Ada orangtua yang beranggapan, berhubung sang anak masih kecil, tidak perlu terlalu serius memerhatikan perkembangan perilaku mereka, tanpa menyadari bahwa sang anak selalu mengamati, mencoba serta menirukan bagaimana orang dewasa menjalani kehidupan mereka dalam rumah tangga. Bila orangtua meremehkan inspirasi dalam hidup, bagaimana pula sang anak akan menghargai renik-renik kehidupan?

Pendidikan tidak seharusnya hanya merupakan kegiatan menjejalkan ilmu pengetahuan, melainkan juga harus berupa pembinaan yang mengajarkan perilaku yang tepat dan sikap pikiran yang benar, dapat mengarahkan perkembangan emosional, moral, semangat dan pikiran yang sehat, memupuk karakter yang sehat.

Hal ini memerlukan integrasi pembinaan yang tepat dari keluarga, sekolah, orangtua, para guru dan para senior, namun acapkali permasalahan justru timbul pada mata rantai yang saling berhubungan ini, sering kali terdapat penyimpangan lepasnya mata rantai, sehingga penyimpangan pandangan dan perilaku pada sang anak tidak bisa dikoreksi tepat pada waktunya.

Orangtua, para guru dan orang dewasa hendaknya menyelami dengan sungguh-sungguh bagaimana menjadi teladan dan memberikan bantuan.

Berikut beberapa pandangan yang perlu diperhatikan para orangtua untuk perkembangan anak. Semoga dapat menimbulkan gaung yang lebih berharga dan mendorong pemikiran yang lebih mendalam.

1. Orang dewasa memiliki tanggungjawab untuk membimbing anak. Jangan pernah melepaskan seorang anak pun dari pengawasan.

2. Usahakan agar tersedia lingkungan yang sesuai untuk perkembangan anak.

3. Orangtua perlu menjauhkan anak-anak dari tayangan di media yang berbau kekerasan dan pornografi. Informasi negatif dapat mengarah pada penyimpangan perilaku anak (hendaknya informasi luar dipertimbangkan dan disaring dahulu oleh orangtua guna memberi bimbingan yang sesuai bagi anak).

4. Perkembangan karakter anak, boleh dikatakan berawal dari rumah tangga. Orangtua hendaknya berusaha menciptakan suasana yang hangat dan optimis. Rumah tangga yang berantakan (kekerasan dalam pernikahan) dan perilaku yang tidak baik lainnya, merupakan kesalahan dan tanggung jawab orangtua, bagaimana mungkin tanpa memperbaikinya lalu berharap di kemudian hari sang anak “akan tumbuh menjadi rebung yang baik dari bambu busuk”?

5. Rajin memelajari cara membangun hubungan orangtua dan anak yang baik, agar anak merasakan kepuasan batin dengan memiliki rasa aman, rasa sebagai anggota keluarga dan rasa diakui, untuk mengurangi hambatan emosional, selanjutnya dilatih kemampuannya untuk mandiri.

6. Orangtua, guru dan orang dewasa hendaknya menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk mematuhi norma dan etika bermasyarakat, serta sejak dini membina anak-anak untuk bisa membedakan antara benar dan salah.

7. Sejak dini menanamkan pengertian tentang “ketulusan, kebaikan, sifat pemaaf dan karakter-karakter moral lain yang baik”. Ketika orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak menunjukkan sikap tulus, baik, kasih dan ramah terhadap orang lain, rela berkorban tanpa ego, tanpa disadari, anak akan terpengaruh oleh apa yang didengar dan dilihat, jalur kehidupannya akan memasuki jalur yang benar.

8. Anak-anak dalam satu keluarga yang tumbuh bersama, masing-masing memiliki perbedaan dalam perkembangan karakter dan perilaku, hendaknya diperlakukan adil, untuk membantu perkembangan dan kematangan pribadi.

9. Mendorong anak memelajari hal-hal yang berguna. Orangtua sebisa mungkin mengurangi berkata “tidak”, agar mereka mengembangkan nalar melalui belajar dengan cara meraba-raba, tumbuh dewasa dan kuat dengan menghadapi kesulitan.

10. Arahkan anak berdasarkan ideologi kepercayaan (agama) yang benar. Kepercayaan yang benar mempunyai kemampuan membersihkan dan menghibur hati manusia, juga merupakan garis pertahanan terakhir norma moral umat manusia, hal ini hendaknya dimasukkan ke dalam kategori pendidikan.

11. Standar pendidikan anak-anak tidak realistis, seringkali tercampur aduk dan tidak menentu mutunya, ada yang hanya memerhatikan fungsi penitipan anak, tidak memerhatikan pencerahan dan pendidikan karakter moral. Orangtua hendaknya memilih taman kanak-kanak dengan hati-hati.

12. Memelajari ilmu pengetahuan untuk mengembangkan bakat terpendam anak di kemudian hari, orangtua hendaknya dengan kesabaran mengatur porsi yang sesuai. Jumlah pelajaran yang terlalu banyak dan harapan yang terlalu tinggi, malah menyebabkan pelatihan sebagai kegiatan “menyuapi secara paksa”, akan membuat anak kehilangan minat untuk belajar, terkadang bahkan bisa melukai kepercayaan diri, sehingga akan mendapatkan hasil yang sebaliknya.

13. Orangtua hendaknya mengikuti program pendidikan anak dan pembinaan terkait, memerhatikan dan berusaha mengerti pengalaman dan arahan para ahli, belajar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan arahan dan pendidikan bagi sang anak.

Tak peduli bagaimanapun perkembangan zaman, pendidikan anak sangatlah penting. Membimbing perilaku dan berpikir yang tepat, bukan saja dapat memenuhi harapan orangtua dan guru terhadap anak, juga dapat menghasilkan manusia baru yang bermutu bagi masyarakat yang akan datang. (Prm/Yant)

Share

Video Popular