Periode perkembangan anak sangat cepat baik secara fisik maupun mental. Pada masa pembentukan kepribadian, kesehatan mental juga berperan besar. Beberapa psikolog percaya, sebagian penyakit mental yang diderita pemuda dan orang dewasa berkaitan dengan pengalaman psikologis masa kecil yang tidak sehat. Oleh karena itu, kesehatan mental anak sangat penting.

Kesehatan mental bayi di bawah 3 tahun (Batita)

Psikolog menyebut anak yang berusia 1 – 3 tahun sebagai batita (bayi di bawah 3 tahun). Pada usia ini, anak mulai mengerti sejumlah persoalan, kesadaran dirinya juga sudah mulai berkembang, masalah kesehatan mental pun menjadi lebih kompleks, dan lebih banyak. Ada beberapa masalah yang sangat perlu diperhatikan, antara lain:

1. Kesehatan mental menyapih

Bagi seorang ibu, menyapih adalah masalah besar. Jika tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan stimulasi mental yang signifikan di hati anak. Beberapa ibu, misalnya, menyapih anak mereka dengan berpisah sementara. Ibu lainnya mencoba menyapih berulang kali karena tidak berhasil melakukannya dalam satu kali kesempatan, sehingga menimbulkan suasana hati yang buruk pada anak. Lainnya, mengoleskan cabai merah atau mengoles bahan berwarna ke puting susu. Semua ini merugikan kesehatan psikologis anak dan cenderung menyebabkan ketidakstabilan emosi anak. Menangis keras dan meratap, teror malam (semacam mimpi buruk, namun lebih parah dan nyata karena melibatkan aktivitas motorik), tidak mau makan, bahkan menanamkan bibit neurosis (ketidakseimbangan mental yang menyebabkan stres) di kemudian hari.

Oleh karena itu, dalam menyapih anak, seorang ibu harus memiliki rencana yang matang. Perlu dilakukan secara perlahan-lahan, jangan mendadak. Kira-kira 2 atau 3 bulan sebelum menyapih, cobalah melakukan pendekatan pada anak dengan makanan suplemen seperti tart, bubur dan lainnya. Porsi makanan ditambah secara bertahap, sehingga mencapai kondisi penyapihan “alami”.

2. Dengan sabar dan hati-hati melatih anak mengontrol buang air besar dan kecil

Mengajarkan anak agar dapat mengendalikan buang air besar dan kecil sebaiknya dilakukan tidak terlalu dini. Paling sesuai kira-kira ketika anak berusia 2.5 tahun. Selama proses pengajaran, orangtua harus sabar, ramah, tidak mengeluh dan tidak perlu memarahi. Menurut penelitian, teguran dan pemukulan dalam melatih anak ke toilet, selain memakan waktu yang lebih panjang, prosesnya pun lambat, bahkan mudah menyebabkan trauma psikis bagi anak.

3. Jangan menakut-nakuti anak

Kita sering melihat orang dewasa menggoda anak dengan menakut-nakutinya. Kondisi ini tidak kondusif bagi kondisi kesehatan mental anak. Watson, pendiri psikologi perilaku, melakukan penelitian pada seorang anak yang sedang bermain dengan anak kucing, dan kemudian dikejutkan. Di waktu yang lain, ketika si anak kembali bermain dengan si anak kucing, lagi-lagi ia dikejutkan. Kemudian hari, ia akan ketakutan melihat kucing, bahkan lebih buruk, dia akan ketakutan melihat benda berbulu. Seumur hidup, di hatinya akan tergurat cacat psikologis. Misalnya, ketika orang dewasa berkata: “kucing besar datang”, “anjing besar mengigit si X!”, sambil menunjukkan ekspresi wajah ketakutan, si anak yang mendengarkannya karena kaget, akan taat. Tampaknya hal ini sangat menyenangkan, akan tetapi apakah si anak juga merasa senang? Tidak! Ia benar-benar takut, bahkan terkaget-kaget.

Ketakutan akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian dan pengembangan anak. Menurut penelitian, jarang sekali seorang anak terlahir sebagai anak yang penakut. Ketakutan terhadap berbagai hal umumnya terbentuk karena faktor pengalaman atau ditakut-takuti. Sebagai contoh: seorang anak yang belum pernah melihat kucing dia pasti tidak akan takut pada kucing. Ketakutan akan terbentuk ketika ia memegang kucing dan dicakar, atau ketika orang dewasa memperingatkannya dengan “awas dia akan menggigit,” secara bertahap anak akan takut terhadap kucing.

Di kemudian hari, melalui “generalisasi” dia akan ketakutan melihat binatang berbulu, bahkan terhadap pakaian berbulu. Contoh lain, secara tidak sengaja tangan si anak terluka dan berdarah. Jika orangtua panik, selain akan meningkatkan rasa takut dan rasa sakit pada anak, setelah dewasa dia akan menjadi orang dengan ambang nyeri yang rendah, bahkan takut disuntik. Anak-anak selalu ingin meniru perilaku dan gaya orangtua. Jika orangtua takut anjing, takut ular, dan takut suara petir, takut gelap dan lainnya, terkadang si anak akan menirunya. Jika sejak kecil si anak telah merasa ketakutan terhadap banyak hal, pengecut, terlalu berhati-hati, maka akan menyebabkan cacat kepribadian dan memengaruhi perkembangan psikologis di kemudian hari.(Hui/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular