JAKARTA – Menyambut peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2016, Lentera Anak mengingatkan bahwa jumlah perokok pemula di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Faktor yang menyebabkan peningkatan ini adalah peraturan yang longgar terkait pengendalian tembakau hingga menyentuh lingkungan sekolah.

“Akses anak terhadap rokok menjadi mudah karena murahnya harga rokok di Indonesia dan maraknya penjualan rokok kepada anak-anak di hampir semua tempat, bahkan ke warung-warung dekat sekolah,” ujar Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari dalam siaran persnya, Rabu (20/7/2016).

Lisda menilai industri rokok dengan sengaja membidik pasar anak muda dengan maraknya iklan rokok yang menampilkan gaya hidup remaja. Lisda mengutip data dari  Global Youth Tobacco Survey {GYTS} bahwa ada 60,7 persen anak-anak yang melihat iklan promosi rokok di toko-toko, ada 62,7 persen anak yang melihat iklan rokok di TV, video, dan film, serta ada 7,9 persen anak-anak yang mengaku pernah ditawari rokok oleh penjual rokok.

Lebih lanjut Lisda menegaskan, bahwa sisi yang menakutkan dari rokok adalah rokok merupakan bahaya laten karena lamanya dampak yang dirasakan sejak anak mulai merokok dan akhirnya ketagihan, hingga kemudian menderita penyakit.

“Anak-anak kita yang saat ini sudah merokok sejak usia 10 tahun bisa dipastikan akan menjadi generasi muda yang sakit-sakitan 15 tahun kemudian,” tegasnya.

Lisda juga menyorot persoalan konsumsi tembakau yang sudah menjadi epidemi global. Menurut Lisda, faktor ini disebabkan karena penyebaran epidemi tembakau difasilitasi sejumlah faktor yang kompleks dengan efek lintas batas, yakni faktor perdagangan bebas, investasi asing secara langsung dan pemasaran global, serta iklan, promosi, dan sponsor tembakau yang bersifat lintas-negara. Indonesia, tegas dia, sebagai negara dengan aturan pengendalian tembakau yang masih sangat longgar, membuat anak-anak Indonesia rentan dijadikan target pemasaran industri rokok.

Karena itu Lisda berharap, perayaan Hari Anak Nasional 2016, yang diperingati pada tanggal 23 Juli mendatang, bisa menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah Indonesia untuk segera memberikan perlindungan menyeluruh dari dampak konsumsi rokok kepada seluruh anak Indonesia.

“Seperti halnya jutaan anak di 180 negara yang sudah mendapat perlindungan dari pemerintahnya, anak-anak di Indonesia juga sangat berhak mendapat perlindungan menyeluruh dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi akibat konsumsi dan dampak paparan asap rokok. Jangan tunda lagi! Aksesi FCTC pada peringatan Hari Anak Nasional 2016 ini akan menjadi kado yang sangat indah bagi seluruh anak Indonesia,” pungkas Lisda. (asr)

Share

Video Popular