtegis’ dan tidak akan berhasil melumpuhkan kekuatan lawan (IS). Ini sebuah indikasi bahwa aksi militer Rusia tidak bertujuan untuk menyerang kelompok IS.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa pihak AS tidak bermaksud untuk menghalang-halangi aksi militer Rusia, tetapi orang-orang dibuat bingung karena mempertanyakan mengapa pesawat tempur Rusia itu tidak terbang melalui wilayah udara yang dioperasikan oleh militer AS?

“Mereka juga tidak bodoh bukan ?” Katanya.

Meskipun sebelum penyerangan itu pihak Rusia telah memberitahu pemerintah AS dan meminta AU-AS untuk sementara meninggalkan wilayah udara Suriah, tetapi militer koalisi pimpinan AS pada hari itu tetap melakukan operasi sebagaimana mestinya.

Dalam pidatonya di pertemuan yang membahas masalah terorisme di Dewan PBB pada Rabu (30/9/2015), Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan, “Dalam 24 jam terakhir, kita sudah melancarkan beberapa kali serangan udara ke wilayah Suriah. Dan kita masih akan terus memperluas aksi itu.”

Kerry kemudian mengatakan bahwa pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS selama ini telah melakukan 3,000 kali serangan udara ke daerah-daerah kelompok IS. Upaya ini akan terus ditingkatkan. Kerry juga menekankan bahwa tidak semestinya menyatukan antara rencana menyerang kelompok IS dengan mendukung rezim Assad.

“Kami secara tegas memperingatkan kepada Rusia bahwa serangan udara ke daerah yang tidak berpasukan IS dan kelompok al-Qaedah, hanya akan menimbulkan pertanyaan besar terhadap aksi Rusia tersebut. Apakah bertujuan untuk menyerang IS atau bertujuan untuk mendukung rezim Bashar al-Assad?” tanya Kerry.

Kemudian, Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Levron sepakat dan berjanji akan secepatnya mengadakan dialog militer.

Serangan udara sengaja dimaksudkan untuk memamerkan ‘otot’ untuk membela kekuasaan rezim Assad

Fox News memberitakan bahwa sebelum serangan udara ke Suriah, Rusia sudah melakukan pemberitahuan kepada pemerintah AS tetapi tidak mencantumkan waktu pelaksanaannya, sehingga memungkinkan kedua belah pihak untuk saling berkonsultasi.

Menurut New York Times, serangan udara Rusia pertama ke wilayah Suriah tersebut dilancarkan setelah kedua kepala negara AS dan Rusia bertemu di PBB. Pesawat tempur Rusia menyerang kota Homs Suriah. Beberapa jam sebelum serangan itu, presiden Putin telah mendapat persetujuan dari parlemen, meskipun masyarakat internasional berpendapat bahwa parlemen dalam hal ini lebih berperan sebagai ‘tukang stempel’.

Beberapa pejabat Rusia dan analis percaya bahwa meskipun serangan ini berbunyi menyerang IS, juga sekaligus untuk melindungi rezim Assad yang merupakan sekutu Rusia di Timur tengah agar dapat terus berkuasa. Para analis berpendapat, serangan udara hanya akan menambah kompkesitas masalah dan membuat perang saudara berlangsung kian lama. Apalagi kalau Rusia mengirimkan pasukannya ke Suriah, maka akan membuat konflik berkembang semakin kompleks.

Kepala Staf Putin, Sergei Ivanov mengatakan, serangan udara itu dilakukan atas permintaan Assad kepada Putin dengan maksud untuk melemahkan kekuatan kelompok IS. Karena Rusia hanya bisa melakukan serangan ke Suriah melalui udara tidak bisa dilakukan melalui darat.

Meskipun Putin telah mendapat persetujuan, tetapi ijin itu ia peroleh dari parlemen Rusia yang lebih sebagai ‘tukang stempel’. Pada Maret 2014, Rusia mengirim pasukan ke Ukraina dan mencaplok wilayah Krimea. Saat itu Putin pun memperoleh ijin melalui pemungutan suara dalam perlemen.

Pada Juni tahun yang sama, setelah Majelis Federal Rusia menarik kembali ijin itu, pemerintah Rusia menyebutkan bahwa pasukan yang ditempatkan di wilayah tenggara Ukraina itu adalah tentara ‘relawan’. Negara Barat mengatakan, Rusia telah menempatkan militernya di wilayah bagian dalam dari perbatasan Ukraina.

Sebelumnya Obama dan Putin bertemu di PBB, tetapi pembahasan tidak menghasilkan kesepakatan. Putin menyebut Assad sebagai benteng terdepan dalam pertempuran melawan IS. Tetapi Obama dan sekutu Eropanya termasuk pemimpin Arab Saudi bersikeras menyebut rezim Assad yang memulai untuk berperang melawan rakyat, bila ia tidak mundur maka perang saudara di Suriah sulit berakhir.

Selama beberapa pekan terakhir ini, pihak Amerika menuduh Rusia telah menempatkan sejumlah mesin perang dan membangun instalasi militer di dekat sebuah lapangan udara Suriah. Rusia mengatakan bahwa itu adalah kendaraan pengangkut dan semua upayanya itu adalah bagian dam memberikan bantuan kemanusiaan.

Analis mengatakan bahwa tindakan penyerangan udara Putin itu timbul terutama karena adanya pertimbangan aspek internasional dan nasional. Dari aspek internasional, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan bahwa Rusia adalah sebuah negara besar dan memiliki pengaruh internasional yang kuat, sekaligus mencoba untuk menghentikan sanksi ekonomi dan politik yang diberikan oleh Barat kepada Rusia.

Dari aspek nasional, ia berharap untuk mengalihkan perhatian rakyat Rusia terhadap dampak buruk yang timbul akibat konflik Ukraina. Sambil membentuk citra diri yang menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah internasional. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular