Erabaru.net. Saat sakit langungsung pergi ke dokter, tapi tahukah Anda,ada kalanya banyak orang yang menakut-nakuti diri mereka sendiri, begitu sakit lalu periksa sembarang dokter, selain membuang-buang uang, juga belum tentu bisa baik (sembuh).

Saat ini, berbagai rumah sakit besar mengingatkan bahwa beberapa gejala penyakit berikut ini tidak perlu diobati.

Wasir

Seperti kata pepatah, “ada sembilan di antara sepuluh orang yang menderita wasir”, menurut survei, kelompok orang yang berusia 25 tahun ke atas, 70% – 80% menderita wasir, sementara kelompok usia 40 tahun – 50 tahun, ada 90%-nya yang menderita wasir. Pada umumnya, mereka yang punya gejala sembelit atau sulit BAB, frekuensi BAB terlalu sering atau jarang, dan mereka yang suka duduk lama di satu tempat, cenderung rentan memicu terjadinya wasir. Gejala wasir terutama pendarahan pada anus, prolaps, nyeri, sensasi benda asing di anus.

Wasir bukanlah suatu penyakit melainkan perubahan pada bantalan pembuluh darah di daerah anus, jadi sama sekali tidak perlu diobati selama tidak ada gejalanya sehari-hari. Hanya pada saat terjadi pendarahan usai BAB, benjolan tergantung di luar anus, gatal-gatal di sekitar anus, nyeri dan gejala lain, barulah bisa dikatakan penyakit. Dan baru perlu ditangani dokter jika memang sudah mempengaruhi aktivitas (pekerjaan), gangguan pada keseharian Anda, kata Liang Jin-jun, direktur bidang proktologi di Guangzhou Hospital of Traditional Chinese, Tiongkok.

Gastritis kronik superfisial

Gastritis kronik superficial adalah gangguan pencernaan, selama Anda menjalani pemeriksaan gastroscopy di rumah sakit, hampir selalu didiagnosis sebagai “Gastritis kronik superficial”.

Menurut keterangan dokter Bai Yang, wakil direktur di Departemen Gastroenterology Rumah Sakit Nan Fang, Southern Medical University, Tiongkok, sebenarnya cukup banyak gastritis kronik superficial itu bukanlah penyakit, tapi karena disfungsi pencernaan atau non-ulcer dyspepsia, jadi sama sekali tidak perlu diobati. Jika terjadi penggembungan (kembung) seusai makan, dan gangguan pencernaan, sebaiknya makan tablet multi enzim, atau berbagai probiotik, maka gejala itu dapat diatasi.

Premature contraction (detak jantung yang terjadi lebih dini dari normal)

Banyak orang yang mengira, bahwa jika terjadi premature contraction (detak jantung yang terjadi lebih dini dari normal) atau palpitasi jantung yang berdebar itu harus segera diobati, sebenarnya, premature contraction itu sendiri bukanlah penyakit, tapi sebagian besar karena gejala yang mengiringi masalah jantung lainnya

Pan Hongtao, wakil direktur Departemen Kardiologi di The Fourth Hospital of Jilin University, Tiongkok, mengatakan bahwa jika premature contraction itu adalah hasil medical check up, penderita tidak merasakan apa-apa, dan tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari, maka tidak perlu diobati.

Hanya pada saat premature contraction itu terasa kentara, dan mempengaruhi aktivitas-kehidupan sehari-hari, maka hal ini bisa ditangani dengan Antiarrhythmic agents/drugs (obat antiaritmik) di bawah petunjuk dokter.

Eye floaters

Seiring dengan bertambahnya usia, banyak orang yang akan mengalami floaters, yakni bayangan warna hitam yang terlihat oleh mata dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bisa berbentuk garis-garis atau seperti jaring di depan mata. Tapi mata itu sendiri tidak merasa perih atau merah, dan tidak memengaruhi penglihatan.

Eye floaters terjadi karena penuaan atau adanya endapan atau kondensasi (pengembunan) di dalam selai mata yang seperti kaca (vitreous jelly of the eye), ditambah lagi dengan penggunaan mata (melihat/menatap) berlebihan (terlalu lama), atau disebabkan oleh mata yang lelah. Biasanya setelah menginjak usia 40 tahun, Floater pada mata biasa menunjukkan terjadinya gangguan pada bagian retina mata. Benda kecil yang berterbangan ini bisa terjadi dikarenakan adanya penggumpalan cairan di dalam badan kaca (Aquos Humor). Memang kelihatannya benda yang berterbangan itu ada di depan kita, namun sebenarnya ia ada di belakang atau tepatnya di dalam mata kita, kata Xu Hui fang, wakil presiden bidang Ophthalmology di The People’s Hospital of Ningxia, Tiongkok.

Sebenarnya, sebagian besar eye floaters itu bersifat fisiologis, tidak mempengaruhi fungsi penglihatan, dan tidak perlu diobati. Selama perawatan yang wajar, dan perlahan-lahan menyesuaikan penglihatan, atau cukup diabaikan saja floaters (bayangan bintik hitam) ini.

Erosi serviks/ Sariawan di mulut rahim

Erosi serviks sebelumnya dianggap sebagai penyakit, namun, dalam beberapa tahun terakhir komunitas medis baru menyadari, bahwa erosi serviks itu sebenarnya merupakan fenomena fisiologis normal. Secara Internasional, nama atau istilah “erosi serviks” ini telah dibatalkan, diganti dengan istilah yang sekarang dikenal sebagai cervical ectropion(pengikisan leher rahim)

Wanita yang memasuki usia reproduksi, estrogennya meningkat, suatu jaringan epitel yang awalnya terdapat di dalam kanal serviks/leher rahim meluas ke luar leher rahim, sekilas terlihat seperti “erosi”, tapi sebenarnya itu bukanlah penyakit, melainkan fenomena fisiologis normal, hampir setiap wanita akan mengalaminya, hanya saja tingkatan tidak sama.

Erosi serviks merupakan suatu fenomena perubahan fisiologis yang normal bagi kaum perempuan, tidak bisa disebut penyakit, sebagian besar hal itu dipengaruhi oleh hormon wanita, dan kondisi yang disebut erosi serviks itu akan membaik setelah kadar hormonnya stabil, demikian keterangan dokter kepala bidang Gynaecology di Peking Union Medical College Hospital, Tiongkok.

Uterine fibroid (pertumbuhan non-kanker dari jaringan otot rahim)

Bagi wanita di masa usia subur, uterine fibroids adalah suatu kanker ginekologi yang sangat umum, tumor ini jinak, yang merupakan suatu penyakit hormonal dependent (tergantung hormone), tingkat kejadian bisanya meningkat seiring bertambahnya usia, dan dalam keadaan normal akan menyusut/mengecil seiring dengan turunnya estrogen setelah menopause.

Mereka yang mengetahui adanya uterine fibroid (tumor jinak yang terbentuk di dalam uterus/rahim ), dimana jika tidak ada gejala, umumnya tidak perlu melakukan operasi, cukup lakukan pemeriksaan secara berkala.

Dokter kepala bidang genekologi di Wuhan University Renmin Hospital, Tiongkok, mengatakan, jika fibroidnya relatif kecil, penderita juga tidak menunjukkan gejala yang menonjol, dan fibroid juga tidak menunjukkan tanda-tanda menjadi ganas, maka cukup lakukan pemeriksaan secara berkala. Namun, jika ukuran tumor rahim tunggal itu berdiameter lebih dari 5cm, tergolong dalam kondisi serius, maka sebaiknya segera lakukan operasi.

Hiperplasia payudara

Selama pemeriksaan, sebanyak 8 di antara 10 wanita itu mengalami hiperplasia payudara (suatu kondisi dimana sel-sel dalam payudara tumbuh secara abnormal (berlebihan), sebenarnya, sebagian besar hyperplasia payudara ini sama sekali tidak perlu diobati.

Secara medis, ada beberapa hiperplasia payudara itu tergolong fenomena fisiologis normal. Misalnya, hiperplasia payudara yang disebabkan oleh menstruasi, sebelum menstruasi, kaum wanita akan merasa tidak nyaman pada payudaranya, terasa kembung disertai dengan rasa sakit, tapi rasa sakit karena kembung itu akan hilang setelah masa menstruasi ; di samping itu, pakaian dalam yang terlalu ketat, suasana hati yang labil tidak menentu, stres dan semacamnya itu juga dapat menyebabkan hiperplasia payudara jangka pendek.

Menurut keterangan dokter kepala spesialis kanker payudara di Third Affiliated Hospital of Zhengzhou University, Tiongkok, hiperplasia payudara adalah lesi jinak, tidak ada terapi pengobatan khusus, sangat jarang akan berkembang menjadi kanker payudara, cukup lakukan pemeriksaan berulang secara teartur.

Selama menjaga suasana hati yang rileks dan nyaman setiap hari, kurangi atau hindari makanan yang mengandung hormon, dan gigih berolahraga bisa secara efektif menekan timbulnya hiperplasia payudara.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular