Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping menyambut gembira kedatangan Wakil Ketua Politbiro Partai Buruh Korea Utara, Ri Su-yong, Rabu (1/6/2016) kemarin di Beijing.

Ri Su-yong dan delegasinya berkunjung ke Tiongkok untuk melaporkan hasil keputusan Kongres Ketujuh Partai Buruh yang baru selesai diselenggarakan di Pyongyangh bulan lalu. Ri juga membawa salam lisan dari Kim Jong-un kepada Xi Jinping serta sebuah pesan harapan Kim untuk mempererat hubungan kerjasama kedua negara.

Xi Jinping mengatakan bahwa pendirian Tiongkok terhadap isu Semenanjung Korea masih konsisten dan jelas.

“Kami berharap kepada pihak-pihak yang terkait untuk menahan diri, memperkuat komunikasi serta dialog agar stabilitas regional bisa terjaga,” kata Xi.

Tiongkok dan Korea Utara sudah lama bersekutu dan menjalin hubungan dagang yang cukup erat. Namun sejak Xi Jinping berkuasa, hubungan kedua negara itu mulai membeku. Keretakan itu makin dirasakan setelah grup musik Moranbong Band batal melakukan pertunjukan di Beijing tahun lalu.

Beijing mendukung Dewan PBB untuk mengeterapkan sanksi berat kepada Korut karena uji coba nuklir dan peluncuran roket yang jelas membuat Korut tidak senang hati. Baru-baru ini, sejumlah staf restoran Korea Utara di Tiongkok melarikan diri dan membelot ke Korea Selatan.

Di hari yang sama dengan Re mengunjungi Beijing, Korea Utara meluncurkan lagi sebuah rudal jenis Musudan ke perairan semenanjung. Meskipun uji coba tersebut berakhir dengan kegagalan karena roket sudah meledak di udara hanya beberapa detik setelah peluncuran. Namun kegagalan yang terjadi berturut-turut membuat AS, Korea Selatan dan negara lainnya mengadakan evaluasi kembali tentang teknologi rudal Korut.

Sejak Tiongkok yang dipimpin Xi Jinping terus mendesak rezim Pyongyang untuk meninggalkan program senjata nuklir dan menghentikan uji coba rudal balistik. Apa yang terjadi pada 31 Mei itu memberikan sinyal bahwa rezim Pyongyang lebih menghendaki ‘Ya Dialog Ya Nuklir.’

Media Chosun Ilbo memberitakan bahwa alasan kunjungan Ri ke Beijing dari permukaan tampaknya bertujuan untuk melaporkan hasil Kongres Ketuju kepada negara sekutu. Tetapi beberapa analis beranggapan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk membahas rencana kunjungan Kim Jong-un ke Beijing dan untuk merundingkan soal cara mengatasi masalah sanksi yang diterapkan kepada Korut. Kedua kepala negara itu belum pernah saling berkunjung maupun bertemu muka selama ini.

Baru-baru ini, Korea Utara mengutus Ketua Permanen Majelis Rakyat Korea Utara, Kim Yong-nam, Wakil Ketua Komite Sentral Partai Buruh Kim Yong-chol, Re Su-Yong masing-masing ke Republik Guinea Khatulistiwa. Republik Kuba dan Republik Rakyat Tiongkok. Menunjukkan bahwa sanksi internasional sudah memberikan dampak buruk bagi rezim Kim Jong-un.

Sejak Korea Utara mengabaikan peringatan Dewan PBB daan berulang kali melakukan uji coba rudal. Para wakil dari AS, Jepang dan Korea Selatan mengadakan pembicaraan trilateral di Tokyo untuk membahas respon terhadap tindakan Korut itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular