Periode perkembangan anak sangat cepat baik secara fisik maupun mental. Pada masa pembentukan kepribadian, kesehatan mental juga berperan besar. Beberapa psikolog percaya, sebagian penyakit mental yang diderita pemuda dan orang dewasa berkaitan dengan pengalaman psikologis masa kecil yang tidak sehat. Oleh karena itu, kesehatan mental anak sangat penting.

Kesehatan mental anak masa awal belajar

Usia 6 atau 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun dikatakan sebagai masa awal belajar. Pada periode ini terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dan ditekankan mengenai masalah kesehatan mental anak-anak:

1. Melakukan persiapan transisi anak-anak dari TK memasuki Sekolah Dasar

Banyak negara di dunia saat ini yang belum mengolah isu konvergensi anak-anak dari TK masuk ke sekolah dasar secara penuh. Hal ini menyebabkan banyak kesulitan adaptif bagi anak. Oleh karena itu, sekolah dan keluarga harus membantu memerhatikan masalah ini. Keluarga harus mempersiapkan dan mendidik anak-anak untuk masuk sekolah. Menata lingkungan sekolah untuk menarik anak dan menyambut siswa baru dengan ramah harus dilakukan oleh pihak sekolah.

Pola hidup anak di rumah dan di TK tidak sama dengan di sekolah dasar. Agar anak tidak kesulitan beradaptasi, sebelum masuk sekolah cobalah mengubah pola makan dan aturan pribadinya. Sehingga secara bertahap anak dapat menyelaraskan diri dengan permintaan sekolah. Terutama mendidik anak agar menyukai belajar dan membangkitkan minat akan kegiatan di sekolah.

Jika pihak sekolah bersedia mengundang anak-anak lulusan TK untuk mengunjungi calon sekolahnya agar terbentuk kesan yang baik bagi anak-anak tersebut, ini akan menjadi poin yang sangat penting. Orangtua yang ceroboh dan guru yang tidak mengerti psikologi anak mungkin tidak memerhatikan masalah ini, sehingga membuat anak-anak cemas, takut, depresi, kehilangan keceriaan dan semangat hidup yang dimiliki sebelumnya.

Ada juga yang mengalami pembentukan “kepribadian ganda” dengan menampilkan kepribadian yang berbeda antara di rumah dan sekolah; bahkan dapat menyebabkan “fobia sekolah”. Secara umum, kehidupan sekolah yang bahagia akan bermanfaat untuk memupuk perkembangan fisik dan mental anak. Jika berangkat ke sekolah dianggap sebagai beban mental pasti akan merugikan kesehatan mental mereka, bahkan selanjutnya akan terbentuk kepribadian yang kurang sempurna.

2. Jangan mengembangkan anak yang “standar”

Yang dimaksud dengan anak standar adalah anak yang selalu menuruti semua instruksi orang dewasa. Anak yang selalu mematuhi dan melakukan semua tindakan menurut kehendak orang dewasa, umumnya relatif tenang, jarang berkelahi dan membuat onar, disiplin, dan serius belajar. Apa yang dikatakan guru maka ia akan melakukannya. Sangat ketat pada diri sendiri. Anak-anak seperti ini biasanya siswa yang disukai guru, juga gambaran anak “ideal” yang diharapkan orangtua.

Sebenarnya, anak patuh semacam ini adalah anak yang bermasalah. Karena pertahanan mental terlalu dini dan segala sesuatu selalu menuruti perintah orang dewasa, ketika tidak ada instruksi dari orang dewasa, dia akan menjadi bingung dan kewalahan. Tidak memiliki pendapat sendiri, tidak memiliki kemampuan independen untuk beradaptasi dengan lingkungan. Anak-anak semacam ini secara psikologis tidak sehat, memiliki kepribadian yang kurang sempurna, juga menghambat perkembangan kecerdasannya.

Oleh karena itu, baik pihak sekolah maupun keluarga, sebaiknya jangan terlalu ketat terhadap anak-anak. Anak yang sedikit nakal bukanlah hal buruk. Umumnya anak-anak yang nakal tertarik untuk belajar banyak, memiliki wawasan yang lebih luas, jalan pikirannya lebih lapang, dan memiliki perkembangan psikologis yang lebih sehat. Asalkan anak dapat menaati pola hidup baik, higienis, sopan, tidak egois dan tidak suka berbohong, masalah lain jangan terlalu mencampuri. Dengan demikian akan bermanfaat untuk membina kelincahan, keceriaan, kecerdasan serta kesehatan prima secara jiwa dan raga.

3. Jangan memberi “terlalu banyak beban”

Dewasa ini beban ekstrakurikuler pada siswa sekolah dasar semakin berat. Ini merupakan masalah yang harus ditangani. Namun, sebagian orangtua berharap sang anak dapat mencapai kesuksesan di kemudian hari dan memberikan ekstrakurikuler yang berlebihan sehingga menambah beban mereka. Ini adalah hal yang tidak kondusif bagi kesehatan fisik dan mental anak. Selain itu, orangtua tidak perlu memaksa anak untuk berjuang mendapatkan nilai 100 atau diharuskan menjadi juara kelas.

Sebenarnya, nilai tinggi atau rendah tidak dapat sepenuhnya menampilkan tingkat intelektual mereka, bahkan tidak menjamin tingkat pencapaian mereka pada masa depan.Terhadap siswa SD perlu menumbuhkan minat belajar, mendorong mereka belajar dengan riang dan lincah, tidak membiarkan nilai menekan mereka sehingga mempersulit mereka dan mengikat pikiran mereka dengan kuat. Jangan sampai membuat mereka menyelesaikan tugas belajar yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Kesehatan mental anak tunggal

Saat ini, keluarga yang mempunyai anak tunggal semakin lama semakin banyak, sehingga menimbulkan perhatian yang besar terhadap kesehatan mental anak tunggal. Karena berbagai faktor sosial, anak tunggal menjadi seorang pribadi yang istimewa karena sangat disayangi oleh orangtua, sehingga mudah mengembangkan kebiasaan buruk, serta memiliki karakter dan moral yang tidak bagus.

Asosiasi Riset Pendidikan Anak Usia Dini di Shanghai, Tiongkok, meneliti dan membandingkan anak tunggal. Hasil survei menunjukkan, kebiasaan buruk anak tunggal lebih serius dibandingkan dengan bukan anak tunggal, terutama dalam beberapa hal sebagai berikut: pemilih makanan, pemilih pakaian, bandel, tidak bertenggang rasa, tidak menghormati orangtua, pengecut, tidak menyayangi barang yang dimiliki dan kemampuan hidup mandiri yang sangat buruk.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua terlalu memberikan kondisi dan perhatian yang berlebihan. Terlalu mengejar makanan bergizi tinggi sehingga sebagian anak-anak terbiasa rewel dalam hal makan. Dalam pemilihan busana, orangtua bahkan mendandani anak-anak seperti orang dewasa dan terlalu unik.

Di bidang pendidikan, sikap memanjakan orangtua akan membangkitkan sifat sombong, tidak menghormati orangtua maupun orang yang lebih tua serta memiliki mental egois yang egosentris. Beberapa masalah kesehatan mental anak tunggal tidak berhubungan dengan anak tunggal itu sendiri, sepenuhnya akibat metode pendidikannya.

Orangtua harus terlebih dahulu memahami pentingnya kesehatan mental anak-anak dan menguasai metode pendidikan yang tepat. Juga harus sepenuhnya melihat keuntungan memiliki anak tunggal, seperti berkurangnya kemungkinan cacat genetik atau pertumbuhan kecerdasan yang cepat. Asalkan bersedia memperhatikan masalah yang timbul dan memberikan pendidikan ilmiah, maka mental anak tunggal pasti akan dapat tumbuh dengan sehat.(Hui/Yant)

Selesai

Share

Video Popular