Keterangan foto: Wang Yongming duduk sendirian di depan ruang penginapannya di rumah duka setelah ditinggal mati adiknya. (foto the paper)

Oleh Yang Muchun

Tempat tinggal sederhana yang dihuni oleh dua warga lansia Shandong Tancheng County, desa Qingshan, Tiongkok, bernama Wang Yongli dan abangnya Wang Yongming pada Selasa (5/1/2016) dibongkar paksa. Karena tidak memiliki uang cukup keduanya terpaksa menumpang tinggal di Rumah Duka Desa Qingshan. Wang Yongli yang berusia 65 tahun akhirnya meninggal dunia karena sakit setelah 9 hari menghuni rumah duka itu.

Terpaksa numpang tinggal di rumah duka

Sebagaimana yang dilaporkan oleh media ‘The paper’ pada 21 Januari bahwa, menurut seorang warga desa yang melayat almarhum Wang Yongli pada 16 Januari mengatakan, “Ia mungkin tidak akan meninggal dunia secepat ini bila rumahnya tidak digusur dan harga tempat tinggal penggantinya tidak terlalu mahal. Bila putranya itu memang benar-benar berhati untuk mengurus ayahnya. Bila uang tak seberapa dari ganti rugi itu ada ditangannya. Bila para pengurus desa mau memikirkan tempat tinggal yang layak baginya… “

Sewaktu masih hidup, Wang Yongli terlihat dalam video rekaman saat warga desa itu menuntut dengan iba di depan kantor desa karena tempat tinggalnya sudah dibuldozer dan ia belum menerima ganti rugi. Karena itu ia dan abangnya terpaksa menumpang tinggal di rumah duka.

Setelah The Paper memberitakan hal itu pada 12 Januari, petugas desa baru muncul pada keesokan harinya untuk ‘mengatur penempatan’ kedua lansia itu. Namun, Wang Yongli tiba-tiba tak sadarkan diri pada saat sedang membenahi barang-barangnya. Orang-orang yang berada di sekitar segera menelpon 120 untuk meminta bantuan. Ia meninggal dunia sebelum sempat dirawat. Karena keluarga tidak menghendaki tindak autopsi, dokter forensik hanya memberikan pernyataan ‘serangan jantung’ sebagai penyebab kematiannya.

Pada waktu Wang Yongli masih hidup, ia bersama putranya berulang kali pergi ke kantor desa untuk menuntut uang ganti rugi.

Kabarnya, selama Wang Yongli menumpang tinggal di rumah duka, beberapa orang tak dikenal beberapa kali ‘mengunjungi’ nya dengan membawa pesan ancaman. Putranya Wang Haitao akan segera ditangkap petugas Keamanan dan Ketertiban, urusannya bakal besar !

Seorang pria tak dikenal mengancam Wang Haitao melalui telepon dengan mengatakan, “Tarik semua kata-kata yang diucapkan ayahmu di video rekaman itu. Katakan kepadanya bahwa ia masih membutuhkan bantuan kantor desa untuk mengurusinya …”

Uang ganti rugi dibawa pergi putranya

Media The Paper melaporkan bahwa menurut catatan yang tersedia di Kantor Desa Qingshan, uang ganti rugi kedua orang lansia itu sudah diterima oleh Wang Haitao, jumlahnya adalah RMB. 217,070 yang terdiri dari haknya Wang Yongli RMB. 170.000 lebih dan Wang Yongming RMB. 40.000 lebih.

Menurut penuturan Wang Haitao bahwa ia bersama ayahnya sudah sering mendatangi kantor desa untuk meminta uang ganti rugi itu, tetapi belum juga diperoleh. Karena tidak menerima uang ini, ia terpaksa meminjam orang untuk membeli tempat tinggal baru. Untuk membayar hutang rumah baru itu terpaksa dijual… (berbelit-belit untuk membohongi ayah dan pamannya).

Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kematian orang tua itu

Dikabarkan bahwa satu bulan sebelum kedua orang lansia itu menumpang tinggal di ruangan milik rumah duka, juga ada seorang lansia warga desa bermarga Zhao yang juga numpang dan meninggal dunia di tempat yang sama. Mereka memiliki nasib yang serupa yaitu rumah dibongkar dan uang ganti rugi dibawa kabur oleh putra mereka sendiri. Sehubungan Zhao tidak bersedia dibawa ke rumah jompo, petugas kantor desa terpaksa meminjam ruang di rumah duka sebagai tempat penginapan sementara. Konon, ia diatur tinggal di ruang jenasah yang bertemperatur rendah.

Beberapa mengeluhkan soal uang ganti rugi tempat tinggal lama yang dibongkar paksa tak mampu untuk mengganti tempat tinggal baru yang berharga mahal, sehingga banyak warga lansia desa terpaksa jadi gelandangan. Meskipun orang lansia tidak cocok untuk diinapkan di rumah duka, tetapi mengapa kedua orang lansia bermarga Wang itu masih saja ditempatkan di sana. Siapa yang harus bertanggung jawab? (sinatra/rmat)

Share

Video Popular