Keterangan gambar: Matahari bukan benda panas statis yang tidak berubah, tetapi bintang misterius yang penuh perubahan. (ESA/NASA/SOHO)

Oleh: Su Yang

Pada ulang tahunnya yang ke-20, Solar and Heliospheric Observatory (SOHO), satelit pengamat matahari NASA, telah menyelesaikan sejumlah besar misinya dalam mengamati matahari, mendorong perkembangan pesat fisika matahari. Sehingga dengan demikian, komunitas ilmiah menyadari bahwa matahari bukan bola panas statis yang tidak berubah, tetapi bintang misterius yang penuh perubahan.

SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) diluncurkan pada 2 Desember 1995 silam, dan hingga saat ini masih aktif menjalankan misi observasinya. Dengan menggunakan SOHO, para ilmuwan bisa lebih dalam mempelajari matahari dan pengaruhnya terhadap tata surya. Observatorium ini merevolusi bidang ilmu pengetahuan khususnya fisika matahari, karena itu, komunitas ilmiah menambahkan lebih dari 5.000 makalah riset terkait matahari. Hingga September 2015, SOHO juga telah menemukan sekitar 3.000 komet untuk diteliti para astronom, demikian sumber yang dirilis NASA pada 2 November 2015 lalu.

SOHO mengubah pengetahuan ilmuwan

“Wahana antariksa SOHO telah mengubah pandangan kita tentang matahari, tiak lagi menganggap matahari sebagai benda statis yang tidak berubah, tetapi ada aktivitas yang dahsyat di angkasa,” kata Bernhard Fleck, ilmuwan SOHO dari European Space Agency-ESA.

Keterangan gambar: SOHO, wahana pengamat matahari yang beroperasi di ruang angkasa. (video screenshot / NASA)

Wahana antariksa SOHO dilengkapi dengan kamera korona matahari yang mutahir, bisa secara jelas mengamati fenomena letusan yang kuat di atmosfer matahari, yakni coronal mass ejections- CME, yang merupakan sebab utama atas fenomena cuaca di ruang angkasa. Secara astronomi, yang dimaksud dengan cuaca ruang angkasa itu mengacu pada pergerakan matahari yang dapat memengaruhi Bumi.

Meskipun sebelumnya terdapat dua unit kamera corona matahari di ruang angkasa, namun tidak mendapatkan banyak pengamatan yang jelas seperti hasil observasi SOHO. Karena itu, orang-orang menganggap bahwa letusan protuberan adalah penyebab cuaca di ruang angkasa, kata NASA.

Dengan bantuan wahana antariksa SOHO dan metode lainnya, ilmuwan menemukan bahwa coronal mass ejections dari matahari itu adalah massa matahari yang bermuatan listrik, benda berbentuk awan yang bergerak cepat, yang berisi medan magnet, dan dapat menyebabkan goncangan pada medan magnet bumi saat tiba di bumi, dan membentuk aurora yang spektakuler di kutub utara. Bersamaan dengan itu juga akan mengganggu komunikasi satelit global, serta menghasilkan the Geomagnetic Induced Current (Arus Induksi Geomagnet)

Oleh karena itu, komunitas ilmiah menyadari aktivitas matahari dapat mempengaruhi Bumi, perangkat di permukaan bumi hingga kesehatan manusia.

Mengeksplorasi lebih banyak misteri matahari

Karena tidak adanya gangguan dari atmosfer bumi, sehingga wahana antariksa SOHO bisa secara jelas mengamati gerakan ultraviolet ekstrim.

“Untuk pertama kalinya, kami dapat melihat gelombang ultraviolet ekstrim melintasi matahari dengan kecepatan satu juta mil per jam,” kata ilmuwan antariksa Alex Young.

Keterangan gambar: Citra kontinyu komet yang melesat mendekati (dari kanan bawah ke pusat) dan melesat menjauhi (dari pusat ke kanan atas) matahari yang ditangkap oleh wahana antariksa SOHO sejak 28 November 2013.(ESA/NASA/SOHO/SDO/GSFC)

Perjalanan misi yang diemban wahana antariksa SOHO juga tidak selalu berjalan lancar. Pada tahun 1998 silam, wahana antariksa SOHO baru menjalankan misinya pada awal September 1998 setelah perbaikan karena kesalahan perangkat lunak dan kehilangan kontak dengan menara control di permukaan bumi selama empat bulan.

Meskipun wahana antariksa SOHO berperan besar, namun, penelitian-penelitian untuk memahami matahari lebih dalam ini masih sangat jauh dari harapan, karena itu, NASA berencana meluncurkan wahana luar angkasa baru “Solar Probe Plus” pada 2018 mendatang, menyusup ke atmosfer luar matahari untuk mengeksplorasi. (joni/rmat)

 

 

 

Share

Video Popular