Keterangan foto: Menurut kantor berita ABC dalam kasus Davis bahwa di AS belum semua Negara bagian yang menerbitkan akte pernikahan sesama jenis (berwarna kuning). (internet)

Penulis: Tao Yihui

Kim Davis, seorang pejabat klarikal Pengadilan Keuangan Rowan County Kentucky Amerika Serika, telah berurusan dengah hukum yang diyakininya telah melenceng dari “Firman Tuhan”.

Dari edisi minggu lalu: Menurut ABC Amerika dalam pemberitaan kasus Davis menyinggung bahwa belum semua negara bagian di Amerika Serikat menerbitkan akte nikah homosex. Selain Rowan County Kentucky, juga ada negara bagian lain yang belum menerbitkan akte nikah homosex. Sampai saat ini hanya Davis saja yang secara langsung menghadapi badai tersebut.

Bertahan dengan teguh

Pada 31 Oktober 2015, Kim Davis melalui pengacara organisasi kebebasan beragama menuntut agar mengubah empat keputusan hukum pengadilan lokal, termasuk keputusan yang meminta Kim Davis menerbitkan akte nikah homosex, yang mengabaikan hak azasi kepercayaannya dan penahanannya.

Kim Davis dalam pernyataannya mengatakan, dia mengikuti “Firman Tuhan” untuk tidak menandatangani akte nikah homosex; Kim Davis menyatakan, “Bagi saya ini sama sekali bukanlah permasalahan homosexsual, melainkan adalah mengenai pernikahan dan Firman Sang Pencipta.”

Kim Davis selalu mempertahankan dengan teguh hati nuraninya. Dia berkali-kali menerima ancaman mati, dia pun mengubah nomor teleponnya, ada yang malah menghujatnya sebagai “Hitler”, tapi dia tetap tidak goyah.

Pernikahan masa lalu yang kacau balau dan karunia kelahiran kembali

Media massa besar AS juga mengungkap proses perubahan kehidupan Kim Davis yang dulunya kacau balau menjadi suatu kehidupan yang normal dan bersih. ABC Amerika dan program TV Kentucky WLKY semuanya pernah secara khusus meliputnya.

Kim Davis sudah menikah pada usia 18 tahun dan pernah menikah sampai 4 kali. Suaminya yang sekarang adalah juga suaminya yang ke 2. Sepuluh tahun setelah pernikahan yang pertama, 5 bulan setelah perceraian dia melahirkan anak kembar di luar nikah. Suaminya yang ke dua rela mengasuh mereka. Namun sekitar 10 tahun kemudian, dia bercerai lagi, setelah dia menikah dengan ayah dari dua anak kembar yang dilahirkan di luar nikah tersebut, namun pernikahan kali ini hanya bertahan satu tahunan saja. Untuk kali keempat dia rujuk lagi dengan suaminya ke dua. Melihat pernikahan dalam hidupnya ini memang benar-benar kacau.

Kira-kira empat tahun yang lalu, di hari itu ibu mertuanya meninggal dunia, dia melukiskan telah memperoleh pesan penuh rahmat (a message of grace) di gereja, dia telah memilih untuk hidup dengan mematuhi “Firman Tuhan”. Pada Januari 2011 dia resmi menjadi umat Kristen yang patuh, dan dengan tulus hidup sesuai dengan ajaran Alkitab serta tidak melanggar kehendak Tuhan.

Disemangati oleh Sri Paus agar bertahan dengan teguh

Kim Davis tidak melanggar Kehendak Tuhan, dia bertahan pada jalan pernikahan yang ditunjukkan oleh Sang Pencipta. Namun telah diborgol tangannya. Barangkali karena hal tersebut Sri Paus Francis dari Vatikan Roma bersedia menemuinya ketika untuk kali pertama mengunjungi AS, Kim Davis telah menerima telpon dari Kedubes Vatikan di AS. Pada hari yang sama dengan pidato Sri Paus di parlemen AS, Duta Besar Vatikan di Washington telah menjumpai suami istri Kim Davis.

Pada 24 September, Sri Paus di Parlemen AS berpidato selama 40 menit, ketika Sri Paus membahas masalah hak hidup dan pernikahan dalam keluarga, dengan berat menyatakan kekawatirannya tentang rumah tangga yang terancam serta pernikahan dan rumah tangga yang merupakan hubungan manusia yang paling mendasar telah mendapatkan tantangan.

Pada 29 September pendukung Kim Davis dari organisasi nonprofit “penasehat hukum bebas” mengumumkan sebuah berita, bahwa Kim Davis pada 24 September telah berjumpa dengan Sri Paus. Berita itu mengungkapkan, Sri Paus berterima kasih atas “keberanian” yang ditunjukkan oleh Davis, bahkan dengan bahasa Inggris mendorongnya untuk “tetap teguh (stay strong).” Perjumpaan itu berlangsung selama 15 menit, Sri Paus menghadiahkan tasbih Rosario kepada Kim Davis suami istri, akhirnya mereka bersalaman dengan sangat akrab bahkan berjanji untung saling mendoakan.

Setelah itu, pihak Vatikan pada 30 September juga memberitakan di New York Times dan The Washington Post yang membenarkan berita mengenai pertemuan antara Sri Paus dan Kim Davis suami istri. Publikasi internal Vatikan pun memuatnya. Kim Davis menyatakan bahwa dirinya adalah orang kecil biasa yang belum pernah mengharapkan datangnya kehormatan semacam itu.

The New York Times” pada 30 September memberitakan Sri Paus menjumpai Davis. Pemberitaan mengatakan, Mat Staver sang pengacara Davis menyampaikan bahwa Davis suami istri dan pihak Vatikan setuju untuk tidak mengumumkan pertemuan tersebut sebelum Sri Paus meninggalkan Amerika, karena mereka tidak menginginkan kunjungan Sri Paus terpusat pada Kim Davis.

Menurut pemberitaan “The New York Times“, Sri Paus dalam mengakhiri kunjungan ke Amerika pada kotbahnya yang untuk umum di Philadelphia mengatakan, Allah menunjukkan pada keluarga mengenai “Perjanjian Persekutuan antara Laki-laki dan Wanita”.

Pada 29 September Radio ABC juga menyiarkan berita yang menarik perhatian. Terry Moran, jurnalis ABC pada 27 mengajukan pertanyaan kepada Sri Paus, apakah “penolakan yang berasal dari hati nurani” merupakan hak azasi manusia, Sri Paus memberikan jawaban yang membenarkan. Jurnalis juga bertanya, apakah petugas pemerintah juga memiliki hak azasi semacam ini?

Sri Paus menjawab, apabila petugas pemerintah juga manusia, tentu mereka juga memiliki hak azasi demikian.

Mukjizat karunia Sang Pencipta “pembabtisan” ulang pada masa yang tidak ditentukan

Dilihat dari contoh keteguhan Kim Davis, pada permukaannya adalah permasalahan seorang petugas pemerintah menolak melaksanakan hukum pemerintahaan yang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri dalam imannya kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya, itu mencerminkan masalah yang lebih mendalam tentang ujian terhadap keteguhan iman umat manusia, yang lebih serius lagi adalah, permasalahan mengenai hendak berjalan ke manakah langkah manusia di kemudian hari?

Dahulu banyak orang bersama-sama mengenang kasih karunia penyelamatan Yesus Kristus pada umat manusia dan mukjizat Ilahi tentang kebangkitan kembali setelah kematian, merayakan kehidupan setelah bencana di dalam karunia Ilahi menjalani kehidupan nan indah. Namun, di zaman sekarang manusia justru menetapkan suatu undang-undang agar manusia melanggar “Firman Sang Pencipta,” agar manusia meninggalkan Sang Pencipta…., apakah ini justru akan mematahkan jalan hidup umat manusia sendiri? (pur/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular