Keterangan gambar: Angka perkembangan PDB Tiongkok sejak tahun 2010 (4 kuartal) hingga kuartal ketiga 2015. (grafik Qi Junjie)

Oleh Qi Junjie

Dari data ekonomi yang dirilis oleh pemerintah Tiongkok baru-baru ini diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tergambar dalam angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal ketiga adalah sebesar 6.9%, lebih tinggi dari dugaan pasar yang 6.8%. Sedangkan PDB kwartal 1 dan 2 masing-masing adalah 7%. Pada dasarnya, bila kuartal keempat nantinya juga bisa terjaga di angka yang tak jauh berbeda dengan yang sekarang, maka pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang angka 7 praktis tidak sulit untuk dicapai.

Pertumbuhan sektor sekunder hanya 6%, meskipun pertumbuhan industri adalah 6.2%, tetapi memiliki tren yang menurun. walau angka nominal investasi aset tetap nasional selama 9 bulan di tahun ini menunjukkan kenaikan yang 10.3%, tetapi masih menurun 0.6% bila dibandingkan dengan 8 bulan pertama tahun lalu.

Sementara itu, angka impor dan ekspor selama 3 kuartal terakhir tahun ini juga menurun. Jadi, 2 sektor yaitu investasi dan ekspor yang diandalkan untuk kelansungan hidup rakyat Tiongkok selama lebih 10 tahun terakhir ini ternyata sudah bermasalah. Bila demikian, apakah tingkat konsumsi yang dilaporkan pemerintah itu benar dan bisa dipercaya? Bagaimana total barang ritel kebutuhan masyarakat yang dilaporkan bisa dikatakan mengalami kenaikan menjadi 10.5%, meskipun itu terdongkrak oleh kenaikan belanja on-line yang 36.2% ?

Tampaknya Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang harus berterima kasih kepada Ma Yun pemilik situs Alibaba. Namun demikian , sesungguhnya masih perlu didalami berapa besar bagian dari pembayaran belanja on-line itu yang dilakukan melalui kartu. Mungkin saja Alibaba tidak tahu dan pemerintah pun tidak.

Akhirnya orang akan memberikan penilaian terhadap kondisi ekonomi Tiongkok sebagai berikut: Meskipun pertumbuhan sedikit menurun, namun masih tergolong stabil dan memiliki dinamika untuk maju. Perekonomian masih berada dalam kisaran yang wajar, laju penyesuaian struktural yang perlu dipercepat untuk melahirkan dorongan pertumbuhan. Pokoknya penilaiannya menjurus ke Wajar atau Baik !

Tetapi apakah kenyataannya demikian?

Nah! Untuk itu mari kita mengambil ‘kacamata’ yang dinamakan Indeks Li Keqiang untuk melihat dan membandingan sejauh mana pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Karena perdana menteri sendiri beberapa waktu lalu telah mengakui bahwa angka PDB itu kurang realistis! Oleh sebab itu beliau lebih percaya pada angka-angka yang mencerminkan pemakaian energi, transportasi barang dan jasa lewat KA dan angka pelepasan kredit jangka menengah panjang perbankan. Ketiga instrumen itu lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Pertama mari kita tinjau laporan resmi penggunaan kapasitas energi pada September tahun ini yang menurun 3.1%. pemakaian energi Tiongkok dari Januari s/d September hanya meningkat 0.1% atau hampir tidak ada peningkatan. Karena listrik berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian listrik besar berarti ada ekspansi ekonomi, sebaliknya berarti pertumbuhan ekonomi sedang memburuk. Tentu saja ada orang yang berpendapat bahwa itu bisa diakibatkan oleh restrukturisasi yang menyebabkan perusahaan pengguna energi besar berhenti beroperasi atau beralih ke lainnya, sehingga persediaan energi pemerintah kurang terpakai. Bila ternyata begitu, apakah penghematan energi dengan tidak menghambat perkembangan ini juga dikatakan tidak benar? Baiklah! Sebelum kita mengambil konklusi mari kita tinjau terlebih dahulu soal transportasi barang dan jasa lewat KA.

Indikator tentang pengangkutan ini lebih mengejutkan, coba lihat, jumlah total nasional pengangkutan barang dan jasa lewat KA dari Januari s/d Agustus 2015 adalah sebesar 2.26 miliar ton. Menurun 10.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada Agustus saja total nasional pengakutan hanya mencapai 280 juta ton yang berarti sudah menurun sebanyak 15.3% kalau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Grafik pengangkutan barang dan jasa lewat KA jelas-jelas menunjukkan adanya penurunan. Padahal menurut teori dasar ekonomi bahwa pertukaran bisa menghasilkan nilai ekonomi, sedangkan pertukaran membutuhkan transportasi, dan sarana transportasi yang paling murah adalah kereta api. Apakah angka pengangkutan KA menurun berarti ekonomi malah tumbuh? Tentu saja masih ada orang yang tetap akan berdalih bahwa macam transportasi bisa saja bertambah.

Keterangan gambar: Angka perkembangan impor & ekspor Tiongkok sejak bulan Januari 2013 s/d bulan September 2015. (grafik Qi Junjie)

Keterangan gambar: Angka perkembangan CPI dan PPI Tiongkok sejak bulan Januari 2013 s/d September 2015. (grafik Qi Junjie)

Terakhir mari kita tinjau darahnya ekonomi yaitu keuangan. Apakah uang masih bekerja. Dana pembiayaan agregat ekonomi nyata bertambah hingga jumlah RMB. 11.94 triliun di akhir kuartal ketiga. Pada September saja angka penambahannya mencapai RMB. 1.3 triliun yang semua dananya masih berasal dari kredit perbankan. Pinjaman jangka menenengah dam panjang perbankan bulan September bertambah sebanyak RMB. 325.6 miliar. Naik dari RMB. 200 miliar selama 4 bulan berturut-turut menjafi RMB. 300 miliar. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pemerintah masih mengandalkan perbankan untuk memompa pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Konklusinya tentang kondisi ekonomi Tiongkok menurut saya adalah Pemerintah sedang berupaya keras untuk mengubah situasi dengan hasilnya yang masih minim. Dengan meningkatnya indeks harga dan membengkaknya kredit macet perbankan, model pertumbuhan ekonomi dengan menghandalkan kredit dalam waktu tak lama lagi akan mentok plafon.

Dari segi mikro ekonominya, kelesuan ekonomi makin terasa. Banyak perusahaan menghentikan operasi bahkan beberapa industri di Tiongkok Selatan yang biasanya berproduksi tanpa henti, dengan tenaga kerja yang dibagi ke dalam 2 regu yang siang dan malam, sekarang sudah mulai meliburkan Sabtu dan Minggu.

Kelebihan kapasitas produksi yang diwakili oleh real estate dalam hal ini juga belum terlihat solusi untuk mengatasinya. Sekarang ini baik perumahan, kebutuhan hidup sampai persediaan untuk industri masih memiliki stok yang cukup besar. Hal ini menyebabkan produksi perlu dihentikan, pemakaian energi untuk produksi berkurang dan pengiriman barang atau jasa melalui KA menurun.

Dana yang dilepas oleh perbankan melalui kredit beresiko macet cukup tinggi. Bahkan sebagian besar dana kredit perbankan itu tidak digunakan untuk menghasilkan nilai riil ekonomi tetapi untuk spekulasi harga saham atau real estate. Usaha spekulan untuk mendorong naik nilai asset terus berlangsung di Tiongkok.

Grafik di bawah ini yang menggambarkan Consumer Price Index (CPI) yang sering digunakan untuk mengukur perubahan harga barang-barang konsumsi atau jasa yang dibayar penduduk perkotaan yang biasanya juga digunakan untuk mengetahui tingkat inflasi. Juga Producer Price Index (PPI) yang digunakan untuk mengukur rata-rata perubahan dari waktu ke waktu dalam harga jual yang diterima oleh produsen domestik untuk output mereka. Kedua grafik pada gambar di bawah ini sama-sama menunjukkan tren menurun yang berarti bahwa makro ekonomi Tiongkok sedang berada dalam kondisi lesu.

Oleh karena itu, angka PDB yang baik 7% atau 6.9% sesungguhnya kurang memberikan cerminan yang nyata. Itu bisa saja disusun oleh sebuah ‘tim kuat’ untuk menciptakan suatu angka yang dikehendaki. Pertanyaan kuncinya sekarang adalah, stok yang kelebihan itu mau diapakan? Harga perumahan sudah begitu tinggi sehingga tidak terjangkau oleh pembeli, lalu bagaimana mengatasinya? Bagaimana untuk menjual barang-barang persedian industri yang masih distok di hulu serta hasil produksi 40 lebih jenis industri yang masih menumpuk ?

Bila kredit dikucurkan lagi maka tingkat inflasi akan naik. Tetapi bila kran ditutup maka pasar akan kekeringan dana yang menyebabkan roda ekonomi berat berputar. Bila dana kredit dikucurkan kepada investor untuk diinvestasikan pada ekonomi riil, perbankan masih takut karena sudah tidak untung malahan buntung karena macet.

Bila kepada mereka disalurkan dana kredit untuk kegiatan pembangunan real estate, sudah pasti kewajiban bunganya saja tidak bisa dipenuhi.

Pajak sebagai sumber dana pembangunan. Bagaimana bila pungutan pajak dinaikkan? Mungkin saja pemerintah akan dihadapkan pada fenomena di mana perusahaan swasta Tiongkok memilih “mati ramai-ramai”. Bila pajak penghasilan perusahaan dikurangi, apakah akan berfaedah? Wah! Ini bisa mengganggu pembayaran gaji PNS, militer yang jumlahnya cukup besar. Belum lagi soal memenui janji untuk membantu negara-negara sahabat di benua Afrika. Tiongkok sungguh-sungguh mengalami kesulitan.

Adakah cara lain untuk mengatasi situasi demikian ini? Lalu bagaimana untuk melepaskan diri dari kekusutan? (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular