Satu tim peneliti internasional telah merekonstruksi letusan super gunung berapai di Italia selatan 39.000 tahun yang lalu, memuntahkan volume abu dan puing-puing ke udara yang setara dengan delapan kali muntahan gunung Everest, di dekat Naples.

Lebih dari 1,1 juta mil persegi, dari Laut Mediterania timur sampai pada yang sekarang disebut Siberia, telah terselimuti.

Ledakkan dari Campi Flegrei, atau Phlegrean Fields, di Teluk Naples, letusan tersebut menciptakan kaldera (kawah besar gunung berapi, yang terbentuk oleh letusan besar yang mengarah ke runtuhnya mulut gunung berapi) empat mil lebarnya dan membentuk tebing dimana biara Camaldoli sekarang berdiri.

Dampak global jangka panjang yang begitu kuat tersebut memperlambat kelompok hominid modern di Eropa migrasi ke arah barat.

“Itu adalah letusan gunung berapi terbesar selama 200,00 tahun terakhir di Eropa,” kata Antonio Costa, seorang peneliti geofisika di Institute National of Geophysics and Volcanology  (INGV).

Costa dan rekan-rekannya merinci temuan mereka di jurnal “Scientific Reports”. Mereka menganalisis lebih dari 100 timbunan geologi dari daerah penyebaran sampai ke Rusia, dan menemukan sampel-sampel tersebut menampilkan dua ukuran butir yang berbeda, satu kasar dan lainnya halus.

“Distribusi ukuran butiran bimodal yang demikian menunjukkan dua tahap yang berbeda dari letusan tersebut,” kata Costa pada Discovery News.

Dia mencatat bahwa studi komputasi sebelumnya telah salah menandai letusan itu sebagai peristiwa  fase tunggal.

Model komputer dibuat bekerjasama dengan Barcelona Supercomputing Center (BSC) merekonstruksi skenario menakutkan tersebut secara rinci.

Sama seperti letusan Gunung Vesuvius yang terjadi pada tahun 79 Masehi  telah melenyapkan kota Pompeii, letusan Supervolcano “tersembunyi” dan masih aktif pada Phlegrean Field dimulai dengan fase ledakan Plinian.

Dalam fase ini, awan jamur dari batu-batu yang terfragmentasi dan gas menyembur ke langit hingga 27 mil tinggginya, menyuntikkan gas vulkanik dan abu ke stratosfer, yang merupakan lapisan atmosfer di atas dimana kita hidup.

Curahan tersebut terdiri dari hampir 13 kubik mil dari timbunan yang jatuh melintasi lebih dari 500 ribu mil persegi, dengan abu kasar dan pecahan batu menutupi wilayah yang sekarang disebut Italia selatan.

Tepat sesudahnya, kolom yang terbuat dari partikel-partikel abu halus terpisah dari aliran piroklastik yang menghancurkan (arus gas panas dan batu bergerak cepat) mmelompat sampai 23 mil tingginya.

Sungai pecahan batu super panas, abu dan gas menyebar hingga 43 mil dari lokasi letusan. Sekitar 37 mil kubik partikel halus yang tersebar di tahap kedua.

Secara keseluruhan, letusan super tersebut mencakup area seluas lebih dari 1,1 juta mil persegi. Abu paling tebal dan besar berada di Macedonia modern, Bulgaria dan Rumania, di area Mediterania timur lapisan  setebal 4 inci.

Letusan besar juga menyuntikkan aerosol dalam jumlah besar ke stratosfer, menyebabkan “musim dingin vulkanik”  dengan efek pendinginan hingga 16,2 derajat Fahrenheit (9 derajat Celcius) di Eropa Timur dan Asia Utara.

Suhu turun sekitar 7,2 derajat Fahrenheit (4 derajat Celcius) di Eropa Barat, dan 1.8 – 3,6 derajat Fahrenheit (1-2 derajat Celcius) secara global.

“Efek tersebut bahkan lebih kuat ketika musim dingin vulkanik terjadi selama periode glasial (musim dingin di zaman es), Peristiwa Heinrich Event 4 (fenomena alam di mana kesatuan besar gunung es terpecah dari gletser dan mengalir melintasi Atlantik Utara), yang sudah ditandai dengan kondisi dan iklim ekstrim,” kata Costa.

Peristiwa bencana, namun, tidak bertanggung jawab atas kematian Neanderthal.

“Musim dingin vulkanik tidak akan cukup untuk memicu perubahan dramatis pada populasi Eropa Upper Palaeolithic  pada skala yang lebih besar,” tulis para peneliti.

Namun, abu dan pecahan-pecahan batu dari letusan mengurangi area yang tersedia untuk pemukiman manusia di Eropa hingga 30 persen. Para peneliti menghitung sekitar 10 tahun yang diperlukan untuk pemulihan ekosistem di sebagian besar daerah yang jauh dari sumber.

“Ada kemungkinan bahwa manusia modern akan tertarik membangun kembali area yang tertutupi ini daripada melanjutkan penyebaran ke arah barat, memungkinkan kelangsungan hidup Neanderthal lebih lama di Eropa selata-barat,” tulis mereka.

Populasi Neanderthal bertahan di Eropa selatan dengan baik setelah letusan dahsyat dari Phlegraean Fields. (ran)

Share

Video Popular