JAKARTA – Analisis baru mengungkapkan jangkauan kebakaran di dalam dan di sekitar konsesi kelapa sawit milik grup IOI di Indonesia. Temuan tersebut telah dipublikasikan Greenpeace Internasional bersamaan dengan pertemuan organisasi minyak sawit berkelanjutan atau Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Milan, Eropa.

Lembaga pemangku kebijakan sawit global atau RSPO pada kesempatan itu menangguhkan keanggotaan perusahaan kelapa sawit IOI Malaysia pada Maret 2016. Keputusan ini ditetapkan karena telah  terbukti melanggar kriteria RSPO, salah satunya adalah pembukaan lahan gambut, dan isu-isu lainnya. Sejak penangguhan keanggotaan IOI oleh RSPO, banyak perusahaan pembeli mengakhiri kontraknya dengan perusahaan ini.

IOI merespon situasi tersebut dengan melayangkan gugatan terhadap RSPO, dimana dia juga termasuk anggota pendirinya. Empat hari menjelang pertemuan RSPO di Eropa IOI menarik gugatan tersebut. Sekarang IOI sedang mendorong pencabutan penangguhan keanggotaan RSPO.

Investigasi Greenpeace menyingkap bukti baru bahwa dampak deforestasi dan pengeringan lahan gambut yang dilakukan IOI  ternyata lebih besar dari apa yang ada dalam komplain RSPO yang menjadi alasan penangguhan keanggotaan IOI dari RSPO.

Greenpeace menyerukan kepada IOI untuk melindungi dan merestorasi lanskap yang terdampak di kawasan pemasoknya, dan RSPO seharusnya tetap menangguhkan sertifikat keberlanjutan hingga permintaan tersebut dilakukan.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Annisa Rahmawati, mengatakan selama beberapa minggu terakhir, IOI telah berhenti menggertak balik RSPO. Namun janji-janji kosong dan komitmen yang lemah tidak akan bisa menghentikan kebakaran di Indonesia.

“RSPO tidak perlu mempertimbangkan untuk merangkul IOI kembali  hingga perusahaan mampu membuktikan usahanya dalam mengatasi kekacauan yang telah dilakukannya,” ujar Annisa dalam siaran persnya dikutip Minggu (12/6/2016).

Laporan Greenpeace meliputi data pada tingkat kerusakan di area yang didominasi oleh konsesi IOI di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat. Tahun lalu, kebakaran mengerikan telah menghancurkan hutan, lahan gambut dan habitat Orangutan. Analisis terbaru menunjukkan lebih dari 30% dari 214.000 hektar lanskap lahan gambut di Ketapang ini telah terbakar pada tahun 2015, yang mengakibatkan krisis kabut asap regional.

IOI adalah pemilik lahan terbesar di lanskap ini, memegang lebih dari 30% total wilayah di bawah konsesi-konsesinya. Dalam beberapa tahun ini, IOI telah membangun banyak jaringan kanal yang terlihat jelas dengan citra satelit. Kanal tersebut telah mengeringkan lahan gambut yang mengakibatkan lebih mudah terbakar-menyebabkan degradasi, penurunan dan peningkatan risiko kebakaran di hutan gambut dan konsesi-konsesi lain di sekitarnya.

Deforestasi dan pengeringan lahan gambut yang dilakukan IOI juga berkontribusi pada serangkaian kebakaran di konsesi PT BBS. Pada tahun 2014, sebanyak 50% lahan konsesi terbakar, kemudian pada tahun 2015, banyak lahan di areal yang sama terbakar kembali.

Menurut Greenpeace, pada tahun 2015 pemerintah telah memerintahkan perusahaan untuk membendung kanal dan memulihkan area yang terbakar ke kondisi alaminya. Baru-baru ini, tim peneliti Greenpeace telah mendokumentasikan aliran deras dari kanal pengeringan dan penanaman kelapa sawit di lahan terbakar. (asr)

Share

Video Popular