Oleh: CNA Tokyo

Jepang sebagai satu-satunya negara yang memberikan santunan asuransi bagi tenaga kerja mereka  yang meninggal dunia karena kelelahan bekerja (Karoshi) terus mengalami kenaikan jumlah kematian.

Reuters memberitakan bahwa seorang pelamar kerja di Jepang sekarang ini akan memperoleh tawaran sebanyak 1.28 lowongan dari pemberi kerja. Kebutuhan tenaga kerja yang mencapai rekor tertinggi sejak 1991 dan memberikan peluang bagi Perdana Menteri Shinzo Abe untuk memperbaiki kinerja ekonominya, justru meninggalkan konsekuensi serius karena lemahnya hukum atau peraturan ketenagakerjaan.

Menurut data laporan akhir Mei 2015  yang disajikan Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang bahwa, jumlah kematian para karoshi di Jepang dalam 1 tahun lalu sudah  mencapai 1.456 kasus, mencatatkan rekor tertinggi selama ini. Kasus-kasus kematian karoshi itu mayoritas berhubungan dengan bidang-bidang seperti teknik, transportasi, perawatan kesehatan dan pelayanan sosial yang memang sejak lama kekurangan tenaga kerja.

Ketua organisasi pembela karoshi Jepang, Defense Counsel for Victims of Karoshi pernah mengatakan, jumlah korban karoshi mungkin saja sudah 10 kali lipat dari angka yang disajikan sekarang. Itu dikarenakan pemerintah Jepang selama ini terus berusaha untuk menghindari pengakuan.

“Pemerintah Jepang hanya terbatas pada usaha menyelenggarakan forum diskusi, membuat poster propaganda. Untuk mengatasi masalah itu, sesungguhnya perlu dikonsentrasikan pada pengurangan jam kerja, perundangan yang menatur lebih dibutuhkan, tetapi itu tidak dilakukan pemerintah,” sebutnya.

Menghadapi kritikan ini, Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang tidak berkomentar.

Jepang saat ini tidak ada aturan jam kerja, namun Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang mengakui ada 2 hal yang memicu terjadinya karoshi yaitu gangguan pada kardiovaskuler yang timbul karena bekerja melampaui waktu, dan bunuh diri akibat  stress yang berhubungan dengan pekerjaan.

Data Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang juga menunjukkan, dalam 4 tahun terakhir, tenaga kerja yang bunuh diri mencapai 45 %, dan 39 % di antaranya adalah para pekerja wanita. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular