Oleh: Lin Yan

National Aeronautics and Space Administration (NASA) untuk pertama kalinya secara langsung mendeteksi perubahan tajam dari medan magnetik bumi, dan membuat simulasi animasi, menunjukkan suatu fenomena cuaca antariksa yang tak terlihat yakni badai geomagnetik.

Dengan menggunakan empat unit satelit MMS untuk mendeteksi medan magnet, NASA menangkap adanya perubahan tajam (atau disebut “ledakan”) medan megnetik bumi di angkasa. Satelit MMS yang digunakan itu adalah instrumen magnetosfer multiskala yang diluncurkan ke angkasa pada Maret 2015 lalu.

Oleh para ilmuwan, fenomena ledakan medan magnet itu disebut “rekoneksi magnetic.” Hal ini melibatkan garis-garis medan magnetik yang datang bersama, terpisah dan terkoneksi lagi untuk bergerak dalam arah berbeda, melepas sejumlah energi yang besar dalam proses itu.

“Rekoneksi magnetik tersebut adalah penyebab utama dari badai geomagnetic,” kata imuwan.

Dalam tayangan video yang dibuat NASA, ledakan medan magnet bumi dan sangat mirip dengan ledakan pada umumnya, tiba-tiba seberkas cahaya putih, dan melepaskan energi ke sekelilingnya.

Rekoneksi magnetic memicu terjadinya badai geomagnetic, medan magnet meledak, dan melepaskan sejumlah besar energi. (Dikutip dari animasi NASA)
Rekoneksi magnetic memicu terjadinya badai geomagnetic, medan magnet meledak, dan melepaskan sejumlah besar energi. (Dikutip dari animasi NASA)

“Kami mengamati terjadinya rekoneksi magnetik, meneliti suatu kekuatan dasar di alam,” ujar Jim Burch, peneliti utama dalam misi MMS, seperti dilansir dari NASA, Jumat (13/5/2016).

Medan magnet adalah suatu materi yang umum ditemui, seperti misalnya besi magnet, ponsel pintar, loudspeaker atau pengeras suara, dan di area sekitar pasti ada medan magnet, hanya saja tidak kasat mata. Di sekeliling bumi, matahari, atau planet lainnya memiliki medan magnet dengan intensitas yang berbeda. Menurut para ilmuwan, bahwa prisip rekoneksi menyebabkan berbagai perubahan pada matahari, misalnya solar flare/ semburan matahari, coronal mass ejections dan aurora yang indah di dua kutub bumi.

Medan magnet bumi penuh dengan perubahan.(NASA/Goddard/Conceptual Image Lab)
Medan magnet bumi penuh dengan perubahan.(NASA/Goddard/Conceptual Image Lab)

“Hanya dengan melihat data dari MMS ini saja sudah menakjubkan. Dan level yang detail itu memungkinkan kita melihat hal-hal yang sebelumnya masih kabur,” ujar Profesor James Drake yang menjadi bagian tim sains MMS dan penasihat tim insinyur di instrumentasi MMS, seperti dilansir laman Daily Mail, Kamis (12/5/2016).

Dengan waktu interval tiga detik, melihat rekoneksi dengan Cluster II itu mustahil. Tapi dengan kualitas data MMS, ini sangat menginspirasi.

“Tidak jelas apakah akan ada lagi misi seperti ini,” papar Drake.

Menurutnya pengamatan rekoneksi magnetik secara detail itu merupakan tonggak sejarah penting dalam dunia sains.

“Para ilmuwan berharap pengamatan lebih lanjut dari rekoneksi magnetik, untuk lebih memahami fenomena astronomi. Dengan memahami rekoneksi ini sesuai dengan berbagai pertanyaan sains tentang fisika dan astrofisika,” kata Dr Marc Swisdak, peneliti riset yang berkolaborasi dalam analisis data MMS.

Menurutnya ujung dari medan magnetik Bumi merupakan sebuah laboratorium tes yang luar biasa, karena ia satu-satunya tempat di mana kita dapat terbang secara langsung melintasi wilayah di mana rekoneksi itu terjadi. (Epochtimes/joni/rmat)

 

Share

Video Popular