Keterangan foto: Piramida Mesir mengandung misteri sejarah umat manusia.(Fotolia

Oleh: Lin Yan

Ketika seorang arkeolog meneliti keberadaan dinasti Khentkaus III, yakni seorang ratu pada Periode Kerajaan Tua (Old Kingdom) Mesir Kuno, ia mendapatkan sebuah kesimpulan yang mengejutkan. Sejarah umat manusia sedang mengulangi jalan kehancuran orang zaman dulu, mengulang kembali krisis moral masyarakat dan lingkungan alam, dan kehancuran umat manusia sekarang adalah keniscayaan, untuk itu perlu melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Melansir laman CNN, Senin (01/02/2016), arkeolog dari Czech Institute of Egyptology menemukan sesuatu dari seorang ratu Mesir kuno yang tidak pernah diberitakan di zamannya, bahwa kerajaan yang sebelumnya tidak diketahui pernah hidup sekitar 4.500 tahun yang lalu itu memasuki masa kehancuran. Kondisi ini hampir sama dengan yang dihadapi masyarakat manusia sekarang, tampaknya sejarah akan terulang kembali.

Ratu ini adalah Khentkaus III, dan Raneferef atau yang dikenal sebagai Pharaoh Neferefre, adalah suaminya, sang penguasa tertinggi dari dinasti kelima Mesir Kuno (Periode 2649 SM – 2150 SM).

Para arkeolog menemukan makam sang ratu Mesir kuno di Abu-Sir, barat daya Kairo. Selain itu, arkeolog juga menemukan kerangka jasad manusia, tembikar, hasil kerajinan dari kayu, tembaga dan tulang belulang binatang..

Profesor Miroslaf Barta dari Czech Institute of Egyptology yang memimpin penelitian terkait menjelaskan bahwa kita bisa mendapatkan petunjuk tentang kehidupan sang ratu dengan menggunakan teknologi modern, misalnya menentukan usianya dengan karbon, mengidentifikasi penyakit yang mungkin dideritanya, dan memperkirakan kesuburannya sesuai dengan ukuran panggul dan sebagainya.

“Dari berbagai rincian yang diamati, diperkirakan bahwa era keberadaan sang ratu ini adalah masa gelap dari kerajaan kuno,” kata professor Barta menambahkan.

Menurut penuturan profesor Barta : “(Itu adalah) periode kritis dari Kerajaan kuno, yang mulai menghadapi isu-isu utama : seperti munculnya demokrasi, dampak mengerikan dari nepotisme dan peran dari kelompok yang berkepentingan.

Barta menambahkan bahwa perubahan iklim juga berperan dalam mengakhiri kerajaan Mesir kuno ini, demikian juga dengan akhir dari setiap kerajaan Timur Tengah dan Eropa Barat kala itu.

200 tahun setelah kematian Khentkaus III, Sungai Nil tak lagi membanjiri sepanjang bantarannya, tak ada lagi lumpur subur yang terangkat ke permukaan. Kekeringan panjang membuat kerajaan-kerajaan memasuki masa senjakala. “Tanpa luapan banjir Sungai Nil, tidak ada lagi hasil (pertanian) yang bisa dipanen, tentu saja berpengaruh buruk pada penarikan pajak dan eknomi terus merosot, para penguasa tidak memiliki dana yang memadai untuk mempertahankan operasional aparatur negara, menegakkan ideologi dan mempertahankan integritas negaranya.

Profesor Barta mengatakan : “(Ini) berkontribusi pada disintegrasi era dinasti Mesir.” Dan hasil penelitian ini juga merupakan peringatan sejarah kepada umat manusia modern, tandanya.

Profesor Barta menambahkan : “Dengan mempelajari masa lalu, kita bisa belajar banyak hal untuk masa sekarang. Kita tidak bedanya dengan orang-orang pada masa itu, namun, banyak orang yang cenderung berpikir, “kita hidup di era yang tidak sama dengan zaman mereka”, tapi sejatinya tidak demikian, kata Barta.

“Orang-orang bisa menemukan banyak cara untuk memecahkan banyak masalah internal dan eksternal yang dihadapi dunia modern, jelas professor Barta.

Menurutnya, meski kehancuran adalah sebuah keniscayaan, namun manusia bisa melakukan sesuatu untuk menghadapinya. Barta berharap makam Khentkaus III dapat memberikan pelajaran berharga dan membantu manusia modern menemukan solusi untuk memecahkan krisis saat ini. Untuk itu ia mengemukakan : “Jika kita menerima fakta dari kehancuran ini, maka kita akan mengerti bahwa kehancuran adalah sebuah langkah mutlak dalam proses alami atas segaa hal ihwal, sekaligus juga merupakan proses pasti menuju “kelahiran kembali”. Sehingga dengan demikian kita akan bisa menghadapi kehancuran.

Profesor Barta memperkirakan, masih butuh watu sekitar dua tahun baru bisa mendapatkan hasil analisis yang komperehensif dari data-data terkait yang dikumpulkan. (epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular