Keterangan foto: Kebijakan “KB satu anak” yang kini telah dihapus, telah berakibat sangat serius, masyarakat memasuki penuaan, aborsi dengan cara primitif marak, perbandingan jumlah pria dan wanita tidak seimbang dan lain sebagainya. (AFP)

Oleh : Fang Linda

Pada 29 Oktober Sidang Pleno ke-5 Komite Sentral ke-18 Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah ditutup di Beijing, komunike yang diumumkan pada hari itu mengumumkan, “Ketentuan tentang setiap pasang suami-isteri boleh melahirkan 2 orang anak akan dilaksanakan secara menyeluruh”.

Melahirkan dan membesarkan anak merupakan patokan etika hubungan antar manusia yang benar dan tepat, juga adalah kondisi normal bagi tanggung jawab keluarga dan mempertahankan perkembangan lebih lanjut populasi manusia. Pola penduduk masyarakat baik pada zaman pertanian maupun pola modern pada di era indutri, semua memiliki mekanisme internal dalam penyesuaian diri atas pertumbuhan penduduk, manusia tidak perlu terlampau berlebihan malakukan campur tangan. Ilmu kependudukan (demografi) modern telah membuktikan, seiring dengan kemajuan pendidikan ekonomi, tingkat kelahiran dengan sendirinya akan menurun secara alami, tidak dibutuhkan campur tangan apalagi pemaksaan dari pemerintah.

Keluarga Berencana PKT Merupakan Peraturan Jahat Pembantaian Nyawa Tak Berdosa

Sejak 1980 PKT melaksanakan di seluruh negeri tentang ketentuan sepasang suami-istri hanya diperbolehkan melahirkan seorang anak saja. Pada 1982 ditetapkan sebagai kebijakan dasar negara. Setelah pelaksanaan yang dipaksakan ini mendatangkan malapetaka besar bagi penduduk RRT, juga merupakan pelanggaran berat dan penindasan terhadap Hak Asasi Manusia.

Sekarang ini di seluruh negeri RRT memiliki kepala kantor keluarga berencana (KB) sebanyak 300 ribu orang, dan staf pelaksananya mencapai beberapa juta orang. Dibawah kebijakan negara yang bersifat Genosida ini, seorang wanita di daratan Tiongkok, kapan akan hamil, kapan ingin mempunyai anak, ingin mempunyai berapa anak, semua tidak dapat ditentukan oleh diri sendiri. Di desa bahkan siklus menstruasi setiap wanita dikendalikan oleh kader desa. Setiap “pelanggaran” atau “kelebihan anak” akan mendatangkan akibat yang fatal.

Seluruh sumber daya publik oleh komisi KB digunakan untuk mendirikan sebuah grup birokrasi raksasa, kejam dan korup, di desa menggunakan kekerasan yang edan-edanan menganiaya ibu hamil, membunuh bayi, dengan cara denda memeras berjuta-juta uang denda, dan dengan cara memonopoli penjualan kondom dan lain-lain alat KB mengeruk keuntungan besar. Demi mencapai target KB mereka memaksa kaum wanita Tiongkok melakukan Ligasi, Sterilisasi, pemasangan spiral, aborsi, bahkan membunuh janin dan bayi, melakukan berbagai jenis kejahatan, mengakibatkan terjadi banyak sekali tragedi kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya. Denda uang memberatkan beban keluarga, sehingga banyak yang melarikan diri ke luar daerah, bahkan saking kepepet dapat terjadi pembunuhan. Dalam beberapa puluh tahun ini, kejahatan yang dilakukan oleh berbagai tingkat komisi KB PKT terlalu banyak, sulit direkam semua, hutang darah pun terjadi dimana-mana.

Sejak dilaksanakan kebijakan KB, di RRT setiap tahun terjadi kasus janin yang diaborsi secara kejam mencapai 13 juta jiwa, selama 35 tahun ini kira-kira terdapat 400 juta janin terbunuh, bersamaan itu telah menyeret puluhan juta staf kesehatan menjadi pembunuh janin secara aktif maupun pasif. Selain itu kebijakan KB mendatangkan akibat yang sangat serius, misalnya masyarakat memasuki penuaan, meng-aborsi dengan cara primitif, perbandingan jumlah pria dan wanita yang tak seimbang, menambah kesempatan melakukan korupsi dalam pemerintahan dan lain-lain.

Ada yang lebih parah lagi, pelaksanaan kebijakan KB dibawah dorongan kuat dari mesin represif negara, pengrusakan moral kemanusian tradisional dalam masyarakat Tiongkok mendapatkan angin, ketentraman masyarakat sebagai tradisi sosial yang telah bertahan selama 2000 tahun lebih di Tiongkok, serta tata-krama moral dalam keluarga telah mengalami kehancuran, kehidupan harmoni pun telah dirusak.

Kebijakan KB PKT merupakan pembantaian yang tidak berprikemanusiaan, ini hanya merupakan salah satu diantara peraturan jahat yang merusak etika moral tradisional Tiongkok dan membantai rakyatnya sediri, yang telah dilaksanakan oleh rezim penguasa komunis selama lebih dari 60 tahun, tindakan kejahatan pembantaian makluk hidup oleh PKT ini bagaikan satu sudut kecil saja dari sebuah gunung es.

“2 anak tunggal” Disikapi Dengan Dingin

Kebijakan “2 anak tunggal” telah dimulai oleh PKT sejak 2013, yang dimaksud “2 anak tunggal” ialah salah satu diantara suami-istri adalah anak tunggal, dan mereka melahirkan anak pertama bukan anak kembar atau lebih dari dua, maka diijinkan mempunyai anak kedua.

Menurut rencana semula, pelaksanaan kebijakan tersebut akan menambah penduduk lebih kurang 2 juta orang per tahun. Namun tidak seperti perkiraan semula, pada 2014 hanya menambah 470 ribu jiwa, sampai akhir Mei 2015, didalam “suami-istri tunggal” yang berjumlah lebih dari 11 juta pasangan, hanya 1,45 juta pasang yang mengajukan permohonan untuk melahirkan anak lagi, “suami-istri tunggal” yang masih ingin melahirkan anak kedua hanya sebanyak 13% saja.

Berbagai kalangan umumnya beranggapan, oleh karena penduduk RRT “ingin melahirkan namun tidak berani melahirkan, ingin memelihara namun tidak mampu memelihara” anak kedua, hal tersebut memiliki banyak faktor, antara lain karena tekanan ekonomi yang terlampau berat, keterbatasan waktu dan tenaga, perubahan konsep serta biaya pemeliharaan anak dan tempat tinggal yang terus meningkat, dan lain-lain faktor menyebabkan kebijakan “2 anak tunggal” pun ditanggapi dengan dingin.

Menurut laporan kantor berita“Bloomberg” , di RRT seorang anak dari lahir hingga usia 18 tahun, setiap tahun memerlukan biaya sebesar 23 ribu RMB. Angka tersebut bagi kebanyakan suami-istri di RRT yang berpenghasilan 53 ribu RMB/tahun/keluarga, hampir separoh suami-istri itu merasa berat untuk membiayai anaknya. Selain itu orang tua sekarang sebagian besar merupakan anak tunggal generasi pertama dari abad lalu, sehingga mereka menghadapi masalah sendirian menanggung biaya kedua orang tuanya (belum lagi 2 pasang kakek neneknya apabila masih hidup). Lagipula persaingan hidup dalam masyarakat serta kesulitan-kesulitan lainnya, banyak yang merasakan menghidupi seorang anak saja sudah cukup berat, tidak bisa sekehendak hati.

Ada Apa Di Balik Kebijakan 2 Anak?

Dilihat dari permukaan kebijakan 2 anak yang dilahirkan dari sidang pleno ke-5 PKT, terutama adalah untuk mengatasi masalah ekonomi, dan menyangkut penuaan usia dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Akan tetapi di belakang semua permukaan ini, kebijakan 2 anak tersebut telah mengungkap informasi yang mendalam tentang kondisi politik dan sosial di RRT.

Kebijakan 2 anak mirip dengan penghapusan sistem kerja paksa yang dikeluarkan pada sidang pleno ke-3 lalu, walaupun kebijakan 2 anak tersebut masih belum mengakhiri secara tuntas kebijakan KB PKT yang jahat itu, namun paling tidak telah melangkah setapak untuk mengurangi dan pada akhirnya menghentikan tindakan pembunuhan, hal tersebut mengandung suatu makna positif.

Dibawah kerangka sistem PKT, Xi Jinping sebagai penguasa tertinggi RRT telah menggunakan sistem kekuasaan dan sistem wacana PKT, melakukan pertarungan hidup-mati dengan grup yang dikepalai oleh mantan ketua PKT Jiang Zemin. Bersamaan itu dalam proses tersebut juga mengalami benturan keras dengan sistem organisasi PKT itu sendiri. Disisi lain, di tengah kekerasan dan penipuan yang masih berjalan terus sesuai kelembagaan, kekhususan sistem organisasi PKT yang brutal dan penuh dusta ini pada setiap hari sebelum ia tamat, akan terus muncul dalam masyarakat RRT dan berdampak pada tubuh khalayak RRT.

Sekarang masih saja ada sejumlah orang yang belum mengetahui dengan jelas tentang kejahatan sistem PKT, juga masih belum mengetahui dibawah sistem jahat tersebut , perbedaan antara Xi Jinping dengan sistem PKT. Dipandang dari perkembangan riil dan situasi politik aktual, banyak hal telah dilakukan oleh Xi, semuanya itu bersebrangan sekaligus ditakuti oleh sistem itu sendiri, itu sebabnya, ketika benturan perselisihan antara sistem PKT dan apa yang dilakukan oleh Xi mencapai klimaksnya nanti, maka disaat itulah tercerai-berainya PKT. (tys/whs/rmat)

 

Share

Video Popular