Oleh: Lin Yan

Albert Einstein, salah satu ilmuwan terbesar, yang mencetuskan “Teori Relativitas,” tidak hanya mengubah konsep ruang-waktu para komunitas ilmiah, bahkan mempengaruhi konsep filosofi kosmik abad ke 20.

Hebatnya, percobaan sains yang dilakukan ilmuwan besar ini bukan di laboratoriumnya tapi dalam pikirannya.

Melansir laman “Business Insider,” percobaan pemikiran yang dilakukan Einstein ini seperti percobaan melampaui kecepatan cahayanya yang terkenal itu, tidak bisa dilakukan di laboratorium, hanya bisa melalui pemikiran dan analisis.

Percobaan melampaui kecepatan cahaya

Saat berusia 16 tahun, Einstein mulai berpikir apa yang akan terjadi jika mengejar/ melampaui seberkas cahaya dalam ruang. Jika bisa mengejar/ melampaui cahaya, ini berarti cahaya dalam ruang itu seperti membeku. Namun, cahaya tidak bisa dibekukan. Dengan demikian, kecepatan cahaya tidak akan melambat, tapi tetap melaju/bergerak dengan kecepatan cahaya. Jadi, meskipun bisa melampaui cahaya, pengamat akan mendapati bahwa kecepatan cahaya itu konstan, yang berubah adalah sesuatu yang lain, misalnya waktu.

“Percobaan melampaui kecepatan cahaya” Einstein menjadi dasar teori relativitas khususnya.

Percobaan kereta-Ruang-waktu bisa berubah

Jika seseorang berdiri di atas kereta, sementara temannya berdiri di atas permukaan tanah, seberkas cahaya menyinari bagian ujung kereta, maka temannya juga bisa melihat cahaya dalam waktu yang sama. Namun, orang yang berdiri di atas kereta itu justru merasa cahaya itu sudah muncul lebih dulu dari arah kereta yang maju.

Menurut Einstein bahwa perbedaan yang terlihat di kereta atau di permukaan tanah itu menjelaskan bahwasanya ruang-waktu itu relatif, bisa berubah, percobaan ini sekaligus membangun fondasi dari teori relativitas khususnya.

Dalam sejarahnya, tidak sedikit pengungsi yang berkontribusi besar dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, politik, olahraga dan bidang-bidang lainnya, salah satu diantaranya termasuk fisikawan besar, Albert Einstein. (Wikipedia)
Dalam sejarahnya, tidak sedikit pengungsi yang berkontribusi besar dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, politik, olahraga dan bidang-bidang lainnya, salah satu diantaranya termasuk fisikawan besar, Albert Einstein. (Wikipedia)

Percobaan kotak hitam

Einstein membayangkan sebuah kotak hitam yang mengambang di udara, sementara seseorang berdiri di dalamnya, dan karena ia tidak bisa melihat suasana di luar, sehingga hanya bisa menyimpulkannya dari perubahan gerakan di dalam kotak tersebut.

Tiba-tiba, orang ini jatuh ke satu sisi di dalam kotak, lalu bagaimana menentukannya apakah disebabkan dari kotak itu sendiri atau akibat dari faktor eksternal. Menurut Einstein, bahwa tidak peduli apapun sebabnya, akibat dari manifestasi itu sama, jadi di bawah pertimbangan ruang-waktu yang bisa berubah, sebab terjadinya berat pada benda terkait itu dapat dijelaskan sebagai fenomena berat yang disebabkan oleh perubahan ruang. Dan Logika ini kemudian digunakan oleh Einstein untuk membentuk teori relativitas umum.

Pada Juni 2016 lalu, efek melengkung ruang-waktu (gelombang gravitasi yang diprediksi Einstein) dari Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory-LIGO sekali lagi menegaskan, bahwa teori relativitas umum yang menggambarkan tentang perubahan ruang-waktu yang dipublikasikan pada 1916 silam itu memang benar.

Gelombang gravitasi lubang hitam ganda yang digambarkan ilmuwan berdasarkan teori relativitas umum Einstein.(Henze/NASA)
Gelombang gravitasi lubang hitam ganda yang digambarkan ilmuwan berdasarkan teori relativitas umum Einstein.(Henze/NASA)

Mendobrak bingkai pengetahuan empiris.

Ilmu pengetahuan modern adalah pengetahuan empiris. Pengetahuan empiris hanya mengakui fenomena yang diamati itu memiliki makna atas penelitian ilmiah, tidak peduli apakah berupa hipotesa atau uji hipotesis, semuanya ini hanya dapat didasarkan pada fenomena yang diamati. Dan ditegaskan, bahwa metode percobaan pemikiran yang digunakan Einstein ini bukan “pengamatan, hipotesis, eksprimen” seperti yang disebut pengetahuan empiris modern.

Apa yang dilakukan Einstein ini tidak sama dengan persyaratan ilmu pengetahuan empiris, karena itu, ia menjadi bahan ejekan dan mendapat perlakuan yang diskriminatif dari segenap komunitas ilmiah ketika mencetuskan teori relativitas-nya pada satu abad silam, hanya beberapa ilmuwan rasional yang dominan seperti James Clerk Maxwell dan lainnya merasakan arti praktis dari pemikiran Einstein. Teori yang didapat dari metode non-empiris juga bisa menggambarkan alam semesta ini.

Albert Einstein pernah mengatakan, “Pada prinsipnya, jika mencoba membangun teori itu hanya mengandalkan observable (objek yang dapat dilihat), itu sepenuhnya keliru.” (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular