Seorang pria berusia 29 tahun bermarga Wang saat sedang berada di depan ruang bedah menunggui istrinya yang sedang melahirkan dengan cara caesar di Rumah Sakit Hunnan, Shenyang pada Selasa (9/8/2016) sore. Tiba-tiba dipanggil oleh petugas medis untuk menjalani bedah wasir.

Saat Wang mengenang kembali kejadian yang ia alami pada saat itu, ia juga merasa “tidak habis pikir”.

Wang menuturkan bahwa sekitar pukul 1:30 sore pada Senin (8/8/2016) itu, istrinya yang hendak melahirkan dengan caesar didorong masuk ruang bedah yang berada di lantai 5 gedung rumah sakit.  Ia lanjut bercerita.

Saya baru tahu kalau ruang bedah itu merupakan satu-satunya ruang bedah rumah sakit tersebut. Di dalamnya ada sebuah ruang bedah yang kapasitas lebih besar daripada yang satunya lagi. Ruang yang lebih besar itu yang akan digunakan oleh istri saya untuk menjalani caesar. Sedangkan ruang bedah yang lebih kecil pada saat itu sedang dipersiapkan untuk pembedahan wasir. Tetapi pada saat itu saya sama sekali tidak tahu soal keadaan khusus ruang bedah itu.

Setelah istri saya didorong masuk ke ruang bedah itu saya duduk di bangku tunggu yang tersedia di luar ruang. Di saat-saat itu saya tidak melihat seorang pun petugas medis atau pasien yang keluar masuk kamar bedah. Dan kalau tidak salah ingat, hanya saya sendiri yang berada di ruang tunggu itu.

Di dalam penantian yang penuh dengan kecemasan itu, saya juga tak tahu pikiran sempat melayang sampai ke mana.

Sekitar 40 menit kemudian, seorang petugas medis membuka pintu keluar dari dalam kamar bedah melambaikan tangan memanggil saya. Petugas tersebut mengucapkan sesuatu dan mempersilakan saya masuk ke dalam kamar, meskipun saya tak mendengar dengan jelas apa yang ia katakan itu karena suaranya kecil. saya menduga bungkin operasi caesar sudah selesai dan petugas medis memanggil saya untuk suatu keperluan.

Sesampainya di dalam, saya baru tahu kalau istri saya tidak berada dalam ruang bedah itu, tetapi yang aneh justru petugas medis meminta saya untuk melepas celana yang saya pakai. Saya heran lalu bertanya kepada mereka, mengapa seluruh celana yang dikenakan harus dilepas?

Petugas medis yang memang banyak beban pekerjaan itu hanya menjawab singkat,  Ya, minta dilepas, dilepas sajalah. Saat itu saya sungguh bingung, ‘menunggu kelahiran anak mengapa  harus melepas celana ?

Yang membuat saya bertambah bingung kemudian adalah petugas medis meminta saya naik dan berbaring di meja operasi.  Saat  itu sampat timbul dalam pikiran, Apakah istri naik meja operasi sang suami  juga harus ikut naik meja operasi ? Aneh !

Mungkin saja itu jadi pertanyaan karena wawasan pengetahuan saya yang sempit. Ya sudahlah ! saat ini mau bertanya kepada orang lain juga kurang enak dan memalukan. Begitulah pikiran saya yang tiba-tiba muncul untuk membenarkan. Setelah itu saya jadi mengikuti saja apa yang diminta oleh petugas medis di depan saya.

Sampai entah berapa lama kemudian petugas medis mengijinkan saya turun dari meja bedah itu saya baru sadar bahwa saya baru selesai menjalani pembedahan wasir !

Wang menuturkan, tak lama setelah itu, petugas medis menghubungi ibu mertua saya melalui sambungan telepon untuk menyampaikan bahwa operasi wasir sudah selesai dengan hasil yang memuaskan. Percakapan itu membuat ibu mertua saya bingung tidak karuan.

“Menantu saya bukannya sedang menunggui putri saya melahirkan dengan caesar, mengapa jadi dia yang dioperasi wasirnya? Apakah menantu saya itu berpenyakit wasir? Tidak pernah terdengar ia berpenyakit wasir selama ini.”

Di saat Wang sedang berbaring di atas  meja operasi itulah ia mendengar suara tangisan bayi, ia merasa begitu senang dan ingin langsung turun dari meja. “Tetapi rasa nyeri di bibir dubur bercampur sakit baru  saya rasakan setelah kaki menginjak lantai. Bahkan untuk melangkah saja saya tak kuat dan sakitnya juga makin menjadi-jadi, mungkin itu disebabkan karena efek anestesi lokal yang mulai pudar .

Melihat istri dan anak dalam kondisi selamat, Wang tentu bergembira meskipun tak habis dipikir, bagaimana dirinya yang sehat visa dijadikan pasien bedah wasir? Saya harus menuntut pihak rumah sakit untuk memberikan pertanggungjawaban atas masalah ini.

Pihak rumah sakit dalam tanggapannya menjelaskan bahwa memang benar pihaknya telah membuat kekeliruan sehingga saya dikira adalah pasien yang hendak menjalani bedah wasir. Pihak rumah sakit bersedia memberikan kompensasi atas kesalahan mereka sekaligus sebagai ‘uang tutup mulut’ senilai RMB. 5.000 (+/- Rp 10 juta).

Wartawan melihat, di atas papan keterangan pasien yang tergantung di tempat pembaringan Wang dalam kamar rumah sakit tertera tulisan : Diagnosa : Wasir. Tanggal Masuk Rumah Sakit : 8 Agustus 2016.

Menanggapi hal ini, Wang hanya bisa berkomentar dengan suara lirih, “Saya sendiri dan keluarga pun tidak ada yang tahu kalau saya berwasir.

Mungkin sifat lugu dan terlampau jujur dari Wang itulah menyebabkan komunikasi tidak berjalan sempurna dan kesalahpahaman terjadi. Tetapi bagaimanapun juga pihak rumah sakit juga teledor dalam menentukan pasiennya. Demikian komentar keluarga Wang dan teman-temannya.

Sedangkan pihak rumah sakit berpendapat bahwa kedua belah pihak sama-sama melakukan kesalahan. Mengapa ‘pasien’ pada saat itu tidak ‘bersuara’ sehingga membiarkan kesalahan berkembang lebih jauh?

Setelah kejadian salah pasien bedah itu terjadi, sejumlah kerabat Wang mendatangi rumah sakit untuk meminta pertanggungjawaban. Negosiasi antar keluarga dengan pihak rumah sakit berjalan dari 8 Agustus sampai keesokan harinya. Kemudian, pihak rumah sakit berjanji akan memberikan jawaban pada jam 14:00 setelah dirapatkan terlebih dulu. tetapi menjelang jam 14:00 tiba, rumah sakit mengabarkan bahwa jawaban terpaksa ditunda.

Pihak rumah sakit tetap mengaku bersalah meskipun itu tidak sepihak. Tetapi dalam memperlakukan Wang sebagai pasien, pihak rumah sakit telah menjalankan pembedahan sesuai dengan prosedur bedah wasir yang berlaku.

Penjelasan bagian hukum pihak rumah sakit menyebutkan bahwa mengapa kedua belah pihak dinyatakan bersalah karena Wang adalah seorang dewasa yang memiliki kapasitas untuk melakukan pertimbangan, sehingga tidak begitu saja menerima kesalahan yang dibuat oleh pihak lain.  Misalkan saja katanya, Anda pergi ke ATM untuk mengambil uang, tetapi mesin ATM tiba-tiba memuntahkan sejumlah uang tanpa Anda operasikan. Nah ! Jika Anda mengambil uang-uang itu, maka Anda akan terkena sanksi hukum.

Dalam penjelasannya kemudian, mereka mengatakan bahwa Wang memang memiliki wasir, lagi pula pasca pembedahan juga tidak sampai menimbulkan konsekuensi yang merugikan pasien bersangkutan.

Sampai saat ini Wang masih berada di tempat pembaringan rumah sakit menanti pemulihan, ia kecewa karena ingin hati memeluk istri tetapi apa daya tangan tak sampai. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share
Tag: Kategori: BERITA TIONGKOK

Video Popular