Keterangan gambar: Ilmuwan dari Center for Genetics and Society yang berbasis di AS menyerukan agar menghentikan pengembangan teknologi editing gen/ modifikasi gen manusia, dan memperingatkan bahwa teknologi ini akan memicu munculnya “desainer bayi.” (Fotolia

Oleh: Lin Yan

Amerika Serikat menggolongkan teknologi editing gen dalam kategori sebagai senjata pemusnah massal, dan penyalahgunaan teknologi editing gen (teknologi rekayasa genetika dari gen yang dimodifikasi), baik disengaja atau tidak dapat berdampak luas pada ekonomi dan keamanan nasional.

Melansir laman “Business Insider,” Kamis (11/2/2016), Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper mengklasifikan teknologi editing gen dalam daftar senjata berbahaya dengan senjata nuklir Korut dan kimia di Suriah.

Laporan terkait mengutip laman MIT Technology Review menyebutkan, bahwa dalam pertemuan di Senate Armed Services Committee (Komite Senat Angkatan Bersenjata) pada Rabu pekan lalu, James Clapper menyampaikan laporan Worldwide Threat Assessment of the U.S. Intelligence Community (Penilaian Ancaman Dunia dari Komunitas Intelijen AS).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa jika penggunaan teknologi editing gen dalam rekayasa genetika itu disalahgunakan akan menjadi senjata pemusnah massal yang mengerikan.

Senjata pemusnah massal

Menurut think-tank dari badan intelijen nasional AS, bahwa teknologi manipulasi gen ini dapat mengancam seluruh dunia. Laporan terkait juga mengatakan bahwa aturan atau standar etika yang diterapkan negara-negara yang menggunakan teknologi editing gen ini berbeda dengan standar etika negara-negara Barat, sehingga ada kemungkinan memproduksi bahan biologi atau produk yang berpotensi berbahaya, demikian laporan Worldwide Threat Assessment of the U.S. Intelligence Community (Penilaian Ancaman Dunia dari Komunitas Intelijen AS).

Laporan itu juga menyebutkan, bahwa mengingat penyebaran dari teknologi pedang bermata dua yang luas, biaya yang rendah dan perkembangannya yang cepat ini, dikhawatirkan baik penyalahgunaan yang disengaja atau tidak dapat berdampak luas pada ekonomi dan keamanan nasional. Selain itu, laporan tersebut juga menegaskan, bahwa percobaan mengubah sel reproduksi manusia juga akan berdampak pada genetik.

Masih menurut laporan terkait, departemen penelitian otoritas Tiongkok telah menggunakan teknologi CRISPR untuk mengubah embrio manusia, sehingga membuat heboh masyarakat internasional. Sementara itu, satu pekan sebelumnya, Inggris juga telah mengizinkan ilmuwan memodifikasi gen embrio manusia.

“Karena membutuhkan teknologi yang sangat luas untuk membuat senjata seperti ini, sehingga saya terkejut mendengar laporan terkait teknologi editing gen yang digolongkan sebagai senjata pemusnah massal,” ujar Piers Millet, pakar senjata biologis di Woodrow Wilson Center, Washington DC, AS.

Menurut laporan tersebut, bahwa selain menderetkan daftar senjata pemusnah massal, laporan terkait juga secara khusus menyebutkan masalah keamanan internet, terorisme, konfrontasi ruang angkasa, anti-spyware, organisasi kejahatan transnasional, ekonomi dan sumber daya alam serta masalah keamanan manusia dan isu-isu lainnya.

Rekayasa genetika CRISPR berpotensi menciptakan bencana

Sejak beberapa tahun terakhir ini, orang-orang melihat efisiensi yang tinggi dan biaya yang rendah dari modifikasi gen CRISPR, karena itu wajar ada yang khawatir. Meskipun teknologi editing gen ini dikatakan dapat mengobati sejumlah penyakit dan perbaikan tanaman, tetapi justru karena ini dapat memicu munculnya desainer bayi atau super mikroorganisme yang akan membawa bencana etika/moral atau biologi.

CRISPR-Clustered regularly interspaced short palindromic repeats adalah pengulangan terbilang singkat yang diselingi keteraturan berkelompok, tapi sebenarnya ia merupakan suatu sistem gene editing (perbaikan gen) berbasis protein bakteri, yang bisa dengan mudah membuat suatu senjata genetik.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa CRISPR hampir dapat dikatakan sebagai suatu senjata genetik serba guna, yang dapat digunakan untuk menghilangkan, menambah, mengaktivasi atau merepresi gen target secara akurat, dan dapat melibatkan banyak makhluk hidup, seperti manusia, tikus, ikan zebra, bakteri, Drosophila melanogaster (lalat buah), yeast (khamir), nematoda (cacing gilig), tanaman dan sebagainya. (epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular