Keterangan foto: Pada Kamis (7/1/2016) diberitakan pendiriannya patung raksasa Mao Zedong. (internet)

Oleh: Ran Shazhou

Pada Kamis (7/1/2016) situs www.people.com.cn, media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menerbitkan sebuah laporan “Desa di provinsi Henan telah mendirikan sebuah patung Mao Zedong raksasa, setinggi 36,6 meter yang menghabiskan biaya jutaan Yuan. Pada Sabtu (9/1/2016) di media Dajiyuan (Epoch Times dalam edisi bahasa Tionghoa) juga terdapat sebuah laporan yang menyebutkan, baru-baru ini sebuah foto tentang patung besar Mao berwarna emas beredar di internet yang menuai banyak sindiran dari warga RRT. Beberapa hari kemudian, patung besar yang didirikan di lahan kosong di sebuah desa kabupaten Tongxu, provinsi Henan itu dengan sangat cepat telah dirobohkan.

Laporan melansir sebuah pernyataan penduduk desa yang disampaikan kepada “New York Times” bahwa regu pembongkaran pada Kamis (7/1/2016) pagi tiba di lokasi, pada jumat keesokan paginya hanya tersisa seonggok puing. Selain itu sebuah laporan media asing melaporkan, Jumat (8/1/2016) melalui pembenaran dari petugas biro tanah dan sumber daya kabupaten Tongxu, patung Mao Zetong yang menelan biaya sebesar 3 juta Yuan (6,4 miliar rupiah) itu telah dibongkar oleh regu pengawas kabupaten.

Berita tentang didirikannya patung raksasa Mao Zedong yang dilaporkan oleh media resmi PKT, hingga laporan oleh pemberitaan media asing bahwa patung itu telah dirobohkan, hanya memakan waktu sehari saja. Pembokaran yang begitu cepat telah menambah perhatian dan daya tarik atas berita besar tersebut. Lantas timbul pertanyaan, siapakah yang mempunyai hak dan nyali begitu besar, hanya dalam sehari telah merobohkan patung baru raksasa Mao Zedong, tokoh sejarah yang penuh kontroversial ini?

Tak diragukan lagi, keputusan itu selain pimpinan tertinggi PKT yakni Xi Jinping, tak seorang pun berhak untuk itu, sebelum itu juga tidak ada pemimpin tertinggi lainnya berani melakukan hal serupa. Merobohkan patung raksasa Mao Zedong yang notabene adalah sebuah ikon, menunjukkan “de-Maoisasi” yang sebelumnya berupa isyarat terselubung, telah berubah menjadi tindakan tegas sekarang ini.

Penulis sebelumnya pernah menulis, jika dikatakan Xi dalam rangka anti KKN “memukul macan” dan menjatuhkan Jiang Zemin merupakan sebuah tindakan terang-terangan, maka “de-Maoisasi” atau “menjatuhkan Mao” adalah sebuah upaya terselubung.

Keterangan foto: Pada Jumat (8/1/2016) diberitakan patung raksasa itu telah dibongkar. (internet)

Dengan kata lain, dahulu cara Xi Jinping “menyingkirkan Mao” kebanyakan menggunakan isyarat atau sekedar menyinggung saja, seperti dalam peringatan 120 tahun hari kelahiran Mao Zedong, skala peringatannya jauh lebih rendah dari peringatan 100 tahun hari kelahiran Xi Zhongxun, mantan pimpinan senior PKT (ayah Xi Jinping). Bahkan persis pada hari kelahirannya, “Gedung memorial” Mao Zedong yang berada di lapangan Tian An Men untuk sementera ditutup selama 1 hari.

Ketika Xi Jinping melakukan investigasi di provinsi Hunan pada Nopember tahun yang sama, Xi sengaja mengambil rute menghindar melewati kampung halaman Mao. September tahun lalu tatkala Xi Jinping berkunjung ke Amerika Serikat, telah menyumbangkan buku sejarah kepada siswa AS, yang mengungkap fakta sejarah modern Tiongkok yang mengritik Mao Zedong karangan Yuan Tengfei.

Pada 2014 Xi Jinping mengadakan simposium sastra dan kesenian, dalam pembicaraan panjang lebar, satu katapun tidak menyinggung ideologi sastra dan kesenian Mao Zedong, malahan memperkenalkan serentetan buku dan nama pengarang terkenal dari Tiongkok dan negara asing dan lain sebagainya. Xi Jinping juga pernah menyampaikan sikapnya terhadap Mao, seperti dalam kegiatan memperingati 120 tahun kelahiran Mao Zedong. Xi secara halus menyampaikan “tidak akan mendorong kebangkitan ideologi Mao,” tidak segan-segan menyampaikan “kesalahan serius” Mao Zedong.

Dibandingkan dahulu mengisyaratkan “menyingkirkan Mao” dengan sekarang patung Mao baru didirikan sehari langsung dirobohkan, tindakan Xi Jinping tersebut boleh dikatakan sebagai tindakan yang bernyali besar. Ini hanya berjarak selangkah saja dari menurunkan foto Mao di tembok Tian An Men serta menyingkirkan gedung memorial Mao yang memamerkan jenazahnya. Tindakan selanjutnya seperti halnya mantan negara sosialis di Eropa timur, kalamana partai komunisnya secara beruntun tercerai-berai, masyarakatnya dengan amarah meruntuhkan patung-patung Lenin.

Mungkin saja, insiden “merobohkan Mao” masih terdapat satu kemungkinan lain, yaitu sebuah desa sangat kecil di provinsi Henan berani mendirikan patung raksasa Mao untuk menantang Xi Jinping di pusat, peristiwa itu sendiri tidak hanya memperlihatkan pertarungan sengit di belakang 2 grup Xi dan Jiang, juga menunjukkan perlawanan keras terhadap Xi di pusat dari pemerintahan daerah.

Menurut laporan berdasarkan perkataan penduduk desa dan netizen, mendirikan patung Mao itu merupakan ide dari seorang pedagang setempat bernama Sun Qingxin, yang juga menjabat wakil ketua komisi tetap DPRD kebupaten Tongxu. Grup perusahaannya meliputi pengolahan makanan, rumah sakit, sekolahan, manufaktur mesin dan lain-lain. Penduduk desa mengatakan Xun membiayai pembangunan patung. Seorang penduduk desa lainnya bermarga Wang mengatakan, di dalam pabrik Xun dipenuhi dengan foto-foto Mao. Reporter “New York Times” di pintu masuk pabrik menyaksikan sebuah patung Mao setinggi 3 meter yang berwarna keemasan.

Dari sini dapat diketahui Xun bukan hanya seorang pendukung berat Mao pada umumnya, ia sekaligus mewakili grup kepentingan fraksi Jiang setempat. Sesungguhnya siapa yang mengeluarkan perintah membongkar patung Mao, menurut laporan menyebutkan, di luar desa, pejabat keamanan dan beberapa orang yang tidak diketahui indentitasnya secara kasar telah mengusir pelancong, menutup jalanan yang menuju ke lokasi patung. Penduduk desa mengatakan, petugas keamanan dikirim oleh pejabat kabupaten. Mereka percaya pembongkaran patung Mao merupakan perintah dari pejabat provinsi.

Dengan kata lain, tindakan pembongkaran patung mungkin merupakan hasil dari pertarungan 2 grup di daerah, tidak perlu diputuskan dari pusat. Jika benar demikian, akan membuktikan “meruntuhkan Mao” bagi pemerintah daerah dari semula sudah merupakan tindakan yang selaras dengan pusat. Maka berita tentang pembongkaran patung raksasa Mao yang dilakukan oleh regu pengawas dari kabupaten Tongxu provinsi Henan ini, masih mempunyai nilai untuk dapat digali lebih mendalam lagi. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular