Keterangan gambar: Selasa, 29 Desember 2015 lalu, hasil pindai peta satelit menunjukkan bahwa fenomena El Nino tidak menunjukkan adanya tanda-tanda akan melemah. Peta suhu permukaan air laut yang dirilis National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA- (16/11/20115) lalu menunjukkan suhu permukaan tampak jauh di atas suhu normal (warna merah oranye).(AFP)

Oleh: Fang Ping

Citra satelit yang dirilis NASA menunjukkan bahwa fenomena El Nino di Samudera Pasifik tidak menunjukan adanya tanda-tanda akan melemah. El Nino terburuk diprediksi masih akan terjadi pada 2016.

“Bahkan mungkin akan menjadi tahun dengan bencana terparah,” ungkap para ahli.

Melansir laman National Broadcasting Company (NBC), citra satelit terbaru menunjukkan bahwa pola El Nino tahun ini sangat mirip dengan yang terjadi pada Desember 1997.

“El Nino yang sangat kuat dan dahsyat,” ungkap NASA.

Memicu cuaca ekstrem, dan diperkirakan sekitar 23 juta penduduk menjadi korban keganasan El Nino antara 1997 dan 1998. El Nino telah menyebabkan kondisi cuaca yang tidak biasa di Amerika Serikat, misalnya suhu naik hingga 20 derajat Celsius menjelang malam Natal di sejumlah wilayah pantai timur AS. Badai angin di wilayah Barat dan Selatan serta banjir yang memecahkan rekor sebelumnya.

Minggu, 27 Desember lalu, citra satelit di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA menunjukan, bahwa masih akan terjadi banjir dan kekeringan yang lebih parah pada 2016, prediksi ini membingungkan lembaga kemanusiaan.

“Jika tidak segera bertindak, maka sistem cuaca El Nino 2016 ini akan menyebabkan puluhan juta orang menghadapi kelaparan, kekurangan air dan penyakit,” kata Oxfam International dalam sebuah pernyataannya.

El Nino disebabkan oleh naiknya suhu permukaan laut Samudera Pasifik sekitar khatulistiwa bagian tengah dan timur. Secara umum, angin di Samudera Pasifik biasanya bertiup kencang dari Timur ke Barat, membawa air laut yang lebih dingin itu ke arah barat. Tapi saat El Nino terjadi, angin tersebut bertiup lemah, sehingga air di barat yg lebih hangat justru mengalir ke timur, sehingga permukaan air laut di Pasifik itu menjadi lebih hangat yang akhirnya mempengaruhi suhu dan cuaca di atmosfer. Sementara itu suhu di permukaan laut berhubungan dengan tiupan angin, saat tiupan angin melemah, akan membuat laut menjadi lebih hangat, hingga El Nino menjadi kuat.

Perubahan arus samudera dam udara di sekitar khatulistiwa dapat menciptakan tekanan abnormal di atmosfer, sehingga berdampak besar terhadap pola cuaca global.

Keterangan gambar: Selasa, 29 Desember 2015 lalu, hasil pindai peta satelit menunjukkan bahwa fenomena El Nino tidak menunjukkan adanya tanda-tanda akan melemah. Peta suhu permukaan air laut yang dirilis National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA- (16/11/20115) lalu menunjukkan suhu permukaan tampak jauh di atas suhu normal (warna merah oranye).(AFP)

El Nino yang kuat dan cuaca ekstrim secara global

Para ahli mengatakan bahwa secara global, setidaknya lima benua dilanda cuaca ekstrim yang fatal, sebagian besar disebabkan oleh fenomena El Nino paling dahsyat sepanjang sejarah ini, selain itu perubahan iklim juga akan membuat situasinya menjadi lebih buruk.

“Ini merupakan fenomena El Nino yang paling dahsyat sejak awal pengukuran atas fenomena El Nino 2015 dan 2016,” ungkap para ahli.

Sementara itu, Jerome Lecou, pakar iklim dari Meteo France (badan meteorologi Prancis) mengatakan, “Fenomena El Nino kali ini bisa jadi merupakan yang terkuat selama satu abad terakhir ini, dan kita baru mendapatkan hasil pengukuran yang akurat pada abad ke-20.

El Nino tahun ini telah mengakibatkan banjir paling parah selama lima dekade terakhir di Paraguay, Argentina, Uruguay, dan Brasil. Sedikitnya 150.000 orang terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak berat. Di Amerika Serikat, banjir bandang masih melanda. Tidak kurang dari 13 orang meninggal gara-gara banjir di Negara Bagian Missouri.

El Nino menjadi biang cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Siklus perubahan suhu yang memengaruhi iklim itu selalu menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan. Mulai banjir hingga kekeringan. Puncak El Nino akan terjadi pada awal tahun depan, sekitar Januari atau Februari. (epochtimes/joni/rmat)

 

 

Share

Video Popular