Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa mungkin perlu digunakan metode kontroversial seperti rekayasa genetika nyamuk untuk melenyapkan serangga yang menyebarkan virus Zika di seluruh Amerika.

Virus tersebut telah dikaitkan dengan lonjakan pada bayi yang lahir dengan kepala kecil abnormal, atau microcephaly, di Brasil dan Polinesia, Prancis. Badan kesehatan PBB telah menyatakan Zika sebagai darurat global, meskipun masih tidak ada bukti definitif bahwa itulah yang menyebabkan cacat lahir pada banyak bayi.

Menurut WHO, tim penasehat telah merekomendasikan uji coba lapangan lebih lanjut dari nyamuk rekayasa genetika, yang sebelumnya telah diuji dalam sebuah percobaan kecil di negara-negara termasuk Kepulauan Cayman dan Malaysia.

“Mengingat besarnya krisis Zika, WHO mendorong negara-negara yang terkena dampak … untuk meningkatkan penggunaan kedua pendekatan lama dan baru dalam pengendalian nyamuk sebagai garis pertahanan paling cepat,” kata WHO dalam sebuah pernyataan. WHO mengatakan bahwa setidaknya terdapat 34 negara yang telah mengalami krisis virus Zika saat ini, yang sebagian besarnya terjadi di Amerika Latin.

Menurut WHO, percobaan sebelumnya yang melepaskan serangga-serangga steril pernah digunakan oleh lembaga PBB yang lain untuk mengendalikan hama pertanian. Badan ini menggambarkan nyamuk Aedes aegypti, yang menyebarkan Zika serta penyakit lainnya termasuk demam berdarah dan demam kuning, sebagai nyamuk “agresif” yang menggunakan “serangan menyelinap” dalam menggigit seseorang, serta memberikan catatan bahwa nyamuk tersebut telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.

Bulan lalu, perusahaan bioteknologi Inggris, Oxitec, mengatakan bahwa tes di Brasil pada 2015 lalu yang menunjukkan perubahan secara genetik pada nyamuk jantan steril berhasil mengurangi jentik-jentik nyamuk penyebar penyakit ini hingga 82 persen dalam sebuah lingkungan di Kota Piracicaba, Brasil. Nyamuk jantan yang dimodifikasi secara genetik tidak menyebarkan penyakit karena hanya nyamuk betina yang menggigit.

Beberapa ahli setuju bahwa mungkin bisa menggunakan nyamuk rekayasa genetika mengingat kecepatan penyebaran Zika, namun tetap tidak yakin dengan hasil akhirnya.

“Cara ini dilakukan tidak akan meninggalkan banyak ‘nyamuk mutan’ di pedesaan,” kata Jimmy Whitworth, seorang ahli penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Menurut Whitworth, nyamuk Zika adalah spesies impor yang sengaja dibawa ke Amerika sejak ratusan tahun lalu, dan ia optimis bahwa pemberantasan mereka tidak akan merusak lingkungan.

Namun, Whitworth menegaskan bahwa langkah tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak mungkin untuk mengetahui apa dampak yang mungkin terjadi sebelum melepaskan “serangga rekayasa” itu ke alam liar.

“Anda tentunya hanya berharap bahwa ekologi akan kembali ke kondisi semula sebelum nyamuk itu tiba. Tapi tetap saja tidak ada cara untuk mengetahui secara pasti tentang dampak yang akan terjadi,” pungkasnya. (Osc)

Share

Video Popular