Manusia dapat berterimakasih pada nenek moyang Neanderthal yang telah menurunkan gen mereka untuk melawan penyakit, namun begitu juga alergi-alergi mereka, penelitian baru menunjukkan.

Varian genetik telah ditemukan pada manusia modern yang awalnya berasal dari Neanderthal dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap alergen lingkungan, menurut dua studi baru yang diterbitkan bulan lalu (7 Januari) dalam “American Journal of Human Genetics”.

Namun gen yang diturunkan Neanderthal ini mungkin memiliki lapisan perak. Studi tersebut juga menemukan bahwa kawin campur dengan Neanderthal mungkin telah membantu manusia purba, yang datang dari Afrika, menjadi pemimpin yang memulai bertahan  hidup di Eropa.

“Neanderthal, misalnya, pernah tinggal di Eropa dan Asia Barat sekitar 200.000 tahun sebelum kedatangan manusia modern. Mereka cenderung beradaptasi dengan baik dengan iklim, makanan lokal dan pathogen. Terjadinya kawin campur dengan manusia-manusia kuno, kita manusia modern memperoleh adaptasi menguntungkan ini, ” ungkap Janet Kelso dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, dalam sebuah pernyataannya.

Neanderthal kawin dengan manusia ketika manusia pertama kali muncul dari Afrika masuk ke Eropa, sekitar 50.000 tahun yang lalu. Studi menunjukkan manusia Neanderthal yang terakhir kawin terjadi setidaknya 37.000 tahun yang lalu.

Sebagai hasil dari perkawinan ini, studi genetik menjelaskan, sebanyak 2,5 persen DNA orang Eropa hari ini berasal dari Neanderthal, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa hingga 6 persen  DNA modern berasal hominin purba. Kelompok itu mencakup baik Neanderthal maupun satu set misterius dari nenek moyang manusia yang hidup di Siberia, yang disebut Denisovan.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa banyak gen milik manusia modern yang diwarisi dari Neanderthal berperan dalam sistem kekebalan tubuh, meskipun peran yang tepat masih belum jelas.

Dalam studi baru, para peneliti telah meneliti kekayaan yang melimpah milik DNA modern dari 1000 rancangan gen. Para ilmuwan membandingkan DNA manusia modern ini dengan genom dari hominin purba, berfokus pada sekitar 1.500 gen yang sebelumnya telah ditemukan memainkan peran dalam baris pertama pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus, yang disebut sistem imun bawaan.

Selanjutnya, tim membangun sebuah garis waktu kapan perubahan di dalam beberapa gen ini menjadi meluas dalam populasi, juga menentukan apakah perubahan-perubahan tersebut telah diwarisi dari hominin kuno seperti Neanderthal.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar perubahan gen ini terjadi antara 6.000 dan 13.000 tahun yang lalu, hal ini tidak mengejutkan, mengingat bahwa manusia beralih dari pemburu-pengumpul menjadi bergaya hidup pertanian dalam periode itu. Namun, tiga gen tampak telah berubah sebelumnya, tepat di saat manusia pertama kali bertemu Neanderthal.

Gen-gen ini berisi petunjuk untuk membangun keluarga protein yang disebut Toll-like-reseptor (TLR). Protein ini – TLR 1,6 dan 10 – duduk di permukaan sel dan mengikat penyerbu asing seperti bakteri dan jamur. Hal ini, pada gilirannya, memobilisasi sisa dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Secara terpisah, tim Kelso ini mencari penyebaran DNA yang paling serupa di antara manusia, Neanderthal dan Denisovans. Perburuan ini mirip dengan memimpin kelompok pada gen-gen TLR 1,6 dan 10.

Para peneliti juga memperlihatkan bahwa, pada manusia, orang-orang dengan versi gen-gen kuno ini memiliki respon yang lebih kuat untuk mikroba seperti Helicobacter pylori daripada orang dengan varian-varian lainnya.

“Apa yang telah muncul dari penelitian kami adalah bahwa kawin campur dengan manusia kuno memang memiliki implikasi fungsional untuk manusia modern, dan bahwa konsekuensi paling jelas telah membentuk adaptasi kita terhadap lingkungan, meningkatkan bagaimana kita melawan patogen dan memetabolisme makanan baru, “kata Kelso.

Mengingat bahwa respon imun sangat waspada, bagaimanapun, mungkin memiliki sisi gelap. Studi pada populasi besar telah menemukan bahwa orang dengan gen versi kuno lebih mungkin untuk memiliki penyakit alergi, yang terjadi ketika tubuh orang menanggapi pemicu lingkungan yang normal seolah-olah mereka adalah ancaman-ancaman berbahaya. (Livescience/ran)

Share

Video Popular