- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Cara Bertahan dari Kiamat Menurut Ilmuwan

Dalam sekitar 500 juta tahun, para ilmuwan percaya manusia tidak akan lagi hidup di permukaan bumi, kondisi alam akhirnya akan menjadi begitu kejam yang bahkan kecoa juga tidak akan mampu bertahan.

Namun, mungkin masih ada beberapa harapan untuk penghuni bumi. Para peneliti telah menyarankan sejumlah metode untuk mencegah kiamat datang, dari mengubah orbit bumi dengan meluncurkan sebuah asteroid, sampai mentransfer kesadaran kita ke dalam mesin.

Astrofisikawan Columbia University, Michael Hahn dan Daniel Wolf Savin menjelaskan bagaimana kehidupan di bumi perlahan akan mulai menurun dalam sebuah esai berjudul “How to Survive Doomsday” diterbitkan di Nautilus.

Jika bumi menghindari sebuah peristiwa yang mengakhiri kehidupan, seperti kiamat nuklir yang merugikan diri sendiri atau kepunahan karena hantaman asteroid, para ilmuwan mengatakan manusia memiliki kurang dari 500 juta tahun yang tersisa di planet ini. Hal ini akan tiba sebelum planet bumi diprediksi akan ‘meleleh’ enam miliar tahun dari sekarang, ketika matahari membengkak menjadi raksasa merah.

Prediksi tersebut tampak muram, namun para peneliti mengatakan ada beberapa cara manusia berpotensi dapat menyelamatkan nasib planet kita. Satu ide tersebut adalah secara fisik memindahkan orbit bumi.

“Jika kita menembak asteroid berdiameter 100 km pada orbit elips yang melewati dekat dengan bumi setiap 5.000 tahun, kita bisa mendorong orbit planet secara gravitasional perlahan-lahan menjauh dari matahari, asalkan kita tidak dengan sengaja menghantam bumi,” tulis penulis.

Mereka juga menyarankan membangun sebuah layar surya raksasa, setidaknya 20 kali diameter bumi. Ini secara teoritis akan bekerja menyeret planet bumi menjauh dari matahari dengan berinteraksi dengan foton dari matahari dalam cara yang mirip dengan bagaimana layang-layang terbang di angin. Bumi akan tetap ‘tertambat’ layar surya oleh gravitasi.

“Strategi seperti ini bisa, pada prinsipnya, menjaga bumi di zona layak huni sampai matahari mengembang menjadi raksasa merah,” astrofisikawan menjelaskan.

Para penulis juga mengatakan manusia juga dapat memutuskan untuk meng-upload dirinya ke mesin.

“Metode ini saat ini jauh di luar jangkauan kemampuan kami, dan akan membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih maju serta pemahaman yang lebih dalam tentang ilmu saraf,” ungkap para ilmuwan.

Namun, mereka mengatakan ide beralih ke pengganti robot secara fundamental adalah layak. Melakukan hal ini akan menjadi tidak mudah, dan mereka mengatakan bahwa kemungkinan bisa mengetahuinya membutuhkan beberapa ratus juta tahun ke depan.

bencana kiamat [1]
Dalam film “The Road” tahun 2009, digambarkan di atas, bumi telah berubah menjadi gurun pasca apokaliptik, akibat penyebab yang tak terhitung. Iklim telah berubah secara dramatis, dan hampir semua kehidupan telah disapu bersih. Film ini berdasarkan novel karya Cormac McCarthy.

Peneliti menghitung kejatuhan manusia berdasarkan orbit bumi. Saat matahari tumbuh lebih cerah pada tingkat sekitar 10 persen setiap miliar tahun, bumi akan merespon dengan menurunkan sendiri ‘selimut pemanasan’ karbon dioksida atmosfer.

Dengan sedikit karbon dioksida, tanaman akhirnya semua mati, dan oksigen tidak akan terisi ulang. Seiring waktu, suhu bumi secara dramatis akan meningkat juga. Hewan besar akan menjadi yang pertama untuk mati, dan setelah kira-kira 1,5 miliar tahun, bahkan kutub akan terlalu panas untuk mempertahankan kehidupan non mikroba.

Wahyu dalam Alkitab memperingatkan adanya ancaman mematikan pada bumi

Menurut laporan ”Global Catastrophic Risks 2016”, ancaman terbesar umat manusia harus siap untuk perubahan iklim yang terkait dengan banyak bencana, pandemi (penyakit) alami dan perang nuklir. Ini semua terdaftar sebagai prioritas tinggi dan memiliki kemungkinan tertinggi terjadi di lima tahun ke depan.

Namun, ancaman lain dari luar akibat ulah manusia termasuk pandemi dari patogen buatan manusia, kegagalan proyek geo-engineering, dan gangguan bencana akibat kecerdasan buatan manusia.

Bencana perubahan iklim menimbulkan resiko yang tinggi karena efek kumulatif dari meningkatnya kadar karbon dioksida, putaran umpan balik dalam siklus karbon, serta kurangnya tindakan dan investasi keuangan.

Laporan tersebut menyatakan tentang perlunya masyarakat internasional dalam mengambil tindakan untuk menghindari batas atas dari perubahan suhu global, yang bisa berdampak buruk pada ketahanan pangan dan kehidupan manusia.

Demikian menurut hasil pemikiran para ilmuwan yang senantiasa berusaha mengantisipasi bencana kiamat dengan membuat temuan-temuan baru yang berbasis hasil pemikiran, hingga tak terasa bumi dan lingkungan semakin mengalami kerusakan dari waktu ke waktu.

Selama ini, apa yang telah diperbuat oleh hasil penemuan iptek seolah-olah telah memecahkan permasalahan yang ditemukan saat itu, namun dampak dari hasil rekayasa iptek baru diketahui setelah sekian puluh tahun kemudian, lalu berusaha mencari solusi dengan merekayasanya kembali, dan dampak hasil rekayasa baru ditemukan lagi setelah sekian puluh tahun lagi, demikian secara berulang-ulang terjadi akumulasi dampak dari hasil rekayasa pada upaya pengelolaan alam,  namun pada akhirnya manusia juga yang harus menanggung akibat dari rekayasa hasil olah pikir manusia sendiri.

Berbeda dengan iptek, dalam ‘wahyu’ kitab suci apa yang akan terjadi telah dapat diprediksi dan memberikan isyarat-isyarat untuk dapat menghindari setiap bencana yang terjadi.

Mungkin sudah saatnya berpikir dari sudut pandang ‘wahyu’ yang tertulis pada kitab suci untuk senantiasa mengasah hati nurani dan pentingnya peningkatan moralitas manusia sebagai poros utama penggerak sirkulasi alam  agar berjalan dengan baik. Dengan memikirkan setiap satuan mata rantai mesin penggerak sirkulasi dengan benar maka perputarannya berjalan dengan lancar dan seimbang, sehingga alam dan seisinya kembali menemukan vitalitasnya dan memberikan umpan balik yang baik kepada manusia dalam mempertahankan kehidupannya.

Manusia sebagai makhluk yang dipercaya oleh Tuhan untuk menjaga kelestarian alam, hanya perlu memperhatikan tugasnya masing-masing, memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan apakah sudah benar dalam memerankan peranannya, dan hal itu membutuhkan kesadaran yang tinggi. Dan tidak ada yang bisa merubah kesadaran pada hati seseorang kecuali orang itu sendiri. (ran)