Periode perkembangan anak sangat cepat baik secara fisik maupun mental. Pada masa pembentukan kepribadian, kesehatan mental juga berperan besar. Beberapa psikolog percaya, sebagian penyakit mental yang diderita pemuda dan orang dewasa berkaitan dengan pengalaman psikologis masa kecil yang tidak sehat. Oleh karena itu, kesehatan mental anak sangat penting.

Kesehatan mental anak (pra sekolah)

Usia 3 sampai 6 atau 7 tahun disebut masa kanak-kanak, juga dikenal sebagai usia pra sekolah. Anak-anak seusia ini umumnya mulai dimasukkan ke Taman Belajar, Taman Kanak-kanak, atau tinggal di rumah. Baik keluarga maupun tempat di mana dia belajar harus memerhatikan masalah kesehatan mentalnya.

Pertama, tempatkan anak-anak pada posisi yang tepat di dalam keluarga. “mainkan” dengan baik apa yang harus ia perankan. Di masa ini kesadaran dan karakternya akan terbentuk. Anak seusia ini sedang berada dalam masa penggambaran karakter cetak biru, juga masa pembentukan fondasi. Terutama sikap anggota keluarga terhadapnya, akan menempatkannya pada posisi apa, membuatnya memainkan peran apa, semuanya berpengaruh sangat besar terhadap karakternya.

Dilandasi oleh cinta seorang ibu, wajar jika orangtua cenderung memanjakan anak terutama pada anak tunggal. Namun tidak jarang mereka yang mencampur adukkan perasaan cinta dan sikap memanjakan pada anak akan menuruti semua permintaannya, sehingga anak menjadi manja. Dilihat dari sudut jangka pendek, anak akan cenderung bersifat sewenang-wenang. Memang si anak akan terlihat riang gembira, orangtua terhibur dan hati menjadi lega. Namun, jika hal tersebut terus berlanjut dalam jangka panjang, hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak, terutama merugikan kesehatan mental anak. Karena anak yang dimanjakan, kebanyakan seenaknya sendiri, egosentris, egois, tidak sopan, kurang mandiri, penakut dan lain-lain.

Jika karakter buruk tersebut telah terbentuk, akan berubah menjadi kebiasaan. Kelak jika kehilangan perlindungan dari keluarga atau dukungan dari orangtua, akan menjadi orang yang penakut, minder, serta tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan. Kondisi ini pasti akan mengalami konflik psikologis dan trauma lebih banyak. Selain itu, anak yang manja sering kurang memiliki sifat mandiri, kurang memiliki ketahanan mental dalam mengatasi kesulitan dan kurang memiliki keuletan semangat. Hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhannya menjadi dewasa. Agar kesehatan mental kanak-kanak lebih baik, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Biarkan anak-anak merasakan keharmonisan dan kehangatan keluarga

Masalah ini sangat penting untuk pengembangan emosi dan karakter anak. Dalam sebuah keluarga yang harmonis dan hangat, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, saling menjaga, saling mencintai adalah suasana yang sangat kondusif untuk kesehatan mental anak-anak. Bahkan ada yang meyakini jika hal tersebut sangat baik untuk dasar pembentukan moralitas anak seumur hidup.

Sebaliknya anak akan merasa takut dan gelisah jika berada dalam keluarga yang sering bertengkar dan berkelahi, bahkan secara gelap mata melibatkan anaknya, atau pada pasangan yang tidak harmonis, yang memosisikan anaknya di tengah serta memperebutkannya. Beberapa penelitian menunjukkan, anak-anak tersebut rentan terhadap gagap, enuresis dan penyakit lambung.

Dalam rumah tangga yang berantakan, dampak pada anak-anak akan semakin besar. Menurut survei kejahatan remaja, tingkat tertinggi pelaku kenakalan remaja adalah mereka yang ibu atau ayahnya meninggal pada saat mereka berusia 4 tahun. Survei lain terhadap 135 pelaku kejahatan remaja, mendapatkan bahwa 40% dari mereka berasal dari keluarga yang berantakan. Perceraian orangtua memiliki dampak lebih buruk terhadap anak-anak. Sedangkan anak-anak yang orangtuanya meninggal sering mendapat simpati orang lain. Dan anak-anak dari orangtua yang bercerai, mudah didiskriminasi orang lain, yang akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mental.

2. Penangan terhadap penyakit gagap dan enuresis pada kanak-kanak

Gagap ini terjadi ketika si anak sedang meniru tiba-tiba mentalnya tegang, Kondisi ini terjadi pada anak laki-laki sekitar 4% dan pada anak perempuan sekitar 2%.

Tampaknya sikap gagap ini hanyalah “hal kecil”, tetapi dapat melukai psikologis anak dengan parah, sehingga dapat menimbulkan rasa kesepian, penarikan diri, rasa malu, rendah diri dan karakter negatif lainnya. Orangtua harus mencegah anak agar tidak terlanjur gagap. Seandainya telah terlanjur gagap, jangan ditertawakan, apalagi sampai memarahi atau memukulnya. Si anak harus didorong agar mampu memupuk kepercayaan dirinya, rilek, serta perlahan-lahan memperbaiki kegagapannya.

Lainnya adalah anak yang masih mengompol di usia 5 tahun lebih. Dia dapat dikatakan menderita enuresis. Enuresis ini dapat terjadi akibat dua alasan. Pertama, terjadi karena sejumlah kecil alasan fisiologis, terutama karena tekanan mental. Kedua, disebabkan orangtua yang terlalu memanjakan anak, sehingga tidak melatih anak untuk buang air di kamar mandi. Ketika anak yang berusia 5-6 tahun masih mengompol, dia sendiri juga pasti merasa kikuk. Untuk menyembuhkan enuresisnya, orangtua tidak diperbolehkan mempermalukan dan bahkan memarahinya. Enuresis akan lebih sulit disembuhkan jika anak semakin tegang. Jika karena enuresis si anak lantas mendapatkan amarah dan pukulan, akan mudah membentuk karakter buruk seperti cemas, depresi, rendah diri dan lainnya.

3. Hadapi kekeliruan dan kesalahan anak dengan benar

Anak yang masih kecil hanya memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman, Kemampuannya pun masih kecil. Dalam banyak hal tidak dapat membedakan baik dan buruk, sehingga mudah melakukan kekeliruan dan kesalahan. Umumnya orang dewasa menuntut anak agar “terus belajar”. Bahkan dalam kekeliruan dan kesalahan, anak akan terus belajar secara alamiah untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Oleh karena itu, hadapi kekeliruan dan kesalahan anak dengan hati yang tenang. Dalam mendidik anak harus sabar dan cermat, terutama harus menjelaskan alasannya, jangan biarkan anak-anak merasa dirugikan.

Memukul dan memarahi anak, bukan cara yang baik, karena dapat merusak harga diri anak. Jika sering mendapatkan pukulan dan amarah, anak-anak akan semakin sulit dididik dan sulit menerima kritik. Bahkan akan membentuk karakter moral dan kepribadian yang buruk. Dalam mengkritik dan mendidik anak, orangtua harus menentukan satu sikap. Jika salah satu pihak mengkritik, tapi pihak lain melindungi, akan membuat anak kebingungan dan tidak mau dididik. Tujuan mengkritik dan mendidik anak bukan untuk melampiaskan kemarahan, atau untuk membuat mereka menjadi penurut, melainkan untuk membimbing anak mengakui kesalahannya, mendorong anak dengan lapang dada memperbaiki kesalahan.

4. Dukung anak-anak bermain

Bermain adalah kegiatan yang paling dominan pada anak-anak. Tugas “alamiah” anak-anak, yang juga merupakan cara yang penting untuk perkembangan kesehatan fisik dan mental anak. Biarkan anak-anak melakukan permainan yang mereka sukai. Untuk membantu anak-anak bermain bersama, orang dewasa tidak perlu campur tangan terlalu banyak. Anak yang sedang bermain bersama berarti sedang belajar, sekaligus berkomunikasi, dan lebih mampu menikmati kegembiraan dalam permainannya. Hal ini bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental mereka.

Terakhir, jangan mengabaikan keinginan anak untuk mandiri. Pada masa kanak-kanak ada masa-masa perkembangan psikologis, masa egosentris. Pada usia tiga tahun anak-anak sudah dapat menunjukkan keinginan untuk mandiri. Meskipun tidak memiliki kemampuan yang besar, tapi mereka sering ingin melakukan segalanya sendiri. Seolah-olah tidak terlalu taat. Sering kita mendengar orangtua yang mengeluh: “Menyebalkan, masih berumur 3 tahun, sudah punya gagasan sendiri dan tidak patuh orang tua!” Sebetulnya ini adalah tanda perkembangan psikologis anak yang jelas. Wujud dari sifat kemandirian yang baru mulai berkembang. Ada yang mengatakan, masa ini adalah “periode perlawanan pertama” anak-anak.

Rumusan ini bagus untuk membantu mengingatkan orangtua dan tenaga pendidik agar memberikan perhatian pada independensi anak. Ketika anak menuntut independensi, dan kadang-kadang tidak terlalu taat, justru ini adalah hukum objektif dari perkembangan psikologis anak. Hal ini hanya bisa ditangani dengan pendekatan dan tidak boleh menyalahi kodrat, dengan bersikukuh menaklukkan “sifat keras” anak. Jika tidak, bukan saja akan memengaruhi kesehatan mental anak, atau bahkan meninggalkan trauma, setelah dewasa pun akan menderita beberapa penyakit kejiwaan tertentu.(Hui/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular