Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Dalam teori ilmu marketing, ada istilah yang berbunyi: “Country of Origin Effect”. Ketika para politisi memilih produk untuk keperluan aktivitas negara, juga kerap memperhatikan produk dalam negeri sebagai wujud dukungan terhadap produk dalam negeri. Oleh karena itu, mulai dari mobil kepresidenan, mobil tamu negara, produk dalam negeri menjadi pilihan pertama.

Paus Francis yang saat ini sedang berkunjung ke Amerika Serikat, “kendaraan kebesaran” Paus adalah mobil kecil sederhana merek Fiat buatan Italia. Mobil parade yang ditumpangi Paus di AS adalah Jeep Wrangler yang telah dimodifikasi, dan Jeep Wrangler juga merupakan mobil mantan merek AS yang dimiliki oleh grup otomotif Fiat.

Keseharian Paus yang sederhana semakin membuat masyarakat hormat padanya, sementara Partai Komunis Tiongkok/ PKT memilih sebelum dan sesudah kunjungan kenegaraan Paus Francis, pengaturan waktu kacau balau, harus ada orang Kemenlu yang bertanggung jawab atas hal ini, karena Paus Vatikan justru telah merebut pusat perhatian dibanding pemimpin PKT.

Memang cukup unik jika dipikir, di seluruh dunia terdapat sekitar 1,2 milyar jiwa penganut Katolik, jumlah yang kurang lebih sama dengan populasi di Tiongkok. Dengan kata lain, RRT dan Vatikan, keduanya mempunyai jumlah pengikut yang sama, tapi metodenya sama sekali berbeda. Baik dalam hal kepasrahan hati, penerimaan bimbingan spiritual, dibandingkan dengan pemerintahan PKT dimana warga hanya tunduk di mulut tapi berontak di hati, bahkan kini telah mencapai taraf mulut pun tidak tunduk lagi, perbedaan keduanya memperlihatkan kesenjangan yang sangat jauh berbeda antara kekuatan spiritual dengan kekuatan tangan besi.

Pengaturan Mobil Parade Berdampak Sebaliknya

Berbagai hal besar maupun kecil mulai dari soal kendaraan dan busana, PKT cukup cermat. Rangkuman parade menyebutkan bahwa jaminan akan komunikasi, kendaraan, keseharian, dan pencegahan virus dalam rangka parade militer adalah fokus pekerjaan, untuk menjamin perlengkapan saat parade militer, harus dipastikan kendaraan “tidak boleh mogok”, persiapan harus dapat mengantisipasi segala hal.

Di belakang mobil parade Xi Jinping, mengiringi satu unit mobil cadangan yang persis sama. Ini jelas persiapan optimal panitia, mengantisipasi mobil utama mengalami masalah. Ini adalah satu kesalahan besar parade militer kali ini, karena memberikan kesan bagi warga bahwa mobil produksi nasional tidak bisa diandalkan!

Bila mogok dalam parade militer yang hanya belasan menit lamanya, minimnya rasa percaya diri dalam hal ini justru akan memberi pukulan telak bagi “semangat negara kuat” PKT. Mobil nasional tidak bisa diandalkan, bisa digantikan dengan Benz atau Cadillac, tapi pemikiran PKT adalah harus menggunakan mobil nasional, agar terkesan mandiri, dan tidak kehilangan muka sebagai “negara besar”.

Namun mobil nasional sendiri, Hong Qi / Red Flag merupakan produk hasil bajakan. Pada 1958, perusahaan otomotif China FAW meminjam sebuah Chrysler buatan Amerika 1955, mobil itu dibongkar dan disketsa ulang, kemudian ditiru, terciptalah mobil pertama, The Red Flag Sedan. Sistem penggerak dan perlengkapannya sama persis dengan Chrysler. Tapi di AS, Chrysler hanya mobil kelas menengah yang digunakan rakyat awam. Dari hasil meniru itu, mobil “elite” pertama buatan RRT tercipta dengan berbagai kekurangan sejak pertama kali diproduksi. Mobil parade pemimpin negara pun tidak bisa dijamin kualitasnya, bagaimana dengan rudal, pesawat, kapal perang, dan lain-lain?

Silahkan pikirkan sendiri. Salah penggunaan mobil saat parade militer, adalah satu kekalahan besar dalam perang psikologis, dan semakin membocorkan rahasia kualitas militer RRT.

Beberapa tahun ini, Red Flag terus memproduksi generasi demi generasi, termasuk L9 Red Flag (HQE) yang digunakan di parade militer, masih dengan cara lama yakni menjiplak, menggabungkan eksterior dan interior mobil Lincoln Town Car, chasis dari Audi 200, mesin dari Nissan Jepang, penampilan seperti Rolls Royce Phantom, dan mesin Mitsubishi dan Lexus, kombinasi Amerika, Jerman, dan Jepang! Duduk di mobil seperti ini lalu bicara soal anti-Amerika, anti-Fasisme, sementara yang dipakai adalah teknologi Amerika dan negara bekas Fasisme (Jerman dan Jepang), sangat ironis!

Akal Bulus Terhadap Pemimpin Negara Lain

Sasaran perang psikologis dari parade militer di antaranya termasuk pemimpin negara lain. Satu hal yang diatur secara khusus adalah penerapan perang psikologis dengan tujuan memukul rasa percaya diri dan semangat pemimpin negara lain, dan menonjolkan pemimpin PKT. Pengaturan ini jelas tidak melalui proses gladi bersih, juga tidak memberitahu para tamu asing, karena dari kikuknya sikap Presiden Korsel Park Geun-Hye, hal ini terlihat jelas. Apalagi, PKT sengaja mengatur agar para pemimpin negara keluar satu persatu, sengaja membuat mereka tidak melihat gerakan orang di depan mereka, supaya sama sekali tidak ada kesiapan, dan berada dalam posisi tidak siap.

Sebelum parade militer dimulai, pemimpin negara keluar dari pintu belakang Tiananmen, berjalan di atas karpet merah sampai ke aula Imperial Palace, di kedua sisi berdiri pasukan pengawal dengan tangan membawa senjata. Sekitar 50 meter di depan, Xi Jinping beserta istri menanti di ujung karpet. Setelah tamu pertama menghampiri Xi Jinping beserta istri dan menjabat tangan, foto bersama, lalu pergi; tamu berikut keluar lagi dari gerbang, hal yang sama diulang sampai tamu terakhir yakni Presiden Putin.

Sebagian besar kepala negara merasa terkejut karena harus berjalan sedemikian jauh untuk “menemui” sang kaisar Tiongkok, tapi karena etika, tidak ada yang mempermasalahkannya dan tetap berjalan dengan penuh martabat. Bagi yang mempermasalahkannya, segera menyadari tekanan psikologis dari PKT dan merasa tidak senang karenanya, namun tak berdaya, dan tetap berjalan sambil tersenyum pahit. Yang bereaksi paling keras adalah Putin, karena tampil terakhir dan posisi paling tinggi di antara semua tamu.

Baru berjalan beberapa langkah di karpet merah, Putin mendadak berhenti, seperti musang yang menyadari dirinya terjebak dalam perangkap, ia melihat ke depan, tersenyum pahit, lalu berjalan lagi menuju Xi Jinping dan istri. Bahasa tubuh Putin menyatakan dirinya sangat terkejut dengan ritual penyambutan seperti ini dan sangat tidak senang, tapi pada waktu itu ia tidak bisa marah dengan gaya beruang kutub. Kapan beruang Rusia ini akan mengamuk dan membalas perlakuan ini, baru akan diketahui nanti. Karena etika, Putin pun terpaksa harus terus berjalan. Xi Jinping beserta istri berdiri, tamu diharuskan berjalan jauh di bawah terik matahari sampai ke depannya, dalam hal psikologis, cara ini menyerupai ritual kuno 3 kali berlutut dan 9 kali menyembah untuk menemui kaisar, ketika seluruh negara dunia datang berkunjung.

Pengaturan ini memiliki makna simbolis, yang dirasakan tamu asing akan berbeda dengan warga sendiri. Bagi masyarakat yang mengenal strategi ala Timur akan dapat melihat, pemimpin negara yang semakin berdekatan dengan RRT akan merasa semakin tidak senang. Negara Barat yang jauh dari RRT yang tidak memahami kelicikan ala Timur akan semakin tidak peduli. PKT jelas sedang menggunakan perbedaan psikologis seperti ini, memanfaatkan orang asing yang tidak begitu peduli dengan orang Timur yang sangat peduli, dan adanya perasaan prasangka, secara licik diatur sedemikian rupa. Kelicikan PKT lainnya adalah, mengatur Putin muncul terakhir, tapi kemudian memberi orang Rusia sedikit pamor, karena terakhir Putin dan Xi berjalan bersama menuju Tiananmen, ini mungkin sedikit membuat Putin melupakan rasa tak senang sebelumnya. Tapi efek dari strategi ini terhadap warga RRT maupun bagi kalangan internal PKT masih akan bertahan cukup lama, bermanfaat untuk memperkuat semangat sendiri.

Propaganda Militer Besarkan Kekuatan

Propaganda kekuatan militer PKT termasuk memamerkan rudal DF-21D (atau Dongfeng 21J), yang oleh media PKT digembar-gemborkan sebagai “pembunuh kapal induk”, yang sebenarnya merupakan strategi PKT untuk membohongi rakyat Tiongkok. Rakyat mengira, RRT telah mampu menenggelamkan kapal induk milik AS, armada kapal perang AS tak lagi berani memasuki zona Ring 1 perairan Tiongkok, jadi rezim PKT sangat kuat. Hal yang tidak diketahui rakyat adalah, yang dimaksud dengan “pembunuh kapal induk” hanyalah prediksi secara teoritis saja, sama sekali belum pernah diuji coba pada target yang melawan, juga belum pernah dilakukan uji perang.

Keterangan gambar: Sketsa rudal balistik. (internet)

Prinsipnya, DF-21D sama sekali belum pernah diaplikasikan di medan perang, namun rakyat yang telah didoktrin beranggapan bahwa rudal ini adalah senjata hebat siap pakai. Di media PKT, di satu sisi kosa kata terkait rahasia militer disensor dan dihapus, di sisi lain kebohongan terus saja digembar gemborkan, ini adalah penerapan strategi perang psikologis yang ditujukan pada rakyat Tiongkok.

Sama halnya dengan metode perang lainnya, kegaiban penggunaan psywar terletak pada hati. Tingkat tertinggi dari perang psikologis tentunya adalah pasukan yang memiliki kemampuan super normal. PKT tentu berusaha membentuk pasukan super normal ini. Dulu ketika ada penelitian Qigong (baca: Chi Kung, Red.) dan juga kemampuan supranatural, PKT berambisi seperti itu. Hanya saja, orang yang menguasai Qigong dan supranatural tidak akan bersedia bekerja untuk PKT apalagi dimanfaatkan oleh PKT, hal ini sangat sulit dipahami oleh PKT, dan akan sulit dipahami oleh penganut atheis mana pun. Jadi strategi perang psikologis PKT menghabiskan sangat banyak upaya, namun tidak lihai, mengerahkan banyak cara dan pemikiran, tapi hasilnya sangat kecil. Karena begitu strategi diketahui orang lain, maka akan terlihat tidak memenuhi standar. Penerapan perang psikologis yang sebenarnya, seperti buku “9 Komentar”, tidak menonjol, tanpa disadari menimbulkan efek mengubah konsep masyarakat, itulah strategi tertinggi. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular