JAKARTA – Greenpeace Indonesia mengingatkan akan adanya bahaya mematikan jika pemerintah selalu memfokuskan pada pembangunan energi fosil seperti batu bara. Indonesia juga tak harus mencontoh kepada Tiongkok dan India yang kini terancam polusi udara akibat penggunaan batubara.

“Dengan ancaman mematikan perubahan iklim, kita tidak punya kemewahan waktu untuk berlama-lama menggunakan energi fosil yang kotor ke energi bersih terbarukan,” kata Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting dalam siaran pers di Jakarta, Senin (9/5/2016).

Menurut Longgena, pemerintah harus membuat target yang lebih ambisius dan membangun proses transisi yang adi luntuk segera beralih menuju energi bersih terbarukan. Hal demikian disampaikannya bersamaan desakan  Greenpeace yang tergabung bersamaWALHI dan JATAM agar pemerintah menghentikan ketergantungan kepada batubara.

Menurut Koalisi LSM ini, Indonesia seharusnya tidak meniru model pembangunan Tiongkok dan India. Apalagi dua negara yang saat ini harus menghadapi tingkat polusi udara yang sangat parah dan berbahaya bagi kesehatan rakyatnya karena ketergantungan dua negara tersebut yang sangat tinggi terhadap batubara.

Saat ini, Tiongkok dan India mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fosil yang kotor ini, karena kerugian sangat besar yang harus ditanggung rakyatnya akibat kebijakan energi mereka yang keliru.

Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia menghentikan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap energi kotor batubara, dan segera beralih ke sumber energi terbarukan yang bersih dan berkelanjutan. Rencana proyek listrik 35000 MW dimana sebagian besar menggunakan sumber energi batubara akan mengancam masa depan anak-anak Indonesia yang seharusnya bersih dan aman. (asr)

Share

Video Popular