Menyusul pengumuman tentang penggunaan ‘Waktu Pyongyang’ pada Agustus tahun lalu,  kini pemerintah Korea Utara kembali mengumumkan rencana untuk mengganti nama negara mereka dalam huruf Latin yang selama ini ditulis Korea atau Korean menjadi Corea atau Corean mulai Mei mendatang.

Media Korea Selatan pada Minggu (31/1/2016) memberitakan, nama negara itu dalam bahasa Inggris, “the Democratic People’s Republic of Korea” mulai Mei mendatang akan berubah menjadi “the Democratic People’s Republic of Corea.” Berita itu menyebutkan bahwa rencana penggantian huruf K dengan C itu akan disahkan dalam Kongres Nasional Partai Buruh Korea Utara yang diselenggarakan pada Mei tahun ini.

Media tersebut mengutip tulisan dalam disertasi doktoral mahasiswa Universitas Kim Il-sung yang bernama Pu Xuezhe menyebutkan bahwa ‘Chosun’ (Korea dalam bahasa Korea) tulisan dalam huruf Latin pada awalnya adalah ‘Corea.’ Tetapi sejak Chosun dijajah Jepang kemudian ‘Corea’ diubah menjadi ‘Korea’.

Alasan Jepang mengubah Corea menjadi Korea adalah karena C (Corea) menurut susunan alfabetik terletak di depan J (Jepang). Ini membuat pihak penguasa Jepang pada saat itu merasa terganggu, sehingga mengganti C dengan K agar Chosun berada di belakang Jepang, demikian tulisan dalam disertasi itu.

Namun, Guru Besar Universitas Inha Korea Selatan, Li Yinghao mengatakan bahwa tak satu pun  dari buku-buku Jepang yang diterbitkan pada awal abad ke 20 ada yang menyebutkan bangsa Jepang mengambil pusing dengan huruf K dan C yang dihubungkan dengan Chosun. Menurut media tersebut bahwa meskipun penggunaan huruf C yang dianggap benar, tetapi mengubah nama negara dalam prakteknya akan menimbulkan banyak kesulitan di samping tidak  sedikit pekerjaan yang harus dilakukan.

Pada 15 Agustus tahun lalu, pemerintah Korea Utara melalui siaran TV nasional mereka telah mengumumkan kepada rakyat dan dunia tentang penggunaan “Waktu Pyongyang.” Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan Zheng Junxi menanggapi penggunaan waktu Pyongyang mengatakan, pemerintah Korea Utara memaksakan kehendak mereka untuk mengubah zona waktu, sehingga kedua Korea itu memiliki perbedaan waktu 30 menit yang akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hubungan, juga akan mengganggu usaha penyeragaman standar dan sebagainya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular